Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kehidupan Baru Nara


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Nara menjalani hari-harinya di temani oleh Jacob dan keluarganya. Dia mencoba berusaha melupakan Jaden yang bagi Nara juga sudah melupakannya.


"Nara, apa kamu siap untuk memulai kuliah kamu hari ini?" tanya Jacob yang tampak sudah rapi dengan tas di pangkuannya.


"Sudah siap Pak Dosen."


"Ahahah! Jangan panggil aku Pak, aku jadi berasa sudah tua. Panggil saja aku Jacob seperti biasanya.


"Apa boleh? Nanti yang lainnya menganggap aku tidak sopan."


Tangan Jacob menarik kedua tangan Nara dan memegangnya. "Tidak apa-apa. Lagi pula aku dosen termuda di sana."


Nara melihat pada tangannya yang dipegang oleh Jacob. "Ya sudah kalau begitu kita pergi sekarang saja. Aku mau berpamitan pada kedua orang tua kamu."


Nara mendorong kursi roda Jacob ke ruang tamu dan mereka melihat kedua orang tua Jacob yang juga akan pergi ke kantor. Sedangkan Mama Jacob akan pergi ke acara amal seperti biasa.


"Nara, aku harap kamu bisa beradaptasi dengan baik di kampus. Kamu tenang saja, kalau ada masalah di sana, kamu tinggal bilang sama mama atau Jacob, kami akan segera menyelesaikannya. Tidak ada di sana yang bisa mengganggu kamu atau sumbangan selama ini yang kami berikan akan kami cabut jika ada ada hal yang menyusahkan kamu di sana," terang Mama Miranda.


"Tidak akan terjadi apa-apa, Ma. Kau yakin mereka orang-orang yang sangat baik seperti kalian."


"Oh ya! Minggu depan akan ada acara bakti sosial terbesar yang yayasan mama akan adakan. Mama dan ayah akan mengajak Jacob dan pastinya kamu Nara untuk datang menghadiri acara tersebut. Apa kamu mau?"


"A-aku? Tapi aku tidak pernah hadir di acara seperti itu." Nara tampak bingung.


"Oleh karena itu kamu harus hadir di acara itu karena kamu akan kami perkenalkan sebagai calon menantu kami, Nara."


"Apa? Calon menantu?" Kedua mata Nara membulat lebar.


"Ma, ini terlalu cepat, aku dan Nara belum membicarakan hal ini."

__ADS_1


Nara tampak heran dan bingung. Dia melihat pada arah Jacob yang ada di depannya. "Kamu terlalu lama Jacob. Nara harus tau jika kamu menyukai Nara saat awal kalian bertemu."


"Jacob sudah menyukaiku saat awal bertemu?" Nara sekali lagi melihat Jacob dengan tatapan heran.


"Nara, aku minta maaf jika membuat kamu terkejut karena masalah ini, tapi benar yang dikatakan oleh mamaku. Aku menyukai kamu sejak pertama bertemu dengan kamu, dan beberapa hari bersama kamu, aku semakin yakin jika aku mencintai kamu."


Nara benar-benar tidak menyangka jika Jacob akan memiliki perasaan lebih padanya.


"Nara, tapi hal ini tidak perlu menjadi beban buat kamu. Aku hanya mengutarakan tentang perasaanku, kalaupun kamu tidak bisa menerimaku, aku juga tidak akan memaksa kamu dan kamu jangan merasa tidak enak denganku. Aku tau tentang keadaanku ini yang mungkin kamu tidak bisa menerimaku."


"Jacob! Kamu jangan berkata seperti itu." Nara seketika duduk di bawah kaki Jacob. Nara memegang tangan Jacob. "Aku tidak pernah menganggap kamu tidak sempurna hanya karena kamu tidak bisa berjalan. Bukan seperti itu, tapi--." Nara terdiam sejenak.


"Tapi apa, Nara?" tanya ayah Carlos yang takut jika Nara akan bicara tentang hubungannya dengan Jaden.


"Ini terlalu cepat bagiku. Aku juga belum mengenal kamu lebih dekat."


