Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Sikap yang Manis


__ADS_3

Pria paruh baya yang usianya seumuran ayah Nara itu terlihat benar-benar marah dengan Roy yang sudah menyakiti Nara. "Dia anak baru yang dipilih oleh Pak Leo dan kami kira dia orang yang baik. Apa lagi dia orangnya pendiam. Bapak tidak menyangka dia akan melakuan hal seperti itu."


"Aku juga tidak menyangka jika Mas Roy yang awalnya sangat baik sampai seperti itu."


"Apa mungkin dia melakukannya karena dia sangat mencintaimu, Nara? Tapi tidak seharusnya dia sampai berniat melecehkan kamu."


"Dia mencintaiku, tapi sayang aku tidak bisa menerimanya, Pak."


"Apa kamu sudah memiliki seorang kekasih, Nara?"


"A-aku tidak memiliki kekasih, Pak. Siapa juga yang mau menjadi kekasihku? Aku saja terkurung di sini, dan yang aku temui hanya Tuan Jaden, Mas Leo dan bapak pengawal semua. Lagi pula aku belum memikirkan masalah itu."


"Kamu berdoa saja semoga Tuan Jaden bisa memiliki seorang istri, nanti siapa tau kamu di lepaskan jika Tuan sudah ada yang mengurusnya," bisik pak pengawal itu.


"Ehem!" Tiba-tiba terdengar suara deheman dari arah samping mereka. Mereka berdua menoleh dan ternyata ada Jaden berdiri di sana dengan menunjukkan wajah sangarnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Nara?"


"Tuan, aku sedang berbicara dengan pak pengawal. Tadi aku baru saja mengantar makanan untuk para pengawal," jelas Nara takut.


"Iya, Tuan. Nara ke sini hanya ingin mengantar makanan seperti biasanya."


"Ayo kita sarapan pagi! Kamu jangan gampang sekali akrab dengan seseorang. Ingat yang terjadi dengan kamu setelah kenal si brengsek itu."


"Tapi Pak pengawal ini baik, Tuan."


"Awas saja kalau kalian berkhianat seperti Roy. Aku habisi kalian," ancam Jaden.


Seketika pengawal di sana semua pada mengangguk berjamaah ketakutan.


"Tuan jangan begitu," ucap Nara pelan.


"Ayo kita masuk ke dalam." Jaden tanpa gengsi menggandeng tangan Nara dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Nara yang tangannya di gandeng seperti itu hanya bisa menatap Jaden.


"Nara!" seru pelan pak pengawal dan Nara yang ternyata mendengar panggilan pria paruh baya itu menoleh, dan pria paruh baya itu menunjukkan jempolnya pada Nara sambil tersenyum. Nara malah bingung maksudnya apa?


Sandra mengeratkan genggaman tangannya saat melihat Nara yang masuk dengan bergandengan tangan dengan Jaden. Nara di suruh duduk di atas kursi tepat di sebelah Jaden dan pria penuh pesona itu duduk di antara dua gadis.

__ADS_1


Nara melihat ke arah Mba Sandra yang wajahnya tampak tidak welcome pada Nara. "Tuan Jaden, aku makan nanti saja karena aku masih harus melakukan pekerjaanku di kamar Tuan. Aku mau membersihkan kamar Tuan JL. Tuan dan Mba Sandra makan saja dulu," Nara beranjak dari tempat duduknya.


"Duduk, Nara," kata Jaden dingin.


"Tapi, Tuan, aku bisa makan nanti saja."


"Duduk atau aku ikat kamu di kursi makan itu." Jaden menatap Nara dengan sorot mata tajamnya.


Nara yang ditatap seperti itu takut karena dia tau siapa Jaden Luther. "I-iya." Nara kembali duduk dan melihat lagi ke arah Sandra.


"Tuan Jaden, aku akan ambilkan makanan untuk kamu." Sandra yang hendak mengambil piring milik Jaden dengan cepat di tahan oleh tangan pria itu. "Ada apa, Tuan?"


"Biarkan Nara yang mengambilkan makanan untukku karena ini adalah tugasnya. Apa lagi kamu sebentar lagi akan pergi dari sini, Sandra. Jadi, biarkan Nara yang melakukannya." Jaden memberikan piringnya pada Nara.


