
Denna membuka kedua matanya dan dia mematung pada posisinya yang sedang menindih tubuh Dimas.
Begitupun dengan Dimas yang terdiam dengan kedua mata menatap kaget pada Denna.
Kedua insan itu tidak dapat berkata satu sama lain karena bibir mereka menyatu dengan tanpa diminta.
"Kalian tidak apa-apa?" suara tanya dari penjaga toko yang mendengar suara benda jatuh dengan keras berhasil membuat Denna sadar dan beranjak dari tubuh Dimas. Penjaga toko itu berdiri tepat di belakang Denna, jadi dia tidak tau jika Denna dan Dimas jatuh dengan kedua bibir saling menyatu.
"Kami tidak apa-apa, Kak. Maaf, tadi aku tidak hati-hati sampai terjatuh," ucap Denna gerogi.
"Syukurlah kalau kalian tidak apa-apa. Saya akan bantu merapikan buku-bukunya."
"Kak, tidak perlu. Biar saya saja karena ini tanggung jawab saya." Denna memunguti bukunya di bawah.
"Kakak bisa pergi saja. Biar saya yang merapikan."
"Oh, baiklah."
Dimas pun tidak tinggal diam. Dia ikut membantu mengambil buku-bukunya. "Saya minta maaf atas kelancangan saya tadi, Nona Denna." Denna tidak tau jika saat ini hati Dimas kebat-kebit tidak karuan, tapi Dimas berusaha tetap tenang.
"Bukan salah kamu, Dimas. Tadi aku yang salah karena sangat ceroboh." Denna berbicara tanpa melihat pada lawan bicaranya karena malu.
"Saya--."
"Dimas, aku mau ke kasir dulu untuk membayar buku-buku ini sebentar."
"Biar saya bawakan, Nona." Dimas mengambil tiga buku yang sangat tebal semua dan dia membawanya hanya dengan satu tangan.
"Aku bisa membawanya, Dimas."
Dimas memberikan paper bag tanpa tali pada Denna. Denna bingung dengan pemberian Dimas.
"Ini apa?"
"Burger dan milkshake untuk Nona Denna. Bukankan Nona Denna belum makan dari tadi pagi. Nona sebaiknya makan dulu supaya bunyi perut Nona Denna hilang."
Denna tampak tertegun sekali lagi dengan apa yang dilakukan oleh Dimas. Dimas berjalan pergi dari sana.
"Dia tau sekali jika aku sangat lapar dari tadi." Denna membuka dan menikmati burger serta milkshake pemberian Dimas.
Setelah Denna membayar bukunya, mereka berjalan berdua dengan Dimas menenteng tas berisi buku Denna dan Denna masih menikmati burgernya.
Denna tidak berani menatap Dimas. Pun dengan Dimas memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Mereka berjalan menuju lift karena toko buku yang Denna datangi ada di lantai atas, jadi mereka turun menggunakan lift.
Di dalam lift, Denna yang berdiri di depan Dimas merasa agak risih saat ada seorang bapak-bapak yang sepertinya sengaja mendekat perlahan-lahan pada Denna. Apa lagi dari belakang, Dimas melihat bapak-bapak itu beberapa kali melirik Denna.
Denna ingin menghindar tapi sebelahnya ada orang. Ingin ke belakang juga ada orang.
__ADS_1
"Nama kamu siapa?" tanya pria yang membuat Denna dari tadi risih.
Denna hanya melihatnya takut. Tiba-tiba tangan seseorang dari belakang menarik Denna dan membawa Denna dalam dekapannya.
Dimas mendekap Denna dengan tangan satunya. Pria yang mengajak kenalan dengan Denna itu melihat kaget pada Dimas. Dimas hanya memberi tatapan datarnya.
Denna terdiam beberapa menit pada dekapan Dimas, sampai pintu lift akhirnya terbuka. Semua orang keluar dan hanya menyisahkan Denna dan Dimas.
Denna yang sadar posisinya menarik tubuhnya dari Dimas. "Saya minta maaf."
"Aku seharusnya yang mengucapkan terima kasih sama kamu. Orang itu menakutkan tadi. Usianya hampir sama dengan ayahku, apa dia tidak. berpikir mau menggodaku?"
