
Beberapa masakan sudah tersedia di atas meja. Dimas masih melihat pada anak laki-laki di depannya.
"Kakak kenapa?"
"Kamu tidak perlu marah jika mereka seperti itu, itu hak mereka. Kamu juga suatu saat dapat menunjukkan apa yang kamu punya, yaitu menjadi seorang dokter yang hebat seperti cita-cita kamu."
"Aku berharap bisa menjadi dokter yang hebat, Kak. Aku ingin membuat bangga mendiang ibuku dan juga kakak."
"Pasti, kamu pasti bisa. Sekarang kamu katakan universitas mana yang akan kamu pilih?"
"Aku masih belum tau. Kak, apa Kakak tidak keberatan membiayai aku kuliah jurusan kedokteran? Biayanya Kakak tau sendiri pasti sangat mahal."
Tangan Dimas mengusap-usap kepala adiknya. "Kamu tenang saja, Kakak bisa membiayai kamu sampai kamu lulus."
Adik laki-laki Dimas memeluk Dimas. "Terima kasih, Kak. Aku akan membantu Kakak juga nanti."
"Memangnya aku menyuruh kamu membantuku? Kuliah saja sungguh-sungguh, tidak perlu memikirkan lainnya."
"Siap. Sekarang kita makan dulu, Kakak pasti lapar."
"Sebenarnya aku sudah makan tadi dengan Nona Muda yang sedang aku jaga."
Kedua mata pemuda tampan dengan kulit putih bersihnya itu melihat Dimas heran. "Kamu makan dengan seorang gadis? Apa tidak salah?"
"Apanya yang salah?"
"Apa Nona itu yang meminta Kakak menemani dia makan? Jangan-jangan dia suka sama kamu."
Dimas hanya menghela napasnya pelan. "Dia anak dari orang yang membayar Kakak, jadi tidak mungkin dia suka dengan pria di bawahnya."
"Jangan bicara begitu, Kak. Kakak pria yang baik, tampan dan bertanggung jawab. Siapa wanita yang bisa menolak Kakak?"
"Bisa saja. Sudah! Kita makan dulu. Kamu pasti lapar, lihat saja bicaranya bisa sebagus itu."
Mereka berdua tertawa bersama. Dimas ikut makan karena dia tidak mau mengecewakan adiknya yang sudah susah payah membuat masakan.
Di dalam kamarnya, Denna tampak cemas mondari-mandir menunggu ayah dan mamanya keluar dari dalam kamar.
Ayah dan Mama Denna sedang berada di dalam kamar untuk berbicara berdua dan pasti mereka membahas masalah yang sedang terjadi di antara mereka.
"Denna melihat dari jendela kamarnya jika ada uncle Leonya sedang berdiri berbicara dengan seseorang di taman depan.
"Sebaiknya aku bertanya pada uncle, uncle Leo pasti tau ada masalah apa sama mereka."
Denna segera turun dan saat melewati kamar kedua orang tuanya, dia melihat pintu kamar itu tertutup rapat.
__ADS_1
"Uncle." Denna langsung memeluk Leo.
"Denna ada apa? Sebentar, uncle matikan dulu teleponnya."
"Uncle, sebenarnya ada apa mama dengan ayah?" Denna terisak.
Leo tampak terdiam sejenak. Dia ikut merasa sedih melihat Denna yang sangat khawatir dengan hal yang terjadi pada kedua orang tuanya.
"Kamu tenang saja, Denna. Ayah kamu sudah bisa menyelesaikan masalah yang mereka hadapi."
Denna menarik dirinya dan melihat serius pada uncle Leonya. "Uncle yakin? Tapi kenapa mereka berdua masih tidak keluar kamar? Apa mereka masih bertengkar di dalam kamar?"
"Mungkin masih ada yang perlu mereka bicarakan."
Tidak lama mereka berdua melihat mobil Nenek Miranti datang. Denna seketika menjadi bahagia karena nenek buyutnya yang dia harapkan saat ini datang juga.
"Denna, Leo, kalian berdua kenapa ada di sini?"
"Nenek Buyut!" seru Denna sambil berlari memeluk neneknya dan menangis.
Nenek Miranti kaget kenapa cicitnya ini tiba-tiba menangis?
"Leo, apa ada masalah?"
