Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Bersama Dengan Tuan JLnya


__ADS_3

Cathy membawa kotak obat untuk mengobati lengan tangan Jaden. Nara dibuatkan Cathy minuman hangat agar lebih tenang.


"Kamu itu harusnya membawa pengawal kamu kalau ke sini, jangan sok jagoan dengan menghadapi sendirian." Cathy membersihkan darah yang hampir mengering.


"Aku pikir tidak perlu membawa pengawal untuk membawa Nara pulang bersamaku."


"Kamu itu selalu terlibat dengan hal yang menakutkan, jadi harusnya kamu bisa memikirkan hal itu."


"Cathy! Pelan-pelan."


Nara yang bingung harus bicara apa hanya bisa melihat mereka berdua berbicara. Jaden melihat pada calon ibu dari anaknya itu duduk sambil memegang cangkir yang berisi coklat hangatnya.


"Nara, kemarilah." Tangan Jaden yang satunya menjulur dan Nara menyambutnya.


"Mau coklat hangat?" tanya Nara dan Jaden menggeleng pelan.


Nara beranjak dari tempatnya, dia mendapat perintah untuk duduk di pangkuan Jaden.


Nara duduk di pangkuan Jaden dengan tangan menjulur pada leher pria itu. "Apa kamu takut?"

__ADS_1


"Aku tidak takut apapun, Tuan JL. Dari awal aku sudah meyakinkan kamu saat kamu takut untuk menjadikan aku kekasih kamu."


"Iya, aku tau. Kamu jangan khawatir kalau aku akan melindungi kamu dan bayi kita." Jaden mengecup bibir Nara. Nara yang agak malu tampak tidak membalas ciuman Jaden.


"Tuan JL, jangan mencium seenaknya. Di sini ada Cathy."


"Cathy tidak akan peduli dengan kita."


"Hem ...! Kalian ke kamar saja kalau mau melakukan lebih."


Kedua alis Nara mengkerut. "Melakukan lebih apanya?"


"Dikunjungi ayahnya? Bukannya tadi kamu sudah melihatnya di rumah sakit, Tuan JL?" tanya Nara heran.


Jaden tersenyum kecil. Dia tidak menyangka jika gadisnya akan sepolos ini.


Malam ini mereka akan menginap di rumah Cathy. Jaden sebenarnya menawarkan untuk tidur di hotel saja, tapi Nara tidak mau.


Nara berbaring bersandar pada dada Jaden. Nara seolah tidak dapat memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Kamu tidurlah dan biar aku yang menjaga kamu kalau kamu takut." Jaden ternyata juga tidak bisa tidur. Dia mengusap rambut Nara perlahan.


"Tuan JL, apa sebaiknya aku bicara pada Jacob, meminta maaf dan berterus terang jika memang aku tidak bisa mencintainya. Aku berharap Jacob bisa menahan ayahnya agar tidak berbuat buruk pada, Tuan."


Jaden terdiam sejenak. Dia sebenarnya tau bagaimana sifat ayah Jacob. Mungkin setelah ini dia harus membawa Nara pada nenek sampai Nara tidak akan dapat dia cari terus.


"Nara, apa kamu tidak keberatan jika dalam beberapa hari nanti saat kamu sudah berada di Indonesia tinggal dengan nenekku?"


"Aku tidak apa-apa jika harus bersama dengan nenek, tapi apa tidak akan membahayakan nenek?"


Jaden bingung sekarang. Jika dengan nenek dapat membuat Nara aman dari tuan Carlos, tapi tidak dari musuh Jaden. Kalau di rumah tersembunyi Jaden. Jaden sudah tidak tau apa rumah itu masih belum diketahui banyak orang apa sudah?"


"Kita akan selesaikan satu persatu dulu. Aku hanya ingatkan supaya kamu tidak jauh dariku, Nara."


Nara mengangguk perlahan dan dia mencoba memejamkan kedua matanya.


"Huek!" Nara tiba-tiba merasakan mual pada perutnya. Dia yang tadi bersandar nyaman pada dada Jaden beranjak dan mencari di kamar kamar mandinya. Jaden yang tidak tau tentang kebiasaan ibu hamil tampak panik dan pucat melihat Nara muntah-muntah di wastafel.


"Nara, kami baik-baik saja? Apa kita ke rumah sakit saja? Mereka pasti sudah memberi kamu makanan yang salah."

__ADS_1


__ADS_2