Nara merasa antara senang dan bersalah pada Mba Sandra.


"Nara! Apa kamu tidak mendengar apa yang aku suruh? Kenapa malah melihat terus pada Sandra? Ambilkan aku makan karena aku harus segera minum obatku."


"Ah, Iya!" Nara tersadar dari lamunannya dan dia segera mengambilkan makanan untuk Tuan Jaden.


"Sandra, kamu kenapa? Apa masakan Nara tidak enak?" tanya Jaden yang melihat piring Sandra masih banyak makanannya.


"Tidak, Tuan. Masakan Nara enak hanya saja aku masih teringat dengan kejadian dengan Roy itu. Aku kalau ingat jadi takut sendiri."


"Aku sudah bilang jika Roy sudah tidak akan membahayakan kamu lagi. Jadi, kamu tidak perlu ketakutan seperti itu."


"Sebenarnya aku juga sedih kalau harus pergi dari rumah Tuan Jaden yang indah ini, tapi aku untuk apa juga di sini jika Tuan Jaden sudah sembuh?" Sandra melihat pada Jaden dan tangannya memegang tangan Jaden yang berada di atas meja. "Jujur saja aku sangat berat pergi dari sini, tapi aku juga senang melihat kamu sudah lebih baik."


"Kamu bisa berkunjung di rumahku jika kamu mau. Pintu rumahku akan selalu terbuka untuk kamu."


"Tidak enak rasanya jika hanya berkunjung. Aku ingin menjadi bagian dari rumah ini," ucap Sandra lembut pada Jaden.


"Uhuk ... uhuk ...!" Nara tiba-tiba terbatuk mendengar hal itu.


Jaden langsung menarik tangannya yang di pegang oleh Sandra. Jaden dengan cepat mengambilkan Nara minum.


"Hati-hati, Nara, kenapa kamu ceroboh sekali?" Jaden membantu Nara menghabiskan air minumnya.

__ADS_1


Sandra menatap Nara dengan kesal. "Terima kasih, Tuan JL."


"Dasar ceroboh!"


"Tuan JL, bahan pokok untuk makanan sudah habis. Apa Tuan tidak ingin membelinya?"


Jaden terdiam sejenak. "Apa kamu bisa keluar untuk belanja dengan pengawalku? Kamu belanja saja di tempat yang tidak jauh dari sini."


"Aku?"


"Iya kamu, memangnya kenapa? Kamu mau menyuruhku? Aku mana tau tentang dunia perdapuran."


"Jadi aku boleh keluar?" Nara melirik pada mba Sandra takut jika dia keceplosan.


"Tentu saja. Kamu belanjalah dan beberapa pengawalku akan mengantar kamu. Aku ada urusan di rumah ini. Ada pekerjaan kantorku yang harus aku selesaikan."


"Jaden! Em ... maksudku Tuan Jaden. Apa boleh aku ikut dengan Nara untuk belanja kebutuhan rumah kamu?"


"Apa kamu yakin?"


"Tentu saja, aku mau jalan-jalan juga di pusat perbelanjaan dekat sini."


"Di sini tidak ada mall terdekat, adanya pasar tradisional. Apa kamu mau masuk ke dalam pasar tradisional?"


Sandra terdiam sejenak. Dia tidak mungkin memperlihatkan jika dirinya tidak pernah masuk ke dalam pasar tradisional yang pastinya tempatnya kotor, dan bau amis di mana-mana.


"Aku tidak masalah. Kamu juga tidak masalah, kan, Nara?"


"Aku tidak ada masalah, Mba Sandra karena aku sudah biasa. Dulu untuk menghemat biaya makanan, bibiku menyuruhku belanja di pasar tradisional."


"Baiklah, kalau begitu kalian nanti akan di kawal oleh penjagaku."


Setelah selesai makan, Nara membereskan semuanya, kemudian dia datang menemui Jaden di ruang kerjanya.


"Tuan, tugas rumahku sudah selesai dan aku ingin pergi dengan Mba Sandra.


Jaden beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Nara yang berdiri menatapnya. Tangan Jaden memegang dagu Nara dan pria itu menarik dagu Nara ke atas.

__ADS_1


__ADS_2