
Jaden menyuruh Renata pulang saja dan membiarkan Jaden malam ini yang akan menunggui Nenek di sana.
"Aku akan menunggu Nenek di sini. Terserah kamu memperbolehkan apa tidak. Aku tidak mau jauh dari Nenek." Paksa Renata.
"Renata, kamu sudah sangat baik, tapi aku tidak bisa membalas kebaikan kamu. Mungkin lebih baik kamu kembali ke Kanada saja dan tidak perlu merepotkan kamu di sini."
Renata samar menggenggam erat tangannya menahan amarah karen Jaden malah menyuruhnya kembali ke Kanada.
"Aku tulus melakukan hal ini, Jaden. Aku tidak mengharapkan kamu mau menikah denganku walaupun aku ingin sekali membuat kamu tidak sedih dengan memikirkan Nara terus."
"Aku sudah katakan beberapa kali jika aku tidak sedih atau tersiksa dengan perselingkuhan Nara."
"Jaden, Renata hanya bersikap peduli sama kamu." Nenek malah tampak marah pada Jaden.
"Aku tau, Nek, tapi aku hanya mengingatkan saja."
Mereka tidak melanjutkan perdebatan. Jaden izin pergi ke kantin rumah sakit sebentar untuk membeli minuman hangat.
"Sebaiknya kamu ajak Renata juga. Renata pasti ingin juga membeli sesuatu."
"Kalau dia mau ikut aku juga tidak akan melarangnya." Jaden berjalan pergi dari sana dan nenek menyuruh Renata mengikutinya.
Di kantin yang memang masih buka itu, Jaden sedang duduk menikmati lemon tea hangatnya. Renata yang tidak melepaskan Jaden ikut duduk tepat di depan Jaden dengan segelas kopi panasnya.
Jaden duduk dengan bersandar dan melihat Renata datar. "Apa kamu mencintaiku, Renata?"
"Aku menyukai kamu dari kita masih kecil dulu. Bagiku, kamu pria yang unik dan entah kenapa aku sangat menyukai kamu. Apa salah jika aku menyukai kamu?"
"Tidak salah. Aku tidak akan menyalahkan orang yang jatuh cinta padaku, tapi yang membuat aku tidak dapat menyukai kamu karena aku adalah suami Nara dan aku masih sangat mencintai Nara." Jaden perlahan menyeruput lemon tea hangatnya.
"Apa? Kamu mencintai, Nara? Apa kamu sudah mengingat semuanya?" Renata tampak terkejut.
Jaden menaikkan salah satu alisnya. "Kenapa wajah kamu seperti itu? Apa yang kamu takutkan jika aku sudah mengingat masa laluku?"
"Aku tidak takut apapun. Aku hanya terkejut saja jika kamu sudah ingat dengan masa lalu kamu, kenapa kamu tidak membawa Nara kembali denganmu?"
__ADS_1
Jaden terdiam sejenak. Dia tidak mau terpancing mengatakan jika Nara sudah tinggal bersamanya. "Aku berharap ingat dengan masa laluku." Jaden beranjak pergi dari sana.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku ada urusan sebentar. Jika Nenek mencariku, katakan saja jika aku nanti akan segera datang."
Jaden berjalan dengan langkah besarnya pergi dari gedung rumah sakit.
Renata menghubungi seseorang dan mengatakan jika Jaden keluar dari rumah sakit dan menyuruh orang itu mengikuti ke mana Jaden pergi.
Jaden dengan beberapa orang pengawalnya menuju ke suatu tempat di mana di ingin mencari tau sesuatu.
Sesampai di sana. Jaden memberi isyarat kepada beberapa pengawalnya untuk melakukan sesuatu.
"Hentikan musiknya dan kalian semua bisa keluar dari tempat ini jika kalian ingin tetap hidup."
Seketika orang-orang di sana berhamburan keluar, bahkan para pelayan di sana juga ikut keluar.
"Tuan, siapa kamu? Dan apa yang kamu lakukan dengan club malam milikku?" Pria paruh baya dengan gaya rapinya tampak bingung dengan apa yang dilakukan oleh Jaden.
