
Denna sedang berada di dalam kamar mamanya dan dia sedang melihat mamanya yang tengah berkemas karena besok mama dan ayahnya akan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis.
"Mama kenapa ingin ikut ayah? Tumben sekali?" Lihat Denna curiga.
Nara berhenti memasukkan bajunya ke dalam koper dan melihat pada putrinya. "Karena mama ingin memiliki waktu berdua bersama ayah."
"Jadi selama ini aku menyusahkan kalian ya?"
"Bukan begitu, Sayang." Tangan Nara mengusap lembut pipi Denna. "Ada kalanya sepasang suami istri yang memiliki anak ingin sesekali memiliki waktu berdua saja dengan pasangannya selama anaknya tetap dalam keadaan baik dan dalam pengawasan. Apa lagi kamu sudah besar. Bolehkan kalau mama dan ayah ingin memiliki waktu berdua?"
"Tentu saja boleh." Denna langsung tersenyum. "Kalian memang butuh waktu berdua yang sangat manis."
"Mama dan ayah di sana juga tidak hanya berlibur, tapi juga ada pekerjaan di sana."
"Ya semoga mama dan ayah lancar pekerjaannya dan lancar bulan madu ke duanya."
"Kamu itu." Nara memeluk putrinya.
Pagi ini setelah sarapan pagi. Nara dan Jaden berpamitan pada putrinya dan nenek karena uncle Leo juga ikut ke sana.
"Mama dan Ayah kalau sudah sampai ke sana jangan langsung berbulan madu, tapi hubungi aku dan nenek di sini."
Jaden mengusap kepala putrinya. "Kamu itu! Ayah pasti akan langsung menghubungi putri ayah yang sangat cantik ini, dan ayah pasti akan sangat merindukan kamu. Jadi, jangan sampai tidak mengaktifkan ponsel kamu."
"Aku tidak pernah mematikan ponsel kecuali kalau aku sakit. Itukan sesuai perintah ayah."
"Pintar." Jaden mencubit kecil hidung Denna.
"Uncle Leo, jangan lupa ingatkan mereka untuk menghubungiku."
"Pasti, keponakan uncle. Kamu baik-baik di sini."
Mereka saling berpelukan dan kemudian mereka pergi dari sana. "Nenek tidak apa aku tinggal di rumah sendiri?"
"Tidak apa-apa. Kamu pergilah ke kampus, dan nanti malam kamu mau tidak nenek ajak makan malam di luar?"
"Tentu saja aku mau. Kapan lagi kita bisa jalan-jalan berdua, Nek?"
"Iya. Sekarang kamu pergi ke kampus dulu. Itu Dimas sudah datang."
"Kalau begitu aku berangkat dulu, Nek." Denna mengecup pipi neneknya dan berjalan menuju Dimas yang sudah berdiri di samping mobil dan dia dengan ramah menyapa nenek.
"Jadi sepi. Biasanya ada Nara di rumah," gerutu Nenek.
Dimas mengantar Denna ke rumah sakit seperti biasa. Denna tampak kaget saat akan masuk ke ruangan khusus anak-anak yang dirawat di sana. Di mana ada ruangan untuk para dokter muda yang sedang praktek.
__ADS_1
"V, kamu kenapa ada di sini?"
"Untuk kamu." V memberikan kotak makanan pada Denna."
"Ini apa?" Denna menerimanya.
"Aku membuat omelette udang untuk kamu, dan ini untuk Diaz. Tolong berikan saja pada Diaz."
"Ini kamu membuatnya sendiri?"
"Tentu saja. Cobalah! Aku mau kembali ke ruanganku dulu." V berjalan melewati Denna.
Denna terdiam di tempatnya memandang kotak makanan ditangannya.
"Diaz ini dari V."
"Apa ini? Omelette? Baunya enak, tapi ada udangnya, Ya?"
"Ya ampun! Aku lupa kalau kamu alergi udang."
"Buat kamu saja, bukannya kamu suka semua olahan telur."
"Iya, aku makan saja biar tidak mubasir."
"Memangnya dari siapa sih, Denna?"
"Wow! Dia bisa memasak? Calon suami idaman sekali."
