
Malam itu tampak dua orang yang tidak memiliki hubungan apapun tampak tidur dengan nyenyak. Bahkan Nara sekarang posisinya memeluk tubuh Jaden yang lengan tangannya digunakan untuk menyangga kepala Nara.
"Nara, bangun," samar terdengar suara panggilan yang berhasil membuat Nara ter
bangun dari tidurnya.
Gadis itu perlahan membuka kedua matanya. "Kenapa membangunkan aku pagi-pagi? Aku masih sangat mengantuk," ucapnya tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
Nara mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, tapi tidak ada orang hanya dia merasakan tangannya memegang sesuatu yang agak keras.
Nara terkejut saat menoleh ke samping, tampak dada bidang seseorang, dan perlahan kepalanya mendongak ke atas melihat siapa yang dia peluk.
"Tuan Jaden! Kenapa aku memeluknya?" Nara seketika menjauhkan tubuhnya dari Jaden. Dia memeriksa di balik selimut.
"Huft! Aku masih memakai baju lengkap. Tapi kenapa Tuan begitu dekat denganku? Bukannya aku menjauhkan diriku darinya?" Nara mendekat sekali lagi mengamati wajah Jaden dari bawah. Dia curiga jika Tuannya itu sudah bangun dan suara yang memanggilnya tadi adalah suara Jaden.
"Masih tidur? Lalu, siapa yang membangunkan aku tadi?" Nara kembali berpikir sejenak. "Ah ...! Kenapa aku malah memikirkan hal itu? Siapa tau suara itu tadi sengaja membangunkan aku supaya aku tidak kebablasan dengan Tuan Jaden.
Tiba-tiba tangan Jaden yang dikira Nara tidur dari tadi menarik tubuh Nara dan terjadi lagi ciuman antara dua bibir yang tidak diinginkan oleh Nara.
"Selamat pagi. Kamu berisik sekali pagi-pagi begini."
"Tuan ...!" Nara mendorong tubuh Jaden, tapi tubuhnya yang malah menjauh. "Kenapa menciumku lagi?" ucapnya kesal
"Biar kamu tidak berisik pagi-pagi. Apa kamu tau semalam aku tidur larut dan kamu pagi-pagi sudah mengomel di dekatku."
Nara melepasakan tangan Jaden dan tanpa banyak bicara dia turun dari ranjang Jaden dan keluar dari kamar pria itu dengan marah-marah.
Pria yang menjadi kekesalan Nara malah tersenyum senang dan melanjutkan tidurnya.
Nara yang berada di kamar mandinya segera mencuci muka bahkan mengusap-usap bibirnya yang baru saja dicium oleh Jaden.
"Pria itu lama-lama menyebalkan! Aku ini seperti pelayan yang juga menjadi teman tidur majikannya saja. Kenapa juga aku mau menemani dia tidur di satu ranjang?"
Beberapa menit kemudian Nara keluar dari kamarnya, dan dia agak kaget melihat ada mba Sandra dan Leo yang sudah ada di ruang tengah.
__ADS_1
"Pagi, Nara," sapa Leo.
"Mas Leo, Mba Sandra? Kalian kok bisa barengan datang?"
"Iya, tadi dokter Will menghubungiku untuk menjemput Sandra di rumahnya karena mobil Sandra masih di bengkel."
"Oh! Tuan Jaden sudah bangun tadi saat aku meninggalkannya untuk mandi."
"Kamu baru dari kamar Tuan Jaden?"
"Em ... Iya, tadi aku bangun tidur ke kamar Tuan untuk melihat apa dia butuh bantuan aku, tapi ternyata dia tidak membutuhkan bantuanku. Aku memutuskan untuk mandi saja terus memasak." Nara nyengir. Dia hampir saja ketahuan jika dia sebenarnya tidur satu kamar dengan Jaden.
"Nara, masak apa hari ini? Aku sengaja tidak makan di luar karena ingin makan masakan kamu."
"Aku belum masak Mas Leo, tapi aku akan buatkan makanan yang cepat untuk di sajikan. Mas Leon duduk saja sebentar dan masakannya akan segera siap."
