Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Nenek Terbaik


__ADS_3

Jaden mencoba menghubungi Jacob yang dia kira berada di Kanada. Panggilan Jaden tidak diangkat. Jaden meminta salinan rekaman CCTV itu untuk dia bawa.


Jaden duduk termenung di dalam mobil. Kemudian dia menghubungi salah satu orang yang biasa dia tugaskan untuk memata-matai musuhnya.


"Cari informasi tentang Jacob di Kanada."


"Tuan, waktu itu Tuan Jaden sudah menyuruhku mencari informasi tentang adik, Tuan, tapi aku tidak mendapat informasi apapun."


"Aku menyuruh kamu mencari informasi tentang Jacob? Untuk apa?"


"Maaf, saya lupa tentang kecelakaan yang pernah Tuan Jaden alami. Tuan curiga jika Jacob ikut andil dalam kasus yang pernah menimpa Tuan Jaden."


"Kasus?" Jaden tampak bingung.


Pria di seberang telepon menceritakan segalanya. Jaden agak terkejut karena dia tidak mengingat semua itu.


"Terima kasih atas infonya. Biar sekarang aku yang menyelesaikannya."


Jaden memilih kembali ke rumah sakit untuk melihat nenek. Dia mau menghubungi Nara, tapi pasti Nara sudah tidur dan dia tidak mau mengganggu tidur Nara.


Jaden masuk ke kamar nenek dan melihat wanita yang sangat dia cintai sedang tertidur dan di ranjang penjaga pasien juga Renata sudah tertidur.


Jaden kembali memikirkan tentang perkataan informannya tadi. "Apa benar Jacob yang ada di balik semua ini? Apa yang dia lakukan?" Kepala Jaden terasa sakit dia duduk dan bersandar di sofa.


Malam semakin larut. Miranti terbangun dari tidurnya dan mendapati Renata yang tengah tertidur di sampingnya.


"Jaden, kamu tidak tidur?" Nenek melihat Jaden yang sedang berdiri memandang keluar jendela dengan bersidekap.


"Nenek? Kenapa Nenek bangun? Ini masih pukul tiga pagi."


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kemarilah dan bicara dengan nenek."


Jaden berjalan menghampiri Nenek dan duduk di samping ranjang neneknya yang sekarang duduk bersandar.


"Aku tidak apa-apa, Nek."


"Kamu sedang ada apa-apa, Sayang. Nenek itu tau siapa kamu, jadi jangan mencoba membohongi nenek dengan wajah biasa kamu itu."


"Nenek sudah tau tentang aku, tapi kenapa Nenek tetap memaksaku untuk menerima Renata?"


"Karena kamu membutuhkan seseorang untuk mengurus kamu."


"Aku sudah memilikinya, Nek."


"Siapa? Nara? Apa Nara bersama dengan kamu?"


Jaden tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajahnya melihat pada arah luar jendela.

__ADS_1


"Dia sudah menyakiti dengan mengkhianati kamu, Jaden."


"Nara tidak mengkhianati aku, Nek. Dia istri yang sangat setia dan mencintaiku. Aku sudah bertemu dengan pria di dalam foto itu. Dia Paijo--sahabat baik Nara yang sudah menolongnya."


"Apa? Tapi kata Renata dia selingkuhan Nara."


Jaden melihat Renata yang masih memejamkan kedua matanya.


"Mungkin Renata mengira Nara pergi meninggalkan aku sebenarnya karena pria itu, tapi Renata tidak tau tentang hubungan Nara dengan Paijo."


"Sayang, kalau kamu yakin Nara tidak berselingkuh. Kenapa Nara tidak datang menemui nenek untuk menjelaskan?"


"Aku tidak memperbolehkannya untuk saat ini. Nenek tenang saja. Jika masalah ini semua sudah selesai. Nenek akan bertemu dengan Nara dan calon cicit Nenek."


"Cicit? Jaden, apa maksud kamu dengan cicit? Apa Nara sedang hamil?" tanya Miranti dengan wajah serius.


Jaden mengangguk perlahan. "Saat pergi dari rumah waktu itu, Nara sedang mengandung anakku, Nek."


"Oh Tuhan!" Tangan nenek sampai menutup mulutnya. "Jadi, Nara akan memberi kamu seorang anak?"


"Iya, Nek. Anakku dan kali ini aku akan melindungi mereka."


