
Jaden kesal karena Nara tidak mendengarkan apa yang dia katakan, dan malah berlari pergi dari sana.
"Gadis itu!" umpatnya kesal dan Jaden mau tidak mau berlari mengejar Nara.
Nara berlari tanpa memperdulikan Jaden. "Aku tidak mau kembali denganku. Tolong lepaskan aku!" teriak Nara.
"Tidak semudah itu," balas Jaden dengan berteriak.
Nara kaget saat di depannya ada turunan bukit yang agak terjal dia berhenti seketika. "Bagaimana ini?" Nara tampak bingung sekarang.
"Kenapa kamu susah sekali diajak bicara?" suara besar dan tangan besar Jaden menarik lengan tangan Nara.
"Lepaskan ... lepaskan aku!" Nara teriak dan mencoba memberontak.
"Dengarkan aku, Gadis Bodoh! Kamu ini kenapa?" bentak Jaden marah.
"Lepaskan! Aku membenci kamu, aku tidak mau hidup lagi. Masa depanku sudah kamu hancurkan."
__ADS_1
"Aku sudah bilang, semua di hidup kamu ada di tanganku, jadi kamu tidak perlu lagi memikirkan bagaimana hidupmu." Jaden mencengkeram erat lengan tangan Nara.
Nara menatapnya dengan tatapan tajam, tapi ada air mata di sana. Entah kenapa Jaden melihatnya seolah hatinya juga terasa ada yang sakit.
"Lepaskan! Aku mau mati saja. Aku malu dengan diriku sendiri, kenapa kamu harus berbuat sangat buruk padaku? Aku mau jadi pelayan kamu, aku mau menurut sama kamu, tapi kenapa kamu malah menjadikan aku pemuas napsu kamu juga?" teriak Nara kesal.
"Aku akan jelaskan, sekarang kita pulang karena di sini sangat berbahaya walaupun pagi hari."
"Tidak mau!"
Jaden tidak mau banyak bicara lagi, dia yang mau mengangkat tubuh Nara malah mendapat perlawanan dari Nara yang akhirnya membuat kaki Nara terpeleset hingga Nara yang akan jatuh ke bawah bukit dengan cepat dipeluk oleh Jaden, membuat Jaden mendekap Nara dan akhirnya mereka berdua terguling ke bawah bukit.
"Oh ****!" Jaden merasakan punggungnya yang terbentur dengan keras pada batang pohon. Hingga dia memejamkan kedua matanya.
"Tuan, kamu tidak apa-apa?" tanya Nara yang berada dalam dekapan Jaden. Jika Jaden tidak memeluk Nara. Mungkin Nara yang akan terbentur punggungnya.
"Diam dulu," ucap Jaden singkat.
__ADS_1
"Apa kamu terluka?"
Jaden tidak menjawab, dia masih merasakan sakit pada punggungnya dan kakinya. Nara berpikir ini kesempatan dia untuk bisa kabur dari Jaden.
Nara bangkit dan melepaskan tangan Jaden, dia sudah berdiri di depan Jaden dan memandang Jaden dengan tatapan bingung.
"Apa yang kamu lihat? Kamu pasti berpikir punya kesempatan untuk kabur dariku saat melihat keadaanku seperti ini."
"Sebenarnya iya karena aku sangat membenci kamu setelah apa yang kamu lakukan padaku. Bahkan aku ingin membunuh kamu saja." Nara menunduk dan malah membantu Jaden berdiri.
"Pergi saja kalau mau, tapi kamu tetap tidak akan bisa lolos dariku nanti."
"Kenapa kamu masih menginginkan aku?Padahal aku gadis tidak berguna, kamu juga sudah mendapatkan hal yang paling berharga bagiku," ucap Nara dengan bibir bergetar.
Jaden sekali lagi tidak menjawab, dia hanya tersenyum miring. Nara tidak mau meneruskan kata-katanya. Dia membopong tubuh besar Jaden dengan susah payah berjalan keluar dari tempat itu menuju rumah tinggal Jaden, tentu saja dengan arahan dari Jaden.
"Aku mau memanggil Leo." Jaden di bawa masuk oleh Nara dan di baringkan di atas tempat tidur.
__ADS_1
Nara melepaskan alas kaki Jaden dan mengambilkan air minum untuk Jaden, sementara Jaden menghubungi Leo.