"Suka? Putusin Mas Rio dan jadian sama V."
Diaz memukul lengan tangan Denna. "Dia itu suka kamu, bukan aku. Lagi pula dia bukan tipeku. Aku sudah mendapatkan tipeku."
"Dia itu tidak suka aku, dia hanya menganggap aku teman. Buktinya dia juga memberikan kamu omelette itu juga."
"Itu modus dia biar tidak terlihat mencolok. Kalian bisa cocok karena dia tau apa yang kamu suka juga."
"Kebetulan saja apa yang kita suka sama, Diaz. Sudah ah! Aku mau ke lantai atas untuk bertemu dokter Cahaya."
"Denna, coba dulu omelette enak tidak?"
Denna membuka dan memotongnya dengan sendok yang disediakan di dalamnya. "Rasanya enak sekali, aku bahkan tidak pernah merasakan omelette seenak ini."
"Denna, kenapa memujinya keterlaluan begitu?"
"Siapa yang keterlaluan? Ini beneran enak. Kamu harus mencobanya."
__ADS_1
"Mau, tapi nanti alergi, malah bisa-bisa tidak masuk kuliah tiga hari aku." Wajah Diaz terlihat ingin sekali mencicipi omelette itu.
"Jangan kalau begitu." Denna menutup omelette.
"Denna, tolong bilang sama V untuk membuat omelette daging saja buatku."
Denna mengerutkan kedua alisnya. "Enak saja, memangnya aku siapanya dia?"
Denna berjalan pergi dari sana dan dia masuk ke dalam lift untuk menuju lantai atas. Hari ini di rumah sakit itu sangat ramai.
Pintu lift terbuka dan Denna masuk ke dalam. "Tunggu!" teriak seseorang dan dia masuk ke dalam. "Denna? Kamu mau ke atas?"
"Iya, aku mau ke poli anak. Kamu juga?"
"Aku mau ke poli penyakit dalam."
V melihat Denna membawa kotak makanan yang dia berikan. V tersenyum kecil.
Tidak lama beberapa orang juga masuk ke dalam. Keadaan lift mulai padat. Denna pun hampir terdesak padahal dia sudah berdiri di pojokan. Ada seorang bapak-bapak mendorong kursi roda masuk ke dalam lift dan dia mendorongnya terlalu keras sampai hampir terkena kaki Denna, tapi dengan cepat V menghalangi dengan kakinya. Jadi, kaki V yang terkena kursi roda itu.
"Maaf, saya tidak sengaja. Saya sangat lelah hari ini, tapi istri saya harus terapi hari ini," ucap pria paruh baya itu yang memang wajahnya terlihat lelah.
"Tidak apa-apa, Pak."
Denna yang tau hal itu menarik tangan V sampai pria di depannya menoleh. "Kamu tidak apa-apa, V?"
"Aku baik-baik saja Denna." V tersenyum pada Denna.
"Kamu serius? Kaki kamu tidak sakit? Kita periksakan saja."
"Tidak apa-apa. Kamu tenang saja."
Tidak lama mereka sampai di lantai tempat poli anak dan tempat untuk terapi berjalan. Bapak yang mendorong kursi roda itu pun ingin keluar.
"Bapak mau ke tempat untuk terapi?" Bapak itu mengangguk. "Saya akan mendorongkan kursi rodanya.
V membawa kursi roda itu keluar diikuti oleh suami ibu yang duduk di kursi roda.
Denna tampak tersentuh hatinya melihat sikap V. Dia ikut keluar.
V membawa ibu itu sampai di depan pintu ruang terapi. "Terima kasih, Nak. Biar saya yang membawa istri saya masuk."
"Iya, Pak. Semoga istrinya cepat pulih."
"V aku ke ruangan poli anak dulu."
__ADS_1
"Iya, Denna, aku juga mau ke lantai atas. Aku naik anak tangga saja, hanya kurang satu lantai saja."
Denna berjalan dan melewati belokan. V melihat Denna sudah tidak terlihat dia segera menunduk dan mengusap kakinya yang tadi terkena kursi roda. "Sakit ternyata."