
Wanita itu tampak terlihat sedih memandang wajah bayi laki-lakinya. Perawat yang melihat hal itu menjadi kasihan.
"Maaf, suami Ibu di mana?"
Wanita itu mengusap air matanya yang keluar dari kelopak mata cantiknya. "Suamiku sedang koma di rumah sakit, Sus. Di dunia ini aku hanya memiliki putraku ini sekarang."
"Ya Tuhan! Apa Ibu punya tempat tinggal?" Wanita itu menggeleng perlahan. "Lalu, setelah ini Ibu mau tinggal di mana?"
"Saya tidak tau, Sus. Saya akan mencari kerja dan mencari tempat tinggal."
"Maaf, keluarga suami atau Ibu sendiri di mana?"
"Mereka tidak peduli padaku dan bayiku. Bahkan keluarga suamiku yang menyebabkan suamiku sampai terbaring koma saat ini." Seketika air mata wanita itu mengalir dengan derasnya.
"Ibu kalau mau tinggal di belakang klinik ini, tapi Ibu bisa bekerja juga di sini untuk bersih-bersih. Bagaimana?"
Wanita itu tampak berpikir sejenak. Dia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk dapat membuat dirinya dan bayinya aman dalam beberapa bulan ke depan.
"Saya mau kalau begitu."
"Baiklah! Mulai sekarang Ibu dan anak Ibu bisa tinggal di sana. Ada beberapa barang yang bisa Ibu pakai di sana."
"Terima kasih. Maaf, nama suster siapa?"
"Nama saya Mira. Nama Ibu siapa?"
"Saya, Rena."
"Ibu Rena. Maaf apa Ibu sudah memilihkan nama untuk putra Ibu?"
"Sudah, Sus. Nama putraku ini Vero Jackuel Thomson. Itu nama yang pernah diberikan ayahnya sebelum ayahnya koma.
"Nama yang bagus. Nanti saya akan bantu Ibu pindah ke rumah itu." Wanita itu mengangguk pelan dan suster itu pergi meninggalkan wanita itu sendirian karena dia masih harus mengurusi pasien lainnya.
Wanita itu bangkit dari tempat tidurnya dan duduk bersandar pada tepi ranjangnya. Dia menggendong perlahan putranya itu.
"Jacob, andai kamu tau jika putramu telah lahir dengan selamat dan sehat. Suatu hari nanti aku akan membawanya padamu dan kamu pasti akan senang melihatnya."
"Vero, jika kamu kelak dewasa kamu harus tau betapa menderitanya ibu dan ayah kamu akibat ulah kakak angkat ayah kamu yang gila akan kekuasaan."
Wanita itu ternyata Renata yang memilih mengasingkan diri karena pasti orang-orang Jaden mencarinya. Dia melahirkan anak dari kekasih yang sangat dia cintai, yaitu Jacob. Jacob sudah tau jika Renata hamil anaknya dan dia sangat bahagia.
__ADS_1
Hari-hari di lalui Renata hidup dalam kesederhanaan. Renata bekerja membersihkan klinik sehingga dia bisa membesarkan Vero--putranya.
Vero tumbuh menjadi bocah laki-laki yang pendiam, tapi dia sangat suka membantu Ibunya.
"Vero, kamu kenapa? Kenapa baju kamu kotor semua?" tanya Renata pada putra kecilnya yang pulang sekolah dengan baju yang kotor.
"Aku habis bertengkar dengan temanku."
"Apa? Bertengkar? Kenapa bertengkar?" tanya Renata dengan wajah kesalnya.
Bocah laki-laki yang sekarang usianya menginjak enam tahun itu terdiam di tempatnya.
"Vero, ibu tanya sama kamu? Kenapa kamu berkelahi?" Dia menarik-narik baju putranya dengan marah.
"Dia menghinaku karena aku tidak pernah diantar ke sekolah oleh ayahku setiap hari Sabtu saat anak-anak lain pergi ke sekolah di hari Sabtu," ucapnya sambil terisak.
Renata yang mendengarnya langsung terdiam, kemudian dia memeluk putranya dengan erat.
"Kamu memiliki ayah, Vero. Namun, ayah kamu masih belum bisa kita temui sekarang. Suatu hari nanti kamu pasti akan melihat ayah kamu."
