
Jaden berjalan mendekat pada Nara dan melepaskan ikatan tangan Nara. Nara yang merasakan ada yang menyentuh pergelangan tangannya yang sakit, perlahan membuka kedua matanya.
Sekali lagi kedua matanya membulat melihat sosok pria yang membuatnya takut berada di depan kedua matanya.
"Tu-tuan," ucapnya lirih.
Jaden melepaskan ikatan tanpa memegang tubuh Nara, hingga tubuh gadis yang sudah lemas itu jatuh ke lantai. Sorot tatapan kedua mata pria dingin bernama Jaden tampak tidak ada rasa kasihan.
Tubuhnya malah berdiri tegas menatap Nara yang ada di bawah kakinya. "Kembali ke kamar kamu dan segera siapkan makan pagi untukku. Jangan lupa, pakai baju seragam pelayan kamu." Jaden melangkah keluar dari kamar mandinya, dan sekali lagi meninggalkan Nara sendiri.
Nara hanya diam saja, dia malah memeriksa pergelangan tangannya yang tampak memerah karena semalam dia berusahan melepaskan ikatan tangannya, tapi yang ada malah membuat pergelangan tangannya merah dan lecet.
"Sakit sekali tanganku, dan kenapa badanku tidak enak begini?" Nara berusaha bangkit walaupun merasakan tubuhnya yang tidak enak.
__ADS_1
Dia mengambil handuk milik Jaden untuk menutupi tubuhnya dan ingin segera keluar dari kamar menakutkan itu.
Nara keluar dari kamar mandi dan melihat pria yang sudah mengikatnya semalaman di dalam kamar mandi sedang menghubungi seseorang. Jaden tidak melihat Nara yang ada di belakangnya. Nara pun tidak mau menyapa Jaden. Dia keluar dari kamar Jaden dan segera menutup pintu kamar Jaden.
"Sayang, nenek bertanya sama kamu. Kamu kenapa malah diam saja?" Tiba-tiba suara seseorang di seberang telepon memanggil Jaden yang ternyata melamun melihat ke arah pintu yang di tutup Nara.
"Aku tidak melamun, Nek. Aku sekali lagi minta maaf karena harus meninggalkan nenek dan kembali ke apartemenku. Ada dokumen yang di butuhkan oleh Leo yang harus aku potret dan mengirimkan pada Leo yang sekarang berada di Sydney."
"Kamu itu selalu saja tentang pekerjaan, padahal hari ini adalah hari libur kerja," omel wanita tua itu.
"Iya, teman-teman nenek nanti mau mengunjungi nenek di rumah, tapi tidak salah jika kamu juga berada di rumah nenek. Siapa tau nanti nenek bisa kenalkan kamu pada putri salah satu teman nenek."
Jaden tersenyum kecil di tempatnya. Selalu tentang masalah ini lagi. "Aku malah tidak tertarik dengan acara perjodohan seperti itu, Wanita Cantikku."
__ADS_1
"Mungkin nanti sampai nenek meninggal, nenek tidak akan pernah merasakan bermain bersama dengan cucu nenek."
"Tenang saja, aku tidak akan membiarkan nenek meninggal sebelum hal itu terjadi karena aku akan merebut nenek dari dewa kematian," celetuk Jaden ngasal.
"Hem ... dasar anak nakal! Ya sudah, nenek mau menyiapkan makanan kecil untuk teman-teman nenek dulu."
"Nenek jangan capek-capek, aku tidak mau kalau sampai nenek sakit lagi."
"Nenek sakit bukan karena kecapean, tapi memikirkan cucu nenek yang susah sekali di suruh menikah."
Jaden terdengar tertawa kecil. Mereka lalu mengakhiri pembicaraannya.
Beberapa menit kemudian, Jaden sudah bersiap-siap untuk menikmati sarapan paginya. Dia turun dari lantai kamarnya dan menuju meja makan. Namun, Jaden agak kesal karena di belum melihat ada sarapannya dj meja makan itu.
__ADS_1
"Gadis itu! Kenapa dia belum turun dari tadi." Tangan Jaden menggenggam erat. Saat dia akan beranjak untuk mencari Nara di kamarnya. Jaden melihat gadis pelayannya berjalan perlahan menuju ke arahnya.
Beberapa mw