Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Pahlawan Sejati part 1


__ADS_3

Jaden menunjukkan rekaman kecelakaan yang menimpanya dan ada mobil Jacob tidak jauh dari sana.


"Apa yang kamu lakukan di sana? Apa kamu ada hubungannya dengan kecelakaan yang terjadi padaku?"


"Apa maksud kamu? Kamu menuduhku ingin melukai kamu? Aku tidak ada masalah dengan kamu dan mungkin waktu itu aku tidak sengaja lewat sana dan tidak tau jika yang kecelakaan itu kamu."


Jaden tersenyum miring. "Aku tau siapa kamu, Jacob, hanya saja aku selalu membiarkannya karena pesan mendiang kakekku."


"Kakek kamu? Dia kakekku, dan kamu hanya cucu angkat. Kak, aku tidak mau memiliki masalah dengan kamu, jadi sebaiknya jangan mencari masalah karena aku tidak ada hubungannya dengan kecelakaan kamu."


"Tunggu saja sampai ingatan aku kembali. Jika kamu memang mencari masalah denganku aku tidak masalah, tapi jika kamu juga menyakiti istriku. Aku akan melupakan janjiku pada mendiang kakek." Jaden pergi dari sana.


Jacob menatap dingin pada punggung kakaknya yang berjalan pergi dari sana.


"Aku akan membuat kamu menderita, Jaden Luther."


Mobil Jaden terhenti dan tampak darah segar keluar dari dahinya. Jaden merasa sangat pening. Dia hanya bisa melihat kepergian mobil yang membawa Nara.


"Na-ra," ucapnya sambil bersandar pada duduknya.


Mobil Jaden di tabrak dari samping sangat keras sampai menyerempet pohon besar.


Terlihat bayangan tentang awal pertemuan Jaden dan Nara. Bagaimana Jaden akhirnya jatuh cinta pada Nara sampai Nara hamil.


"Sakit!" Jaden menahan sakit pada kepalanya.


Ingatan tentang malam di mana dia mengetahui tentang Jacob dan Renata pun kembali.


Jaden bersusah payah menghubungi orang-orangnya dan kembali ke rumah persembunyian untuk melihat keadaan Leo.


"Tuan, Nara mana?"


"Mereka berhasil membawa Nara. Leo, bagaimana keadaan kamu?"


"Hanya tertembak saja. Saya juga sudah mengeluarkan pelurunya, Tuan."


Leo ini meskipun penampilannya biasa dan tampak sederhana, tapi dia sudah sangat lihai dalam hal seperti ini.

__ADS_1


"Leo, aku sudah ingat semuanya. Renata dan Jacob adalah dua orang yang ada dibalik semua ini."


Leo sangat terkejut tidak menyangka jika tuan muda Jacob benar-benar pria yang jahat. "Lalu, kita harus mencari Nara di mana? Pasti Renata yang melakukan semua ini."


"Aku tidak akan melepaskan mereka Leo, mereka harus mendapat hukuman dariku "


"Iya, Tuan. Renata dan Jacob harus dihentikan." Leo menjadi geram saat dia tau apa yang baru saja diceritakan oleh Jaden.


"Leo, aku mau pergi dulu menemui Jacob, dia harus mengatakan di mana dia menyekap Nara." Jaden berjalan pergi dari sana. Leo yang teringat sesuatu segera berlari mengejar Jaden.


"Tuan, saya tau di mana Nara berada, jadi Tuan tidak perlu bertanya pada tuan muda Jacob." Leo memotong perjalanan Jaden.


"Kamu tau? Bagaimana caranya?"


"Saya menyuruh Nara memakai alat pelacak dan menyembunyikan di dalam bajunya. Selama alat itu menyala, maka akan membuat kita mengetahui keberadaan Nara."


"Kita pergi sekarang."


Jaden mengendarai mobilnya dan pergi mengikuti di mana alat pelacak Leo menunjukkan di mana Nara berada.


Tempat yang di gunakan untuk menyekap Nara tidak jauh ternyata dari apartemen milik Jacob. Jacob sengaja memanfaatkan tempat kosong dekat apartemennya yang termasuk angker supaya tidak ada orang yang berani mendekat ke tempat itu.


"Kasihan sekali kamu, Nara." Tampak sosok bayangan wanita keluar dari tempat yang agak gelap menuju tempat Nara. Sosok itu yang tak lain adalah Renata.