Jaden duduk di kursi kebanggan sang pemilik cafe itu dan pria itu berdiri dengan wajah cemas karena ditodongkan sebuah pistol di kepalanya oleh salah satu pengawal Jaden.
"Aku tidak tau apa maksud kamu?"
"Tidak tau?" Jaden melihat pada pengawal yang menodongkan senjata tepat di wajah pria itu.
Dor!
Suara tembakan membuat bisik di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Terdengar juga jeritan kesakitan seseorang di sana. Bau anyir pun menyeruak di ruangan itu.
"Kenapa kamu menembakku? Aku mengatakan hal sebenarnya jika aku tidak tau siapa yang menyuruhku menghapusnya. Dia menawariku dengan jumlah uang yang banyak agar aku menghapusnya. Tentu saja aku mau karena aku tidak peduli akan hal itu."
"Hal itu sangat penting bagiku, bodoh! Apa kamu sudah melihat isi rekaman itu?"
"Aku sama sekali tidak melihatnya. Bahkan pria yang memberikan aku uang pun aku tidak tau dia bentuknya seperti apa karena aku hanya dihubungkan dengan salah satu pengawalnya.
__ADS_1
"Pengawal?" Jaden tampak sedang memikirkan sesuatu. "Apa dia salah satu dari musuhku? Tapi siapa? Aku saja mendapat kabar dari Leo jika Damian masih di dalam penjara."
Jaden beranjak pergi dari sana. Dia mengendarai mobilnya sendiri. Jaden merasa ada seseorang yang mengikuti ke mana arah mobilnya berjalan.
"Mau bermain denganku?" Jaden menancap gas mobilnya dan pergi dari sana. Pria dengan motor besarnya yang mengikuti Jaden pun ikut menancap gasnya mengejar Jaden.
Terjadi aksi saling kejar-kejaran di jalanan yang semakin malam semakin tampak sepi. Hingga akhirnya Jaden dapat lolos dari pengawasan si mata-mata itu.
"Di mana dia?" Pria di atas motornya tampak kesal karena kehilangan jejak Jaden, sedangkan Jaden tampak tersenyum senang bisa lolos dari orang yang mengikutinya.
"Hari ini aku tidak mau menyiksa orang. Aku akan menari tau dengan caraku," dialog Jaden sendirian.
Sebenarnya Jaden ingat dengan kata-kata Nara agar tidak menyiksa orang karena dia sedang hamil.
Jaden berjalan di jalan saat dia mengalami kecelakaan yang membuat dia kehilangan ingatannya. Jaden mengawasi tempat itu.
"Ada kamera CCTV di sini."
Jaden segera menemui salah satu pengurus CCTV malam itu juga di tempatnya.
Jaden mengatakan ingin melihat kejadian pada saat dirinya mengalami kecelakaan itu.
"Bukannya pihak berwajib sudah melihat rekaman itu dan kecelakaan yang terjadi memang karena murni kecelakaan tunggal?"
"Aku tau, tapi aku hanya ingin melihat saja."
Rekaman itu diperlihatkan pada Jaden dan Jaden mengawasi dengan fokus setiap kejadian di dalam rekaman itu.
"Berhenti sebentar. Tolong kamu perbesar foto ini." Jaden menunjuk sebuah gambar yang sebenarnya tidak terlalu jelas.
Gambar mobil mewah berwarna hitam yang Jaden ketahui adalah milik Jacob adiknya. Kenapa ada di sana?
"Ini bukannya mobil Jacob? Kenapa ada mobil Jacob di sana? Apa yang dia lakukan?" Jaden tampak sangat heran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Jaden mencoba memperjelas lagi gambar itu. Dia benar-benar yakin sekarang jika mobil itu memang benar mobil milik Jacob.
__ADS_1
"Sejak kapan Jacob membawa mobilnya ke sini?" Jaden semakin bingung.
Jaden tidak tau jika beberapa bulan yang lalu Jacob tinggal di sebuah apartemen mewah di mana dia jadikan tempat untuk bertemu dengan Renata, dan dia mengirim serta mobil kesayangannya yang dibelikan oleh Carlos--ayahnya ke apartemen tempat tinggalnya.