
Nara mengatakan kenapa waktu itu dia harus menyerahkan dirinya pada Jaden.
"Nara, aku minta maaf sudah menganggap kamu buruk karena kamu bisa hamil anak Jaden."
"Sekarang, apa kamu masih bisa menerimaku, Jacob? Aku tidak mau kamu menganggapku menerima kamu hanya untuk menutupi aib yang sedang terjadi padaku, aku juga tidak akan memaksa kamu menerimaku. Kakak kamu tidak akan menerima hal ini, tapi aku tidak mau memikirkannya. Aku akan tetap mempertahankan bayi ini karena dia tidak bersalah dalam hal ini. Bayi ini adalah cinta tulusku pada Jaden."
Jacob memegang tangan Nara dan menatapnya lekat. "Aku mencintai kamu apa adanya, Nara. Sejak pertama bertemu kamu, aku yakin kamu bisa menjadi seorang istri yang baik. Katakan saja kalau kamu menerimaku, maka aku akan menerima kamu dengan segala apa yang terjadi dengan kamu, Nara."
"Apa kamu serius, Jacob?"
"Aku sangat serius Nara."
Kedua orang tuan Jacob tidak tau jika Nara sedang hamil, hanya Tuan Carlos yang mengetahui dan itu dari Jaden.
Flashback Off
"Aku menerima Jacob, dan sekarang sebaiknya kamu menjauhi aku, Tuan JL."
"Nara, aku menginginkan dirimu dan bayi dalam kandungan kamu. Dia anakku dan aku menerima bayi itu."
"Sudah terlambat Tuan JL. Aku akan menjadi milik Jacob. Dia mencintaiku dengan tulus dan bahkan mau menerimaku apa adanya."
"Dengar aku, Nara!" Lengan tangan Nara dengan cepat ditahan oleh Jaden. "Kamu tidak bisa mengambil keputusan seperti ini. Kita harus bicara berdua."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Tuan JL. Aku tidak mau mengkhianati Jacob. Jacob tidak pantas aku sakiti." Nara melepaskan tangan Jaden.
"Aku tidak akan melepaskan kamu untuk Jacob. Kalian berdua adalah milikku," ucap Jaden dengan menekankan kata-katanya.
Nara berjalan pergi dari sana dengan mengusap air matanya yang keluar tanpa dia minta.
"Nara, kamu baik-baik saja?" tanya mama Miranda melihat mata Nara agak sembab.
"Aku tidak apa-apa, Ma."
__ADS_1
"Maafkan jika kedua putraku sudah membuat kamu sedih." Tangan wanita itu dengan lembut mengusap pipi Nara.
"Maaf, Nara. Aku hanya kesal saja pada pria itu, tapi aku tidak mungkin bisa menghajarnya."
"Jacob, aku malah tidak suka jika kamu berbuat kekerasan seperti apa yang Tuan JL lakukan. Aku sudah lebih baik." Nara tersenyum.
Dari kejauhan Jaden melihat adik angkatnya sedang memegang erat tangan Nara yang ada di atas meja. Darah Jaden seketika mendidih melihat itu, tapi dia tidak mungkin menghajar adiknya karena dia ini semua memang kesalahannya dari awal.
Di akhir acara, di sana diadakan dansa bertukar pasangan. Nara mengajak Jacob berdansa. Jacob tampak bingung dan sedih. Bagaimana dia bisa berdansa dengan Nara memakai kursi roda?
"Tentu saja bisa." Nara berdiri di depan Jacob dan kedua tangan mereka saling memegang satu sama lain. Nara menari memutar kursi roda Jacob. Jacob tampak tersenyum senang. Begitupun dengan Nara
Nara dapat sedikit melupakan kesedihannya. Dari tempatnya Jaden masih duduk tegap di tempatnya dengan menikmati whiskynya memperhatikan Nara dan Jacob.
"Itu gadis yang kita bicarakan tadi "
"Iya, dan kita punya kesempatan dari acara dansa ini untuk berkenalan dengannya. Aku akan bertukar pasangan dansa dengannya nanti."