"Nek, biar nanti Tuan Jaden dan Nara yang menjelaskannya."
"Ayah dan mama bertengkar, Nek, dan aku melihat mama sampai menangis tadi pagi."
"Di mana kedua orang tuamu sekarang?"
"Mereka ada di kamarnya."
"Nenek akan menemui mereka." Wanita tua itu berjalan dengan tegap masuk ke dalam rumah dan segera menuju ke kamar Jaden dan Nara.
Nenek Miranti mengetuk pintu beberapa kali. "Jaden, Nara, ini nenek. Apa nenek bisa bicara sebentar dengan kalian?"
Pintu di buka oleh Jaden danBu mempersilakan nenek masuk. Sekarang mereka bertiga berbicara di dalam kamar .
"Kalian sedang meributkan apa? Apa kalian tau? Di luar Denna tampak sedih melihat kalian ada masalah seperti ini."
"Masalah kami sudah selesai, Nek. Aku minta maaf pada Jaden karena tidak memahami tentang situasi yang sedang terjadi."
"Bisa jelaskan tentang masalah kalian?"
Jaden menceritakan tentang Mauren dan alasan dia menerima kerja sama dengan Mauren.
__ADS_1
"Kalau kamu membutuhkan bantuan keuangan untuk perusahaan kamu, kenapa tidak bilang nenek?"
"Keadaan keuanganku masih baik-baik saja, Nek. Aku juga tidak ingin merepotkan orang lain, Nek, aku masih bisa mengatasi semuanya."
"Apa yang nenek punya juga milik kamu, Jaden."
"Milik Jacob, Nek. Aku akan berusaha sendiri dengan kemampuanku."
"Jacob tidak akan bisa mengurus semua ini. Kamu tau sendiri bagaimana keadaannya."
"Masih ada putra dari Jacob dan Renata. Dia pasti sekarang sudah seumuran Denna."
"Tapi kita tidak tau ke mana Renata membawanya. Mereka masih hidup atau sudah tidak ada."
"Aku masih menyuruh orangku untuk mencarinya selama ini, Nek, tapi memang mereka seolah menghilang di telan bumi."
Nenek Miranti memeluk Nara dan meyakinkan pada Nara jika Jaden adalah suami yang baik dan bisa di percaya.
Jaden tampak mendekat pada Nara. Dia memeluk istrinya itu dengan hangat, dan tidak lupa menyematkan kecupan pada dahi Nara.
"Denna, sayang."
"Mama," jawab Denna lirih yang kaget mendengar panggilan mamanya.
Nara memeluk putrinya dan meminta maaf sudah membuat Denna sedih dan khawatir. Jaden pun tampak memeluk putrinya.
"Kalian tidak akan berpisah, kan?" tanya polos karena hal itu sangat ditakuti oleh Denna.
"Tentu saja tidak, Sayang, kenapa kamu sampai berpikir sejauh itu?"
"Jujur saja aku takut, Ma. Aku melihat hidup Diaz saat kedua orang tuanya sampai berpisah. Aku bahkan mungkin tidak kuat jika harus mengalami nasib seperti Diaz."
Bagaimanapun juga Denna adalah seorang gadis yang masih sangat manja dan sangat menyayangi kedua orang tuanya.
"Kita lupakan saja masalah ini, dan sekarang nenek mau, Denna mengabari semua teman sekolahnya untuk hadir di acara pesta ulang tahun kamu yang sudah nenek siapkan di suatu tempat."
"Apa? Nenek menyiapkan pesta ulang tahunku di suatu tempat?" Kedua mata gadis itu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh neneknya.
"Nenek kenapa tidak bilang padaku jika merencanakan hal itu?"
"Kalau nenek bilang sama kamu yang ada nenek tidak akan jadi merayakan ulang tahun Denna. Kamu saja tidak suka jika nenek merayakan ulang tahun kamu dan kamu juga tidak suka acara pesta-pesta."
"Itukan dulu, Nek."
"Sekarang juga. Pokoknya nanti saat acara berlangsung kita akan memakai baju atasan dengan warna kesukaan Denna, yaitu warna salem dan kita berangkat bersama-sama pagi sekali ke tempat itu."
__ADS_1
"Memangnya Nenek mengadakan acaranya di mana?"
"Rahasia sayangku Nara." Nenek mencubit hidung Nara.