"Benar Bu?"
"Benar. Vero, kalau ada yang menghina kamu lagi, kamu jangan sungkan untuk memukulnya sampai dia tidak berani menghina kamu lagi." Renata memberi tatapan tajam pada putranya.
Di rumah besar nan mewah itu, tampak banyak sekali mainan berserakan di mana-mana. Para maid di sana sedang sibuk menata dan membereskan mainan-mainan itu.
"Jangan dibereskan! Aku masih mau main." Wajah gadis kecil dengan rambut di kuncir dua itu tampak berdiri dengan muka kesal karena melihat mainannya sedang dibereskan oleh maid.
"Tapi ruangannya jadi berantakan, Nona Kecil. Ini juga sudah sore, jadi kita mau merapikan tempat ini," terang salah satu maid di sana.
"Mama ....!" teriak gadis kecil itu memanggil mamanya.
Nara yang baru saja turun dari kamarnya kaget mendengar teriakan putri kecilnya. Dia langsung berlari menghampiri putrinya itu. "Ya ampun! Ada apa, Denna?"
"Mama, aku tidak mau jika mainan aku dibereskan. Aku visa membereskan sendiri mainanku."
"Tapi ini sudah sore, Nona Kecil dan tugas kita seperti biasa membuat ruangan bersih sebelum pukul lima sore."
"Aku mau main sama ayah, Ma, makannya aku tidak mau mainan aku di bereskan."
"Baiklah! Kalau kamu tidak mau mainan kamu dibereskan, nanti selesai bermain dengan ayah kamu harus membereskannya sendiri karena bibi maid sudah lelah bekerja seharian."
__ADS_1
"Siap mamaku." Tangan gadis kecil itu malah memberi hormat pada mamanya.
"Bibi maid, biar nanti Denna yang membereskan mainannya sendiri. Kalau nanti tidak dibereskan, mainannya boleh bibi maid buang di tong sampah semua."
"Hah?" Kedua mata besar gadis kecil itu mendelik melihat pada mamanya.
"Itu resikonya. Denna paham?"
"Em ...!" Gadis kecil itu tampak berpikir sejenak. "Kalau mainan aku dibuang, itu berarti aku tidak punya mainan, tapi aku bisa mendapat mainan baru dari ayah." Wajah cantik nan lucu menggemaskan putri dari Jaden dan Nara tampak tersenyum senang.
"Hem!" Nara hanya bisa menghela napas panjangnya. Dia tau jika Denna pasti mengandalkan ayahnya yang sangat menyayanginya itu.
Tidak lama orang yang Denna tunggu datang ke rumah dan gadis kecil itu langsung berlari menghampiri ayahnya.
"Halo, Sayang." Jaden menggendong putri kecilnya itu dengan wajah bahagia.
"Halo, Ayah, halo uncle Leo," sapanya.
"Halo, keponakan uncle. Ini ada hadiah untuk kamu." Leo memberikan kue coklat dengan bentuk yang manis.
"Kue coklat! Terima kasih uncle Leo."
"Sama-sama."
"Mas Leo, kenapa membelikan Denna kue coklat?" ucap Nara agak kesal.
"Mama ini. Mama tenang saja karena setelah makan kue coklat yang diberikan uncle, aku akan menggosok gigiku dengan baik. Jadi, aku tidak akan sakit gigi." Denna meringis lucu memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi.
"Putrimu itu benar-benar--." Nara menepok jidatnya.
"Dia anak yang cerdas dan tau apa yang dia lakukan dan resikonya nanti."
"Ayah, mama mau membuang mainan aku."
"Kenapa dibuang? Apa mainan kamu rusak?"
Kepala gadis kecil itu menoleh ke kanan dan ke kiri beberapa kali. "Kalau aku tidak membereskan mainanku setelah bermain sama ayah. Mama akan membuang katanya."
"Ya sudah, kalau nanti dibuang oleh mama kamu, kita pergi ke toko mainan lagi untuk memberi yang baru. Setuju?"
"Setuju." Tangan Denna menepuk pada telapak tangan ayahnya.
__ADS_1
Nara melihat pada Leo dan Leo memberikan senyuman lebarnya pada Nara.