"Aku akan membantu kamu kalau begitu."
"Kalian akrab sekali. Apa kalian berdua ada hubungan?" celetuk Sandra yang melihat Nara tampak sumringah saat bicara dengan Leo.
Dua orang itu seketika melihat ke arah Sandra. "Mba Sandra, aku dan Mas Leo tidak ada hubungan apa-apa, tapi aku akui Mas Leo ini sosok pria yang baik. Andai aku punya kakak laki-laki, aku ingin dia seperti Mas Leo." Nara menjatuhkan pandangannya pada Leo, dan pria charming itu memberikan Nara senyumannya.
Nara mengangguk perlahan. "Kalau begitu aku akan ikut Mba Sandra ke kamar Tuan Jaden."
"Leo, kamu di sini saja dulu. Katanya kamu mau membantu Nara memasak."
Leo agak terkejut. Lalu, Sandra melihat pada Nara seolah memberi kode. "Mas Leo di sini saja dulu, temani aku memasak biar aku ada temannya untuk mengobrol."
"Ya sudah kalau begitu."
"Terima kasih, Ya Leo." Leo mengangguk.
Sandra berjalan dengan senangnya menuju kamar Jaden. Nara yang melihat merasakan ada yang mengganggu dihatinya, tapi dia tidak tau apa itu?
"Nara." Nara tidak merespon panggilan Leo. Dia sepertinya sedang melamun sesuatu. "Nara, kamu melamun apa?"
__ADS_1
"Mas Leo, ada apa?" Nara agak kaget dengan tepukan Leo tepat di pundaknya.
"Kamu melamun apa, Nara? Dan sepertinya ada sesuatu antara kamu dan Mba Sandra?" Leo memandang curiga pada Nara.
"Mas Leo, menurut Mas Leo apa mba Sandra itu cocok sama Tuan Jaden?"
"Maksud kamu? Cocok dalam hal apa ini?"
"Maksud aku cocok tidak kalau mereka menjadi sepasang kekasih?"
"Hah? Tuan Jaden berpacaran dengan Mba Sandra?" Leo tampak terkejut.
"Iya, kenapa Mas Leo terkejut seperti itu? Ada yang salah?"
Leo tampak terdiam sejenak. "Mereka tidak pantas, Nara. Mba Sandra bukan wanita tipe dari Tuan Jaden."
"Benarkah? Memangnya tipe Tuan JL seperti apa? Bukannya Mba Sandra cantik, memiliki tubuh yang indah, apalagi dia seorang ahli terapis yang profesional."
"Kalau hanya cantik dan memiliki penampilan menarik, banyak wanita seperti itu bisa di dapatkan Tuan Jaden. Bahkan Tuan Jaden dengan mudah mendapatkan wanita di atas Mba Sandra."
"Lalu, kriteria Tuan JL itu yang bagaimana Mas Leo?" tanya Nara tampak penasaran.
Leo melihat Nara dengan kedua mata menyipit. "Kamu kenapa tertarik sekali mengetahui tipe Tuan Jaden?"
"Aku kasihan sama Tuan JL yang di usianya yang seharusnya sudah memiliki keluarga, tapi dia malah masih sendiri. Apalagi kemarin aku mendengar Tuan JL bicara dengan neneknya, dan neneknya ingin dia segera menikah."
"Nenek Tuan Jaden memang ingin Tuan Jaden segera menikah, tapi begitulah Tuan Jaden, tidak ada yang bisa memaksanya."
"Lalu, apa dulu Tuan JL sama sekali tidak pernah memiliki kekasih? Tidak mungkin dia tidak punya kekasih. Dia normalkan?"
Leo malah terkekeh mendengar ucapan Nara. "Jangan pernah meragukan ke jantanan Tuan Jaden, kalau dia mendengar ucapan kamu itu, kamu bisa-bisa di lempar ke kandang buaya peliharaannya."
Nara seketika menutup mulutnya dengan tangan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan bilang pada Tuan JL tentang ucapan aku barusan ya, Mas Leo."
__ADS_1
"Tidak akan aku bilang, asal kamu mau membuatkan aku masakan yang lezat pagi ini."
"Setuju."