Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Jaden yang Baik


__ADS_3

Leo tampak aneh melihat wajah Nara. "Kami dari tadi duduk dan makan di sini, Nara. Kamu saja yang tadi berjalan dengan mengomel sendiri, sampai tidak sadar melihat ada kami di sini. Kamu baik-baik saja, Kan?"


"A-aku baik-baik saja, Mas Leo." Nara nyengir kuda.


"Apa kamu mau makan dengan kita di sini?" tanya Leo.


Nara baru ingat dia, kan, disuruh membawa makanan untuk Jaden. "Em ... aku nanti saja makannya. Tuan JL menyuruhku menyiapkan makan malam untuknya dan membawakan ke dalam kamar."


"Oh ... jadi kamu mau membawakan makanan untuk Tuan Jaden. Nara, ini juga obat untuk Tuan Jaden dari dokter Will. Ini untuk menghilangkan rasa sakit." Leo mengeluarkan sebungkus obat dari kantong celananya.


"Terima kasih Mas Leo. Kalau begitu kalian lanjutkan saja makannnya."


Nara menyiapkan semangkuk sup dan teh hangat untuk Tuan JLnya.


"Nara, masakan kamu semuanya enak. Terima kasih," ucap Leo dengan diiringi senyuman.


Entah kenapa hati Nara terasa sejuk melihat senyuman dari Leo.


"Iya mbak Nara terima kasih. Masakan mbak Nara enak," puji salah satu pengawal Jaden.


"Kalian jangan memanggilku mbak, panggil saja aku Nara. Usiaku, kan, lebih muda dari kalian semua Paman Pengawal."


"Okay!" seru mereka serentak.


Nara izin pergi ke kamar Jaden untuk mengantarkan makanan malam.


Jaden sedang duduk dengan tangan memegang tablet miliknya.


Detak jantung Nara seketika berdetak cepat melihat pria yang sama sekali tidak ada di hatinya itu, bahkan tidak ada perasaan apapun, tapi kenapa dia seakan gelisah sendiri?


"Tuan JL, ini makan malamnya." Nara meletakkan baki berkaki dengan ada semangkuk sup dan segelas teh hangat.


Kedua alis Jaden mengkerut melihat apa yang ada di depannya. Lalu, dia melihat pada Nara yang akan keluar dari kamarnya.


"Kamu mau ke mana?"

__ADS_1


Langkah Nara seketika terhenti dan menoleh pada Jaden. "Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kamu, kan Tuan? Aku mau makan malam juga dengan Mas Leo dan para pengawal lainnya di pantry."


"Siapa yang menyuruh kamu makan malam di sana? Suapi aku, tangan aku sakit."


"Bukannya tadi dia bisa makan sendiri," gerutu Nara.


"Jangan menggerutu. Cepat ke sini dan suapi aku!" titahnya.


"Iya." Nara berjalan menuju ranjang Jaden dan duduk di depannya.


"Apa kamu lapar?" Nara menggeleng pelan. "Kalau lapar bawa makanan kamu ke sini dan kita makan bersama seperti tadi. Jujur saja aku tidak betah makan sendirian apalagi di dalam kamar seperti ini. Aku tidak pernah melakukannya."


"Tapi kamu memang harus di dalam kamar sampai keadaan kamu membaik." Nara menyuapi Jaden dengan pelan-pelan.


"Nara, kenapa kamu tidak mengatakan pada teman kamu yang bernama Paijo itu kalau kamu aku sekap di sini? Kenapa kamu malah berbohong dan mengatakan jika kamu ikut orang bekerja?"


Nara agak kaget, kenapa ini Jaden tau dia pernah berbicara dengan Paijo di telepon.


"Soal itu ...." Nara bingung dan takut, dia melihat dengan gelisah pada Jaden.


"Maaf, waktu itu aku sedang kesepian dan jujur saja aku merindukan sahabat baikku itu. Sebelum kamu menculikku, aku memiliki masalah sama dia, padahal dia sangat baik sama aku."


"Sangat baik sama kamu? Memangnya apa yang sudah dia lakukan sama kamu, dan apa benar kalian hanya sekadar sahabat?" Mata Jaden menelisik.


