
Leo mendapat tempat yang lumayan layak untuk Jaden tempati karena bosnya itu tidak mau menginap di hotel.
Sebuah rumah minimalis dan hanya memiliki satu kamar. "Tuan, maaf, di sini hanya ini tempat yang tersedia karena Tuan Jaden meminta dengan mendadak. Saya kira Tuan akan pulang saja ke rumah."
Jaden memperhatikan rumah itu secara seksama. "Lumayan juga, dan ini jauh dari rumah-rumah penduduk. Aku cukup puas dengan pekerjaan kamu." Tangan Jaden menepuk pundak Leo.
"Terima kasih, Tuan. Tuan, saya minta maaf sebelumnya. Tuan Jaden sebenarnya ada urusan apa lagi di sini? Bukannya masalah bisnis dengan Tuan Paul sudah selesai seperti biasanya?"
"Apa kamu tau jika ada salah satu musuhku berada di sini. Dia sudah berani memasuki lahan bisnisku dan aku tidak suka dia merebutnya."
Leo terdiam sejenak. "Lalu, apa yang akan Tuan lakukan padanya?"
Terbitlah senyum miring yang pastikanya bukan senyuman manis milik Jaden. "Aku akan bermain-main sejenak dengannya."
"Maaf, apa biar saya saja yang membereskan?"
Pria dengan aura kejamnya yang lama tidak dia tunjukkan itu menatap dingin pada Leo. "Aku rasanya lama tidak bermain-main dengan musuhku, Leo. Aku akan mengajaknya bermain sebentar."
Leo tau apa yang pastinya akan Tuannya lakukan pada orang itu.
Nara yang berada di tempatnya tampak sedang melamun. Paijo yang melihat hal itu tau dengan apa yang terjadi dengan Nara.
"Nara, kalau kamu mau Jaden ingat sama kamu, kamu temui saja dia dan jelaskan pada nenek Miranti tentang siapa Renata? Kalau perlu aku akan ikut dengan kamu untuk membantu menjelaskannya."
"Tidak semudah itu, Jo. Renata juga tidak akan membiarkannya. Aku lihat dia sangat licik. Awalnya terlihat sangat baik dan menyenangkan, tapi nyatanya dia menikam dari belakang. Apa yang sebenarnya dia inginkan?"
Tangan Paijo merangkul pundak Nara. "Jangan memikirkan hal ini terlalu berat. Ingat apa kata dokter tentang kandungan kamu. Sebenarnya aku mau minta maaf karena sudah menyembunyikan sesuatu sama kamu."
"Soal apa?"
"Aku mengetahui soal kecelakaan dan keadaan Jaden yang koma waktu itu, tapi aku tidak mau memberitahu kamu karena alasan aku tidak mau kamu sampai shock dan memikirkannya."
"Jadi kamu tau?" Paijo mengangguk. Nara tidak bisa marah sama Paijo karena dia tau sahabatnya itu hanya ingin menjaganya.
Malam itu di restoran Paijo sedang ramai pengunjung dan sekali lagi Nara melihat sosok Jaden ada di sana.
__ADS_1
"Nara, kami mau memesan sup seperti biasa. Kamu tau? Sup kamu enak sekali dan Jaden juga sangat menyukainya," terang Juan.
"Apa hal itu perlu kamu katakan, Juan?"
"Ayolah, memang benar sup buatan Nara enak dan kamu menyukainya."
"Semua orang pasti juga menyukainya." Jaden melihat pada Nara yang sedang memperhatikannya dari tadi. "Apa kamu ingin mengatakan sesuatu padaku? Kenapa kamu melihatiku terus?" Jaden seolah risih jika di pandang oleh seorang wanita seperti itu. Dia kan memang terkenal tidak tersentuh wanita. Apa lagi sejak hubungannya dengan Mauren berakhir dia membenci sosok wanita. Baginya wanita semua pengkhianat.
"Aku hanya merindukan seseorang yang wajahnya mirip kamu," jawab Nara lirih.
"Apa kamu ditinggal pergi kekasih kamu?" Jaden tersenyum menghina. "Biasanya kalian para wanita yang suka bermain-main dengan hati seorang pria yang mencintai dengan tulus."
"Aku mencintainya dengan tulus, tapi aku harus meninggalkan dia karena suatu hal."
