
Seperti biasa si pria dingin itu tidak menjawab malah langsung menarik tangan Nara dan menggandengnya menuju mobil.
"Selalu saja begitu," gerutu Nara.
Mereka kembali melakukan perjalanan yang agak jauh karena harus keluar dari tempat tinggal Jaden yang tidak ada dalam peta.
"Tuan, apa Tuan tidak capek sekarang harus mengemudi lagi? Dan tumben sekali tidak mengajak para pengawal dengan kita?"
"Aku bisa menangani semuanya, Nara. Hari ini aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan kamu tanpa adanya gangguan dari orang lain."
Nara tersenyum. "Aku senang jika kita bisa menjalani kehidupan seperti orang biasa pada umumnya, tidak ada pengawalan dan Tuan memakai baju santai serta ekspresi wajah Tuan yang menyenangkan seperti saat ini."
Jaden hanya tersenyum kecil. Tidak lama mereka sudah sampai di sebuah cafe minimalis yang sangat cantik, dengan dominasi warna hitam putih, dan terlihat nyaman.
"Wow!Tempat ini indah sekali, Tuan." Nara mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut bagian cafe itu."
"Memang cafe ini sangat indah, dan apa kamu ingin tau siapa pemilik cafe ini?"
"Siapa? Teman Tuan JL?"
"Kamu."
"Hah? A-aku? Maksud Tuan?" Nara antara percaya dan tidak dengan apa yang dia dengar.
Jaden menggandeng tangan Nara dan membawanya masuk lebih dalam dari cafe itu. Tepatnya di ruang kerja.
Ruangan dengan ukuran yang tidak terlalu besar, tapi tampak nyaman dan pastinya sangat pas dengan Nara yang mungil.
"Ini ruang kerja kamu, Nara. Bagaimana menurut pendapat kamu? Apa kamu suka?"
Nara masuk dan berjalan perlahan-lahan mengamati ruangan itu. Nara tampak terharu melihat ada foto dirinya yang diedit dengan sangat rapi. Nara memakai baju chef dan memegang spatula dengan senyum bahagianya.
Jade sebenarnya sudah menyiapkan semua ini sejak Nara terpatri dalam hatinya. Sejak saat itu pria dingin itu merencanakan ingin mewujudkan keinginan Nara menjadi chef di cafe atau restoran miliknya sendiri.
Jaden berharap suatu hari nanti hidup Nara akan lebih baik jika dia tidak bisa bersama dengan Nara. Gadisnya itu tidak perlu kembali pada pamannya. Nara bisa hidup lebih baik dengan usahanya sendiri.
Nara melihat pada Jaden kemudian dia berlari dan memeluk Tuan JLnya sambil menangis.
__ADS_1
"Hey! Kenapa menangis?" Jaden mengangkat wajah Nara dan mengusap lembut air matanya. Bukan Jaden banget ini. "Bukankan ini adalah salah satu cita-cita kamu. Kamu ingin menjadi chef dan memiliki sebuah cafe dengan kamu sendiri yang membuat makanan."
"Iya, tapi aku tidak menyangka akan bisa memiliki hal itu secepat ini, Tuan, dan itu semua karena kamu."
"Anggap saja ini semua kerja keras kamu sudah bekerja dengan baik di rumahku. Jadi ini imbalan yang kamu dapatkan."
"Ini bukan kerja kerasku di ranjang Tuan, Kan?" Nara bertanya dengan melirik perlahan pada Jaden.
"Bisa jadi," jawab Jaden singkat.
"Hah? Tidak mau! Aku bukan pelayan pemuas Tuannya."
"Aku tidak pernah menganggap kamu seperti itu, Nara. Eh, tapi ada satu lagi keinginan kamu yang ingin menjadi dokter. Kalau itu maaf aku tidak bisa mewujudkannya karena tidak mungkin aku membeli rumah sakit untuk kamu."
"Tuan ini, walaupun Tuan bisa membeli rumah sakit tetap saja aku tidak bisa menjadi tim medisnya di sana, aku tetap harus kuliah dulu sampai lulus dan mendapatkan ijazah
"Apa kamu mau kuliah, Nara?"