"Dasar wanita rubah! Lepaskan aku! Bagaimanapun kamu tidak akan bisa memiliki suamiku Jaden Luther. Jaden hanya mencintaiku."


Renata tertawa dengan sangat kerasnya mendengar apa yang dikatakan oleh Nara. "Siapa yang menginginkan suami kamu? Aku sama sekali tidak mencintai Jaden. Aku dan kekasihnya hanya ingin melihat hidup Jaden hancur selamanya."


"Apa maksud kamu?" Kedua alis Nara mengkerut.


"Hai, Nara," sapa seseorang mendekat pada Nara.


Nara kaget melihat siapa yang mendekat padanya. "Jacob? Kamu bisa berjalan?"


Jacob tersenyum dan dia melihat pada Renata. "Tentu saja aku bisa berjalan dan ini semua juga berkat kekasihku-- Renata." Jacob menarik pinggang Renata dan menyematkan kecupan pada bibir Renata.


"Jadi, kalian sepasang kekasih? Bagaimana bisa?" Nara tampak sangat terkejut. Kedua mata Nara sampai mendelik tidak percaya.

__ADS_1


"Tentu saja aku adalah kekasih Jacob dan aku sama sekali tidak mencintai Jaden, aku malah sangat membenci suami kamu itu," terangnya.


"Kalian berdua ini kenapa jahat sekali. Apa yang sudah Jaden lakukan pada kalian?"


Jacob mencengkeram dagu Nara dengan kasar. "Dia sudah mengambil segalanya dariku, Nara. Kasih sayang kakek, bahkan sebagian perusahaan kakekku dia mendapatkannya. Dia itu cuma cucu pungut yang tidak seharusnya mendapatkan semua itu. Dan terakhir dia mendapatkan kamu. Aku mencoba menerima semuanya, tapi hatiku terlalu pedih. Jaden harus merasakan rasanya kehilangan orang yang paling dia sayangi, yaitu kamu dan bayi kamu."


Sekali lagi kedua mata Nara mendelik mendengar apa yang dikatakan oleh Jacob. "Kamu mau apa?" Perasaan Nara sudah tidak enak saja.


"Aku ingin kamu dan bayi kamu mati, Nara," ucap Jacob dengan wajah tanpa ekspresi.


"Aku mohon, jangan melukai bayi dalam perutku. Bayi ini tidak bersalah sama kalian." Nara menangis.


"Maaf, Nara, aku harus melakukannya karena Jaden pasti akan sangat menderita jika kehilangan kamu dan kehilangan anaknya sekali lagi."


"Benar sekali. Aku sendiri juga muak melihat kamu di dunia ini, Nara," timpal Renata.


Tidak lama salah satu pengawal Jacob masuk ke dalam ruangan dengan wajah ada darah segar yang menempel. Dia memberitahukan bahwa suami Nara menerobos masuk ke dalam ruangan untuk mencari istrinya.


"Kakakku bagaimana bisa tau kita di sini?" Kedua alis Jacob mengkerut.


"Jaden ... Mas Leo ... aku di sini!" teriak Nara yang kemudian di tutup mulutnya oleh tangan Renata.


"Diam kamu, Nara! Auw!" Tangan Renata malah digigit oleh Nara.


"Singkirkan tangan kamu dariku, wanita rubah!" seru Nara kesal.


"Aku bunuh kamu sekarang juga." Renata hendak mencekik leher Nara, tapi tidak jadi karena suara tembakan meleset terkena pada tiang di sana.


"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan melakukan hal itu, Renata," suara Jaden terdengar dingin.


"Aku akui kalau kamu pandai sekali bisa menemukan dengan cepat di mana aku berada."


"Tentu saja, Jacob. Apa kamu lupa kenapa mendiang kakek lebih memeprcayai aku dan memilihku? Itu karena kemampuanku di atas kamu," ucap Jaden sombong ingin membuat Jacob marah karena Jaden sendiri kesal pada Jacob.


"Tutup mulut kamu!"


"Bahkan kamu memilih kekasih yang salah untuk kamu kerja sama. Kamu benar-benar sangat bodoh!"

__ADS_1


"Kamu sudah ingat semuanya?" tanya Renata.


"Aku mengingat segalanya." Jaden melihat pada Nara yang duduk di sana.


__ADS_2