"CK! Sudah kuduga. Kalian sama saja." Jaden menghabiskan minumannya. Dia lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Nara hanya terdiam di tempatnya.
"Dia memang begitu orangnya, Nara. Dia tidak bisa bersikap manis dengan seorang makhluk ciptaan Tuhan yang sangat indah." Tangan Juan memegang tangan Nara. Nara yang terkejut menarik dengan cepat tangannya.
"Tolong jaga sikap, Tuan. Saya sudah menikah."
"Kamu serius?"
"****! Kenapa gadis secantik kamu malah sudah menikah? Tapi tunggu, apa pria yang kamu rindukan itu suami kamu? Kalian pisah?"
"Maaf, tugas saya sudah selesai di sini, kalau ada yang bisa saya bantu lagi, tolong Tuan katakan saja."
Juan tau jika Nara tidak mau masalahnya diketahu orang lain dan dia juga malas mengganggu wanita bersuami, meskipu jujur saja dia menyukai sosok Nara.
"Tidak ada, terima kasih dan ini tips untuk kamu."
"Saya berterima kasih, tapi maaf saya tidak bisa menerimanya. Permisi." Nara pergi dari sana.
Jaden yang ada di kamar mandi keluar dan tidak sengaja melihat Nara dengan Paijo. Nara sepertinya sedang menangis dan Paijo memeluknya untuk menenangkan Nara.
"Dasar wanita! Dia mengatakan merindukan seseorang, tapi dia berada dalam pelukan pria lain." Jaden teringat akan sikap Mauren yang mengatakan mencintainya, tapi nyatanya malah dia akan menikah dengan Jacob.
__ADS_1
Sebenarnya dulu Jacob memang sengaja merayu Mauren karena dia tau jika Mauren adalah kekasih Jaden. Jacob ingin mengambil seseorang yang sangat berharga bagi hidup Jaden.
Jaden berjalan pergi dari sana. Nara pun tidak tau ada suaminya tadi sedang memperhatikannya.
"Nara besok aku tidak bisa menjemput kamu karena nanti malam aku harus pulang karena mamaku sakit."
"Mama kamu sakit?"
"Iya, dan sepertinya ada yang ingin dia minta padaku." Paijo memutar bola matanya jengah.
"Apa soal perjodohan kamu itu?"
"Mungkin saja. Para orang tua ini, kenapa suka sekali mencampuri urusan anak-anaknya. Aku juga tidak jelek, dan aku pasti bisa mendapat jodoh. Seperti kamu misalnya."
"Hem! Dasar! Kamu itu menurut saja sama mama kamu. Bagaimanapun juga mama kamu tidak akan membuat hidup kamu dalam penderitaan."
"Bagaimana tidak menderita? Aku akan dijodohkan dengan wanita yang tidak aku sukai, Nara. Aku akan hidup satu atap dengan wanita yang sama sekali tidak aku kenal."
"Nanti juga kamu akan kenal sama dia. Kalian bisa saling bicara dan nantinya pasti kalian akan bisa bersama. Anggap saja kalian kenalan, terus pacaran dan akhirnya menikah."
"Andai bisa semudah yang kamu katakan."
"Kamu coba saja dulu. Jangan bicara seperti itu." Nara menepuk-tepuk pundak Paijo.
"Ayo aku antarkan pulang. Kamu harus banyak istirahat." Paijo menggandeng tangan Nara dan membawanya ke parkiran mobil.
Paijo mengantar Nara sampai di jalan raya dekat gang kontrakannya karena mobil Paijo tidak bisa masuk.
"Besok kamu akan di jemput salah satu karyawanku saja. Kamu jangan berjalan jauh ke restoran."
"Tidak perlu, Jo. Aku malah senang bisa menikmati udara pagi sampai di restoran karena akan sangat baik buat kesehatanku."
Tangan Paijo menepuk kepala Nara perlahan beberapa kali. "Dasar kamu keras kepala sekali jadi orang."
Nara menyingkirkan tangan Paijo, tapi Paijo malah menggoda Nara dengan menghindar dan menepuk lagi dan lagi.
__ADS_1
"Paijo! Kamu menyebalkan!" Mereka malah bercanda.
Mereka berdua tidak tau jika ada sepasang mata yang sedang memperhatikan dari jauh.