"Kita tidak akan dapat menduga sifat seseorang. Kita harus hati-hati."
1
Denna melihat baju Dimas yang kotor karena terkena burgernya. "Baju kamu kotor, Dimas." Denna mencoba membersihkannya.
"Tidak apa-apa, Nona."
Saat pintu lift terbuka. Denna menggandeng tangan Dimas dan mengajaknya ke sebuah toko.
"Kenapa kita ke toko baju, Nona Denna?"
"Untuk membelikan kamu baju."
"Aku tau, tapi aku mau mengganti baju kamu yang aku kotori."
"Tidak perlu, Nona. Saya tidak minta ganti."
"Diam." Telunjuk Denna menempel pada bibir Dimas. Dimas langsung diam seketika. "Kamu bawa ini dan aku akan pilihkan baju untuk kamu." Denna memberikan milk shakenya.
Denna melihat mana baju atasan yang cocok untuk Dimas. Pandangannya jatuh pada kaos yang memiliki kra pada lehernya berwarna biru laut.
"Ini pasti cocok buat kamu."
"Saya tidak suka warna selain hitam, Nona."
"Apa semua baju kamu warnanya hitam?" Dimas mengangguk. "Hidup kamu tidak berwarna sekali memakai baju serba hitam. Apa biar dikata misterius dan keren.
"Saya tidak pernah berpikir seperti itu? Apa jika menyukai warna hitam biar dianggap misterius dan keren?"
"Tidak juga sih, aku hanya bercanda."
"Kalau aku menyuruh kamu memakai warna biru ini. Apa kamu mau?"
Dimas melihat kedua mata Denna dan jujur saja dia menyukai kedua mata Denna yang indah itu.
Dimas mengangguk. "Saya akan pakai."
__ADS_1
Terbit senyum manis pada bibir Denna dan dia membawa Dimas ke ruang ganti untuk mengganti bajunya yang kotor.
"Masih penuh," ucapnya kecewa.
"Saya ganti di sini saja, kan, hanya ganti baju saja."
Dimas meletakkan goodie bag dan melepas kancing kemejanya. Denna yang melihat kemeja yang sudah terlepas itu menelan salivanya dengan susah.
"Mana baju saya?"
"Oh ini." Denna tampak sedikit grogi memberikan baju yang dia bawa.
Dimas memakai bajunya dengan rapi. "Sudah selesai."
"Ka-kamu memiliki tato?" Denna melihat ada tato bundar besar dengan gambar abstrak di dalamnya.
"Ini memang dibuat khusus bagi bodyguard terpilih. Apa Nona Denna tidak menyukai pria bertato?"
"A-aku suka dan tidak mempermasalahkan hal itu."
"Oh."
Mereka berdua sepersekian detik tampak terdiam dan terlihat canggung.
"Dimas, kita makan siang dulu saja. Aku lapar." Denna berjalan melipir duluan untuk menyembunyikan rasa groginya. Dia menuju kasir untuk membayarnya.
Mereka sekarang menuju sebuah tempat makan. Denna mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk. Setelah mendapatkannya Denna melihat stand makanan yang ingin dia pesan.
"Kamu mau makan apa?"
"Nona, saya mau mengganti uang baju ini."
"Aku tidak meminta kamu menggantinya."
"Tapi aku tidak mau menerima sesuatu dengan cuma-cuma."
Denna terdiam sejenak. "Baiklah kalau begitu sebagai gantinya kamu traktir aku makan saja. Bagaimana?"
Gantian Dimas yang terdiam sejenak. Tidak lama dia mengangguk tanda setuju.
"Nona mau makan apa? Saya akan memesankannya."
"Nasi goreng dengan telur mata sempurna dan ditambah acar yang banyak. Minumnya es coklat saja."
"Sebentar, saya pesankan dulu."
Dimas beranjak dari tempatnya. Denna memperhatikan dengan lekat pria yang sudah menciumnya tadi.
"Apa tadi adalah ciuman pertamanya ya? Atau malah ciuman kedua atau ketiga kalinya? Inginnya aku bertanya akan hal itu pada Dimas," Denna berdialog sendiri sambil menghela napas panjangnya. Dia antara senang dan sedih karena ciuman itu.
__ADS_1