Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Tubuh yang Indah Part 3


__ADS_3

Nara kembali ke kamarnya dan mengambil semua yang tadi diberikan oleh Bi Ima.


"Apa aku harus memakai ini semua? Bahkan sepatu ini apa harus aku pakai?"


Nara berjalan malas kembali ke kamar Jaden. Dia sekarang berdiri tepat di depan Jaden dengan pakaian yang Nara menduga itu pakaian seorang pelayan. Baju dengan adanya appron berwarna putih di depannya.


"Pakai baju itu, dan mulai sekarang setiap aku berada di rumah, kamu harus memakai seragam pelayan kamu," titahnya dengan tegas.


"Iya aku akan memakainya. Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku untuk berganti baju."


"Pakai di sini!"


Langkah Nara kembali terhenti saat kata-kata Jaden terucap dengan santainya.


"Apa? Kamu demam ya karena masuk angin? Makannya habis mandi pakai baju kamu."


"Ganti baju kamu di sini. Sekarang," Jaden menekankan ucapannya.

__ADS_1


"Kamu serius?"


"Menurutmu?" Jaden menyilangkan tangannya ke depan melihat Nara serius.


Nara mundur perlahan-lahan mendekati pintu keluar, tapi sekali lagi Jaden seolah bisa membaca apa yang akan Nara lakukan, segera dia menghadang pintu dan menguncinya. Jaden dengan cepat melempar kuncinya ke luar jendela dan sepertinya tercebur ke dalam kolam renang.


"Kuncinya, kenapa kamu buang? Tuan JL aku tidak mau ganti di sini."


"Kamu tidak punya hak untuk menolakku. Sekarang ganti baju kamu, Pelayan Nara dan layani aku. Kamu harus lakukan setiap perintah yang aku katakan."


"Aku akan melakukan setiap perintah kamu, tapi kalau untuk berganti baju di sini aku tidak mau. Kenapa otakmu sangat mesum?"


Nara yang baru sadar sudah salah bicara langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kepala Nara menggeleng-geleng seolah dia memberitahu dia tidak bicara apa-apa.


Tangan Jaden segera menarik piyama milik Nara yang hanya satu itu. Tangan Nara pun tidak mau diam begitu saja, dia mencoba mempertahankan agar Jaden tidak menyobek piyamanya.


"Jangan buka bajuku, aku tidak mau ganti baju di sini."

__ADS_1


"Aku hanya menyuruh kamu berganti baju, bukan ingin menikmati tubuh kamu."


"Aku malu!" teriak Nara.


Jaden melepaskan tangannya dan membuat Nara berdiri mundur dengan jarak agak jauh dari Jaden. "Bukannya tadi aku sudah melihat kamu, Gadis bodoh? Apa yang membuat kamu malu?"


"Tadi, kan, tidak sengaja. Sekarang aku malu kalau harus berganti baju di hadapan kamu." Nara memegang erat piyamanya yang kancingnya sudah terlepas semua dari tempatnya.


Jaden berjalan menuju laci kamarnya dan mengambil sesuatu dari dalam. "Pakai sekarang, atau aku kirim kamu bertemu dengan kedua orang tuamu di surga sana."


Kedua mata Nara membulat sempurna, bahkan mulutnya sampai menganga melihat ada senjata api yang ditodongkan tepat di hadapannya.


Nara dengan susah menelan salivanya. Dia masih tidak percaya jika ada orang yang tega ingin membunuhnya hanya karena dia tidak mau berganti baju di depannya.


"Kamu tidak akan melakukannya, kan, Tuan JL?" tanya Nara terbata.


Jaden tidak menjawab, tapi malah menarik pelatuk dari senjata api itu. Sekali lagi Nara menelan salivanya dengan susah.

__ADS_1


Dalam hatinya Nara benar-benar bingung dengan semua ini. Apa dia harus melakukan apa yang disuruh oleh Jaden? Kalau dia melakukannya, itu sama saja dia seperti wanita murahan yang dengan gampangnya memamerkan tubuhnya pada pria asing. Namun, kalau tidak dia lakukan. Jaden bisa saja menembaknya dan dia akan mati sia-sia sebelum meraih cita-citanya.


__ADS_2