
Nara ingat jika dia pernah keguguran dan dia tidak boleh sampai kehilangan bayinya lagi. Nara mengusap perutnya yang masih belum kelihatan.
"Maafkan mama ya, Nak. Mama janji akan menjaga kamu agar kamu bisa lahir dengan sehat dan selamat di dunia ini."
Paijo menyuruh Nara untuk berbaring dan dia akan menunggu di sana sampai Nara tertidur.
Paijo kasihan sekali pada Nara jika nanti Nara akan melalui kehamilannya tanpa suami di sampingnya.
"Halo, Sam. Apa aku bisa meminta bantuan kamu?"
"Bantuan apa Tuan Muda Jo?"
"Aku akan memberikan kamu alamat seseorang bernama Jaden Luther. Tolong kamu cari tau tentang dia, tapi ingat, kalau kamu jangan sampai ketahuan sedang mencari tau tentang orang bernama Jaden itu." Jo berbicara agak menjauh dari Nara, sehingga wanita itu tidak mendengar apa yang Jo sedang bicarakan.
"Baiklah, aku akan lakukan sesuai perintah Tuan Muda Jo."
Mereka mengakhiri panggilannya dan Jo kembali melihat pada Nara yang sudah tertidur.
Paijo keluar dari dalam ruangan Nara dan bertemu dengan dokter yang merawat Nara. Hari itu dokter yang menangani Nara sedang ada pasien yang akan melahirkan, jadi dia jaga di sana sampai besok pagi.
"Tuan Jo, bagaimana dengan Nara? Apa dia sedang istirahat?"
"Iya, Dok. Nara baru saja tidur lagi."
"Saya lihat istri kamu sedang banyak sekali pikiran, dahal hal itu sangat tidak baik untuk kesehatan dirinya dan janinnya."
"Dia agak ketakutan karena dulu dia pernah mengalami keguguran, Dok."
"Kamu sebagai suami buatlah agar dia tidak terlalu kepikiran akan suatu hal. Buat selalu pikirannya tenang karena hal itu dapat membuat keadaannya lebih baik." Tangan wanita itu menepuk pundak Paijo beberapa kali.
Di rumah sakit nenek sedang menangis menunggu dokter menangani keadaan Jaden. Nenek Miranti juga sudah menghubungi Leo dan menyuruhnya segera pulang secepatnya.
Dokter sedang mencoba menolong nyawa Jaden yang keadaannya sangat parah akibat dipukuli dan kecelakaan.
"Will bagaimana dengan Jaden?"
"Nek, temanku sedang berusaha menolong Jaden. Jujur saja jika keadaan Jaden kali ini sangat parah. Dia sepertinya baru saja dipukuli dan di tambah kecelakaan yang menimpanya."
__ADS_1
"Apa? Di pukuli?" Seketika air mata wanita itu menetes perlahan. Will yang melihatnya memeluk nenek dengan erat.
"Nek, bagaimana keadaan Jaden?Aku tadi saat pulang ke rumah diberitahu oleh salah satu maid di sana?" Renata yang tiba-tiba datang ke sana memasang wajah cemasnya.
"Renata, kata dokter keadaan Jaden sangat parah. Nenek takut akan kehilangan dia."
Renata memeluk wanita tua itu. "Nek, Nenek jangan khawatir. Jaden pria yang kuat, dia tidak akan kenapa-napa."
Dalam hatinya dia berharap Jaden tidak selamat supaya kekasihnya bahagia. Kemudian dia akan mencari Nara untuk mengurusnya.
Hampir satu jam nenek di temani Renata berada di sana. Wanita tua itu tak hentinya meneteskan air mata seraya berdoa agar cucunya dapat selamat dari keadaan ini.
Tidak lama dokter yang menangani Jaden keluar dari ruangan di mana Jaden berada.
"Dok, bagaimana keadaan cucu saya?"
Dokter itu terdiam sejenak lalu melihat pada Will dan nenek. "Ada pendarahan hebat di kepala. Kita akan segera melakukan operasi. Oleh karena itu kami membutuhkan persetujuan pihak keluarga."
"Lakukan apa yang menurut dokter baik untuk cucu saya."
"Baiklah kalau begitu silakan Ibu Ikut dengan salah satu perawat di sini.
Setelah selesai dokter segera melakukan operasi pada Jaden. Nara lagi-lagi tidak dapat tidur dengan tenang, dia bahkan memegang erat tangan Paijo yang sedang tertidur dengan posisi duduk tepat di samping ranjang Nara.
"Nara, kamu baik-baik saja?" Paijo memegang dahi Nara yang berkeringat. dia mengusap lembut keringat Nara.
"Nara, kamu tidurlah. Tidak ada hal mengkhawatirkan yang terjadi sama suami kamu." Paijo coba menenangkan Nara yang matanya pun masih terpejam.
Beberapa jam berlalu. Dokter sudah selesai melakukan operasi pada Jaden. