Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Rencana Busuk part 1


__ADS_3

Denna hanya bisa memberi semangat untuk sahabatnya agar bersabar dalam menjalani semua yang dia hadapi.


Pernah suatu hari, Diaz menginap di rumah Denna selama tiga hari, dan pada hari ketiga tiba-tiba mami Diaz datang dan marah lalu mengajak Diaz pulang dengan alasan besok papi Diaz akan datang.


"Maaf, Denna, aku selalu menceritakan hal sedih tentangku sama kamu."


"Tidak apa-apa, aku malah senang kamu mau berbagi denganku. Apa sudah lega perasaan kamu?"


"Sudah. Denna, kamu ada apa menghubungiku?"


"Besok malam aku boleh datang ke acara pesta ulang tahun itu."


"Kamu serius?" suara Diaz tampak senang.


"Serius. Ayahku tadi yang mengatakannya sendiri, bahkan ayahku tidak khawatir aku pulang jam berapa. Kata ayahku aku sudah dewasa dan aku pasti tau apa yang aku lakukan nanti."


"Ayah kamu benar. Sebentar lagi kita akan lulus sekolah dan melanjutkan kuliah. Kita bukan anak kecil lagi, Denna."


Denna terdiam di tempatnya. Dia memang bukan anak kecil lagi sekarang. Apa lagi setelah lulus sekolah, tapi Denna tidak mau kehilangan perhatian lebih dari kedua orang tuanya. Terutama ayahnya.


"Iya, Diaz. Ya sudah! Karena sudah malam, kita tidur saja dulu. Besok malam aku jemput kamu di rumah."


"Denna, kita naik mobilku saja. Nanti aku yang akan menjemput kamu. Sudah lama aku tidak mengendarai mobil sendiri."


"Ya sudah kalau begitu. Besok malam aku tunggu di rumah dan jangan terlambat. Kamu itu kadang tidak on time."


"Tenang saja. Kali ini aku akan on time."


"Ya sudah. Kamu tidur dan jangan memikirkan masalah kamu."


Mereka mengakhiri panggilan teleponnya dan Denna terlentang sambil memandangi langit-langit kamarnya hingga dia ketiduran.


Keesokan harinya karena hari ini dia libur sekolah. Denna tetap bangun dan malah mengajak ayahnya lari pagi di taman dekat rumah neneknya.


"Ayah, dulu Ayah bagaimana bisa mengenal Mama?"


Jaden agak terkejut mendengar pertanyaan putrinya. "Kenapa bertanya hal itu? Apa kamu sedang dekat dengan seseorang? Siapa dia? Kenalkan pada ayah?"


"Aku tidak punya kekasih, Yah. Lagian kalau aku punya kekasih, tidak akan aku kenalkan pada Ayah cepat-cepat."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena dia pasti takut bila bertemu ayah. Wajah Ayah tampan, tapi terlihat dingin. Dia pasti langsung mundur saat bertemu Ayah."


"Kalau dia takut pada ayah, berarti dia bukan pria sejati. Ayah tidak akan menyetujui kamu dekat dengannya."


Denna menghentikan larinya. Terlihat napasnya naik turun, Denna mencoba mengatur napasnya.


"Kalau begitu, tidak akan ada yang berani mendekati aku, Yah karena mereka pasti akan takut dengan sikap dingin ayah."


"Kamu harus benar-benar mencari seorang pria yang bisa melindungi kamu, bahkan tidak takut apapun jika dia serius dengan kamu karena pria yang seperti itu akan bisa dipercaya." Tangan Jaden mengusap perlahan pucuk kepala putrinya.


"Aku juga ingin memiliki seseorang yang seperti ayah." Denna memeluk ayahnya.


"Anak ayah ini sepertinya sedang jatuh cinta."


"Tidak, Yah. Aku belum memiliki kekasih karena aku belum menemukan yang seperti kriteria ayah." Mereka berdua tersenyum.


Setelah selesai lari pagi Jaden mengajak putrinya pulang karena pasti Nara sudah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Namun, sebelum pulang Denna menahan tangan ayahnya.


Jaden melihat heran pada putrinya . "Ada apa?"


"Katakan saja."


Telunjuk Denna menunjuk pada mobil penjual ice cream yang ada di taman di mana dia dan ayahnya lari pagi.


"Kamu mau membeli ice cream?" Denna dengan cepat mengangguk. "Tapi kamu belum makan pagi. Kalau mama kamu tau pasti ayah terkena hukuman karena membiarkan kamu membeli ice cream sebelum makan pagi."


"Kita simpan rahasia ini baik-baik. Bagaimana, Yah?"


Jaden tersenyum melihat putrinya berkata dengan ekspresi wajah mirip sekali dengannya. "Baiklah! Lagi pula ayah senang mendapat hukuman dari mama kamu."


Kedua alis Denna seketika mengkerut mendengar apa yang dikatakan ayahnya. "Ayah kenapa malah senang mendapat hukuman dari mama?"


"Karena mama kamu mukanya lucu kalau mengatakan kamu harus aku hukum. Kamu jadi beli atau mau bertanya terus pada ayah?" Jaden bersidekap dengan wajah datarnya.


"Aku mau beli!" Denna segera berlari menuju mobil penjual ice cream dan Jaden tersenyum melihat tingkah putrinya.


"Kamu tidak tau betapa menyenangkan mendapat hukuman dari mama kamu," Jaden berdialog sendiri sambil duduk di bangku taman menunggu putrinya membeli ice cream.

__ADS_1


Di tangan Denna sudah ada dua buah ice cream dengan rasa coklat dan vanila. Dia berjalan berhati-hati menuju bangku di mana ayahnya menunggu.


Bruk!


Tiba-tiba ada seseorang yang berjalan tidak hati-hati menabraknya dari depan dan ice cream miliknya sampai terkena baju orang itu.


"Oh my God! Lihat apa yang kamu lakukan? Bajuku jadi kotor," omel seorang gadis saat melihat bajunya terkena ice cream milik Denna.


"Kalau kamu hati-hati jalannya, kamu tidak akan sampai menabrakku. Kenapa sekarang kamu yang marah-marah?" Denna yang memang gadis yang pemberani di balik sifat manjanya langsung marah pada gadis itu.


"Kamu berani menyalahkan aku?" tanyanya kesal.


"Denna? Kamu ada di sini?" Evans tiba-tiba menghampiri Denna yang sedang ribut dengan gadis dengan rambut kunciran ekor kudanya.


"Kamu kenal dia, Evans?"


"Tentu saja, dia teman satu kelasku. Denna, dia Mandy saudara sepupuku. Kalian kenapa?"


"Dia tidak hati-hati membawa ice creamnya dan terkena bajuku."


"Kamu tau? Orang bodoh lebih baik daripada orang yang takut mengakui kesalahannya. Kamu yang salah, tapi malah tidak sadar."


Denna malas berdebat dengan gadis itu. Dia memutuskan pergi saja dan membeli ice cream lagi.


"Apa kamu bilang?"


"Denna, tunggu!" Tangan Denna tiba-tiba ditahan oleh Evans. Denna menatap tajam pada tangan Evans. "Aku akan mengganti ice cream yang tadi jatuh."


"Tidak perlu!" Denna melepaskan tangan Evans.


"Aku bisa membelikan kamu ice cream sebanyak yang kamu mau, bahkan membeli mobil ice creamnya." Evans memang terkenal sombong dan songong di sekolahnya, makannya Denna tidak suka dengan Evans. Apa lagi Evans juga playboy.


"Aku bisa membelinya sendiri. Kamu urus saja saudara sepupu kamu yang sok itu."


Denna berlari kecil pergi dari sana. "Menyebalkan sekali dia! Lihat bajuku! Dia membuatnya kotor, padahal aku mau bertemu kekasihku setelah ini." Muka Mandy tampak di tekuk kesal.


"Dia memang angkuh dan aku ingin membuatnya bertekuk lutut di hadapanku. Aku ingin lihat, apa setelah hal itu terjadi, dia akan tetap bersikap angkuh dan dingin padaku." Evans tampak tersenyum devil.


"Kenapa kamu tertarik dengan gadis seperti dia? Apa tidak ada gadis lainnya, Evans. Dia itu pasti membosankan dan menyebalkan."

__ADS_1


__ADS_2