"Aku mengerti Nara. Sebaiknya kita tidak perlu membahas ini dulu. Biar semua berjalan seperti apa adanya saja."


Nara hanya memberikan senyum kecilnya.Nara berangkat ke kampus dengan Jacob


Saat tiba di sana, kedatangan Nara dan Jacob seketika menjadi pusat perhatian orang-orang yang tak lain adalah mahasiswa Jacob. Apalagi Jacob cukup terkenal di kampus itu. Dia dosen termuda dan paling tampan di sana walaupun mengajar mereka dengan menggunakan kursi roda.


"Siapa dia? Kenapa dia bisa datang dengan Tuan Thomson?" Seorang gadis mungil dengan rambut berwarna pirang.


"Aku tidak tau, tapi gadis itu cukup manis. Mungkin dia kekasih Tuan Thomson. Wow! Ternyata dia sudah memiliki kekasih," jawab pria dengan kepala plontosnya.


"Tim, aku mau menyapa mereka dan mencari tau siapa gadis itu. Apa kamu mau ikut?"


"Tentu saja Grace." Dua orang yang adalah mahasiswa jurusan kedokteran itu mendekat ke arah Nara dan Jacob.

__ADS_1


"Pagi Tuan Thomson," sapa gadis bernama Grace.


"Pagi Grace, pagi Tim. Apa tugas yang aku berikan sudah kalian selesaikan dengan baik?"


"Tentu saja, Tuan Thomson tidak perlu khawatir. Tuan Thomson, dia siapa? Apa dia kekasihmu?"


Jacob melihat pada Nara yang berdiri di belakangnya. "Dia Nara, dan dia adalah sahabatku yang akan kuliah di sini dengan kalian. Nara perkenalkan ini Tim dan Grace. Mereka adalah muridku yang paling pintar di kelas, kamu bisa banyak belajar dengan mereka."


Nara dengan ramah dan sopan mengajak mereka berkenalan, dan mereka pun sangat senang bisa berkenalan dengan Nara.


"Nara, apa kamu nanti duduk dekat denganku? Biar Tim pindah duduk dengan kamu."


"Aku tidak masalah kalau Tim mau."


"Tentu saja aku tidak keberatan." Nara cepat bisa akrab dengan mereka. Nara senang sekali sudah mendapat dua orang teman yang sangat baik.


Waktu istirahat pelajaran Grace mengajak Nara ke kantin untuk makan. "Nara, apa benar kamu dan Tuan Thomson hanya berteman biasa? Apa kalian tidak ada hubungan spesial. Tuan Thomson itu sangat tampan dan baik, walaupun dia tidak bisa berjalan."


"Aku dan Jacob hanya sahabat saja. Keluarga Jacob sudah sangat baik mau menguliahkan aku di sini dan mengajakku tinggal di rumahnya." Nara menceritakan bagaimana dia kenal dengan keluarga Jacob. Nara tidak mau berbohong pada Grace kenapa dia sampai akhirnya bisa berada di Kanada.


"Wow! Kisah hidup kamu sungguh membuat aku tidak percaya, tapi kamu bersyukur sekarang hidup dan masa depan kamu bisa terjamin dengan baik."


"Iya, kadang di balik sebuah musibah ada berkah yang indah."


"Benar apa yang kamu bilang. Senang sekali aku bisa mengenal gadis kuat dan sabar seperti kamu, Nara. Kamu jangan sungkan jika membutuhkan bantuanku karena aku dan Tim akan siap membantu kamu. Iya, kan, Tim?" Grace menoleh pada Tim, tapi pria plontos itu malah sibuk dengan game pada ponselnya.


Nara terkekeh kecil melihat wajah Grace yang kesal. "Dia tidak memperdulikan kita dari tadi."


"Iya, aku kadang kesal kenapa aku harus memiliki sahabat seperti dia?"

__ADS_1


"Sahabat?" Nara teringat akan sahabatnya di sekolah SMA dulu si Paijo. Bagaimana nasib dia sekarang?


Nara mengambil ponselnya dan dia masih mengingat nomor ponsel Paijo. Nara ingin berbicara dengan Paijo.


__ADS_2