"Nenek senang mendengar berita ini, tapi bagaimana dengan Renata?"


Mereka berdua melihat ke arah Renata yang sekarang tidur dengan membelakangi Jaden.


"Tapi--."


"Nenek tidak perlu khawatir karena nanti semua akan berjalan dengan sendirinya." Jaden memeluk neneknya erat.


Jaden dan Nenek tidak tau jika Renata dari tadi mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Renata sebenarnya sudah terbangun saat Jaden masuk ke dalam kamar Nenek.


Terlihat kedua mata Renata membuka dan tertarik garis melengkung senyuman iblis pada bibirnya.


***


Keesokan harinya. Nara yang terbangun mendapati dirinya tengah tertidur di atas dada bidang suaminya.


"Jaden? Dia sudah pulang." Nara mengusap lembut pipi suaminya dan terdengar suara dengkuran lirih Jaden yang menandakan jika pria itu masih nyenyak dalam tidurnya.


"Dia pasti capek sekali." Nara kembali memeluk tubuh Jaden.


Hampir satu jam lebih Nara berkutat di dapur untuk membuatkan makan pagi untuk suaminya.


"Sudah selesai semuanya. Aku akan membangunkannya." Nara berlari kecil menuju ke kamarnya.


Nara melihat suaminya masih memejamkan kedua matanya. "Apa sebaiknya aku biarkan saja dia tidur? Dia pasti sangat lelah saat ke sini."

__ADS_1


Nara tidak jadi membangunkan suaminya. Dia kasihan melihat wajah lelah Jaden.


Tidak lama, saat Nara hendak keluar dari kamarnya. Ponsel milik Jaden berdering dan Nara melihat nama Nenek di sana.


"Nenek? Bagaimana ini? Apa aku harus menjawabnya?" Nara tampak bingung.


Akhirnya Nara memberanikan diri menjawab panggilan dari nenek.


"Halo, Nek."


"Halo, Nara."


"Renata? Kenapa kamu memakai ponsel Nenek!" Nara agak kaget mendengar suara Renata pada ponsel nenek.


"Jaden mana?"


"Dia sedang tidur. Ada apa? Apa ada masalah dengan nenek?"


"Kamu itu penyebab semua masalah di kehidupan Jaden. Aku juga tidak menyangka jika kamu berani kembali lagi menemui Jaden."


"Jangan mengancamku, Renata karena aku sama sekali tidak takut dengan ancaman kamu."


"Wow! Kamu mau menjadi gadis yang berani ya? Aku suka dengan sikap kamu. Bagaimana kalau kali ini nenek kesayangan kamu yang akan aku lukai?"


"Apa Maksud kamu?" Nara agak terkejut.


"Kalau kamu tidak pergi dari kehidupan Jaden. Aku akan melukai Nenek. Seperti kemarin, saat aku memberikan obat yang salah pada nenek."


"Jadi, kamu sengaja memberikan obat yang salah pada Nenek? Kamu benar-benar jahat, Renata!" seru Nara kesal.


"Aku ingin membuat Jaden datang untuk menemui neneknya dan agar aku tau di mana kamu berada."


"Jangan ikutkan nenek dengan rencana gila kamu. Aku akan memberitahu Jaden semua ini dan aku pastikan dia akan memberi kamu hukuman!"


"Aku takut sekali." Ledek Renata sambil tertawa dengan kerasnya. Nara yang kesal langsung mematikan ponselnya.


Nara tampak berpikir tentang Nenek. Renata benar-benar wanita jahat yang kejam.


Nara mondar mandir di depan tempat tidur sampai dia tidak sadar bahwa suaminya sudah terbangun dan heran melihat sikap Nara.


"Nara, apa kamu baik-baik saja?"


Nara berhenti melangkah dan melihat pada suaminya. Dia bingung antara bercerita pada Jaden atau tidak?


"Nara! Kamu kenapa? Jangan mondar mandir seperti itu. Apa kamu tidak kasihan dengan bayi yang kamu kandung kalau sampai kamu kelelahan?"


"Aku, tidak apa-apa." Nara meringis

__ADS_1


"Lihat saja kamu, Nara. Sebentar lagi akan aku dapatkan kamu dan akan aku hilangkan kamu dari kehidupan Jaden untuk selamanya." Renata tersenyum licik


__ADS_2