"Hanya dia teman di sekolah yang suka membantuku jika aku kesulitan dalam pelajaran. Dia juga tiap hari yang menjemputku serta mengantarkan aku pulang sekolah. Pamanku hanya memberikan uang saku sangat kurang, untuk naik angkutan umum saja pasti tidak cukup, kalau jalan kaki jarak sekolah ke rumah lumayan jauh. Uang saku yang paman beri selama ini aku selalu tabung."


"Dia sebaik itu sama kamu, tapi apa dia tidak memiliki perasaan apapun denganmu?"


Nara menggeleng beberapa kali. "Jo memang sangat baik denganku. Dia itu tidak menyukaiku dan aku juga tidak memiliki perasaan apapun dengannya karena kita benar-benar hanya sahabat yang seperti saudara."


"Itu tidak mungkin, Nara. Kamu jangan terlalu polos jadi seorang gadis. Seorang pria yang rela berkorban seperti apa yang dilakukan Jo kepada kamu, pasti dia diam-diam memiliki perasaan spesial sama kamu."


Nara malah tertawa mendengar ucapan Jaden. "Kamu salah, Jo tidak menyukai aku karena dia sangat mencintai Rachel, Rachel itu sahabat dari Mona anak dari pamanku."


"Dasar gadis lugu."

__ADS_1


"Aku memang benar, lagian kamu mau tau tentang perasaan cinta, kamu saja sampai sekarang belum menikah. Bukankan pria seusia kamu seharusnya sudah menikah dan memiliki keluarga?"


"Aku tidak membutuhkan seorang istri. Bukankah ada kamu yang akan selalu melayaniku."


Nara sekali lagi terdiam mendengar apa yang dikatakan Jaden. "Tapi aku bukan istrimu, dan tidak mungkin aku menjadi pelayan kamu kalau nanti kamu sudah menjualku ke luar negeri," ucap Nara sambil menundukkan kepalanya.


"Gadis Bodoh! Siapa yang mau menjual kamu ke luar negeri? Memangnya kamu mau aku jual ke luar negeri?"


Nara seketika mengangkat kepala dan melihat dengan mata seolah ada bintangnya. "Tuan serius tidak akan menjualku ke luar negeri untuk menjadi wanita penghibur di sana?"


"Kalau aku mau menjual kamu, sudah dari awal aku menjualmu saat baru menculik kamu, Nara. Kamu mempunyai pikiran dari mana?"


"Maaf, sebenarnya tadi aku mendengar pembicaraan kamu dan Mas Leo saat aku akan ke sini tadi. Aku kira kamu akan menjualku karena aku sering membangkang."


"Mungkin hal itu bisa terjadi kalau aku memang kesal dengan sikap keras kepala dan pembangkang kamu."


"Aku akan berusaha untuk menurut sama kamu, asal jangan menjualku."


"Gadis baik."


"Tuan Jaden, ini obatnya dari Mas Leo, katanya obat ini dari pak dokter dan Tuan Jaden harus meminumnya agar tidak sering merasakan sakit pada punggung dan kaki Tuan JL."


"Iya, nanti aku akan meminumnya. Sebenarnya malas sekali aku minum obat. Aku lebih baik disuntik saja daripada harus minum obat."


"Kalau tidak mau minum nanti tidak akan sembuh sakitnya. Memangnya Tuan JL mau di kamar terus? Bosan, kan berada di sini?"


"Cerewet. Mana obatnya." Nara menyerahkan obat ke tangan Jaden dan Nara mengambilkan air minum yang sudah tersedia di sana.


Nara melihat Jaden susah sekali mau minum obat saja. "Tinggal minum saja, Tuan JL."


"Aku tau, tapi ini pasti rasanya tidak enak."


"Semua obat memang pahit, tapi bisa membuat kita sembuh."


Nara gemas melihat pria dengan postur tinggi besar dan sangar, tapi sama obat yang bentuknya kecil saja malah takut.

__ADS_1


"Memangnya waktu kecil kamu tidak pernah minum obat? Kalau sakit kamu pasti diberi obat sama ibu kamu."


__ADS_2