Nara agak kaget mendengar apa yang Jaden katakan. "Jujur saja aku mau kuliah, tapi bukannya Tuan tidak mau aku kuliah, kalau aku kuliah urusan di rumah bagaimana?"
Mereka mencari sebuah tempat makan, lalu mereka makan.pagi bersama. Nara tampak menyukai masakan di sana. Sedangkan Jaden hanya makan beberapa suap.
"Tuan kenapa? Apa Tuan tidak suka masakannya?"
"Aku menyukainya, Nara," jawab Jaden dengan lirih.
"Lalu, kenapa makannya seperti itu? Tau begitu kita makan saja di rumah, biar aku buatkan nasi goreng kesukaan, Tuan JL."
"Nara, bagaimana jika kamu menemukan orang yang sudah menyelamatkan kamu waktu kamu masih kecil dulu. Apa yang kamu lakukan?"
Nara seketika meletakkan sendok makannya dan melihat pada Jaden. " Maksud Tuan? Tuan tau siapa dia?"
"Habiskan makanan kamu dan aku akan membawa kamu menemui dia."
"Tuan serius?" Mata Nara membulat lebar.
Tangan Jaden memegang tangan Nara yang berada di atas meja. "Aku serius, Nara."
__ADS_1
Nara terlihat bingung saat ini. Apa benar dia akan bertemu dengan orang yang dulu pernah menyelamatkannya waktu kecelakaan itu?
Setelah selesai makan, Jaden menghubungi seseorang dan ternyata orang itu mengatakan sudah mengurus semuanya. Jaden membawa Nara menuju bandara karena mereka akan melakukan perjalanan agak jauh.
"Tuan, apa kita harus naik pesawat terbang?"
"Tentu saja, apa kamu takut?" Nara mengangguk. "Kamu tidak perlu takut karena ada aku, Nara." Jaden menggenggam tangan Nara dengan tatapan nanar.
Nara yang melihat tatapan mata Jaden merasa ada yang aneh dengan Jaden. Nara duduk di samping Jaden, dan saat pesawat mulai naik. Tangan Nara seketikan menggenggam erat tangan Jaden. Nara memejamkan kedua matanya sambil membaca doa.
Jaden yang melihatnya tampak tersenyum kecil. "Sudah tidak apa-apa, Nara."
Nara mulai berani membuka kedua matanya, tapi tidak melepaskan tangannya pada tangan Jaden.
"Seperti ini rasanya naik pesawat." Nara menghela napasnya pelan.
"Sudah tidak takut, Kan?"
Nara menggelengkan kepalanya. Lalu, dia teringat ingin bertanya sesuatu pada Jaden. "Tuan, kenapa dari tadi aku melihat Tuan seperti sedang memikirkan sesuatu? Apa ada hal yang mengganggu Tuan JL?" tanya Nara bingung melihat wajah Jaden.
"Tidak ada yang menggangguku, Nara."
Nara melepas sabuk pengamannya dan beranjak dari tempat duduknya. Dia sekarang berpindah tempat dan duduk pada pangkuan Jaden. Jaden agak terkejut dengan sikap berani Nara. Nara mungkin berani karena mereka berada di pesawat pribadi Jaden. Jadi, tidak ada penumpang lainnya.
Tangan Nara menggelayut pada leher Jaden. Dia menatap lekat pria yang dia cintai itu. "Apa Tuan sedang memikirkan tentang kata-kataku waktu itu?"
"Kata-kata kamu?" Jaden bingung.
"Iya, kata-kata tentang aku yang ingin menikah dengan malaikat penyelamatku itu jika aku bertemu dengannya."
"Apa kamu akan mewujudkan keinginan kamu itu?"
"Tentu saja tidak, aku bukan wanita yang mudah berpindah hati begitu saja hanya karena dia sudah menyelamatkan aku. Pria yang aku cintai itu kamu, Tuan. Aku tidak akan meninggalkan kamu." Nara memeluk Jaden dengan erat, bahkan mengecup lembut leher pria itu.
"Walaupun aku adalah malaikat pencabut nyawa kedua orang tua kamu, Nara?"
Deg!
__ADS_1