"Aku juga, aku ingin sekali melihatnya lebih dekat dan kalau perlu mengecup leher indahnya itu. Ahaahah!" Dua orang yang dari tadi membicarakan tentang Nara tidak tau jika dibelakang meja mereka ada sosok mengerikan yang mereka pasti tidak ingin mencari masalah dengannya.
"Tuan Jaden Luther, ada apa ke sini?"
"Berdiri kalian," ucap Jaden dingin.
Dua orang itu menurut saja berdiri dari tempatnya.
"Tu-tuan, a-apa yang ka-kamu lakukan?" suara salah satu pria itu tercekat karena tangan Jaden mencekik dengan erat leher pria yang ingin mengecup leher Nara.
"Kalian berdua jangan pernah berpikiran mendekati gadis yang sedang bersama dengan Jacob, atau kalian aku jadikan makanan buaya piaraanku sampai mayat kalian tidak akan bisa diketemukan."
"Kami minta maaf Tuan Jaden. Kami tidak akan berpikiran hal buruk lagi tentang gadis itu," ucap satu pria yang tidak mendapat cekikan Jaden, tapi wajah pria itu tampak pucat.
"Bagus. Sekarang enyah dari tempat ini atau orang-orangku akan menculik kalian saat pulang dari sini."
__ADS_1
Dua pria itu langsung lari dengan ketakutan keluar dari tempat acara itu.
"Ingin rasanya aku habisi mereka berdua di sini sekarang juga." Jaden mengepalkan erat tangannya untuk menahan amarah.
Acara dimulai dan lampu di ruangan agak diredupkan dan orang-orang yang berada di sana mulai berdiri dengan pasangan masing-masing.
Jaden yang tidak memiliki pasangan hanya bisa duduk di tempatnya melihat acara itu akan berlangsung.
"Apa kamu mau berdansa denganku?" Sebuah tangan menjulur menawarkan untuk berdansa dengannya.
Jaden beranjak dari tempatnya, dan akhirnya Jaden memiliki pasangan dansa. Nara yang berdiri tidak jauh dari sana melihat tangan Jaden memlingkar pada pinggang wanita yang tingginya hampir menyamai tinggi Jaden. Gaun yang dikenakan oleh wanita itu memiliki belahannya panjang pada bagian dadanya.
Nara mencoba tidak melihat ke arah Jaden dan wanita itu.
Acara dimulai dan mereka saling berdansa satu sama lain. Mereka berdansa mengikuti irama musik dan nanti ada yang memberi aba-aba saat mereka harus berganti pasangan dansa.
"Apa benar nama kamu Jaden Luther?" tanya wanita cantik dengan pakaian sexynya.
"Iya," Jaden berdansa, tapi matanya terus mengamati Nara.
"Aku tau siapa kamu. Anak pertama dari keluarga Thomson yang terkenal dengan kerajaan bisnisnya, tapi sayang hatinya sangat dingin dan tidak ada wanita yang dapat menghangatkannya."
"Hatiku sudah ada yang menghangatkannya. Apa yang kamu dengar itu tidak benar."
"Benarkah? Apa aku boleh tau siapa wanita yang sudah melakukan hal itu? Apa dia memiliki segalanya dibandingkan aku yang seorang CEO di perusahaan terbesar di Swiss?"
Jaden menyeringai. "Dia hanya gadis biasa yang sederhana, tapi sangat aku cintai." Jaden sekali lagi melirik pada Nara.
"Hem ... kamu benar-benar unik. Kamu tau? Aku jadi semakin ingin mengenalmu," ucapnya lembut sembari menyentuhkan telunjuknya menelusuri rahang tegas Jaden.
"Jangan pernah berharap lebih mengenal diriku. Cukup kamu tau saja diriku sebagai penguasa dunia bisnis." Jaden tersenyum miring.
Mereka mulai berganti pasangan dan Jacob berdansa dengan mamanya. Sedangkan tangan Nara langsung ditarik oleh Jaden.
__ADS_1
Kedua pasang mata yang saling mencintai, tapi tidak bisa saling memiliki bertemu. Jaden memegang erat pinggang Nara dan tangan satunya pun menggenggam erat telapak tangan Nara.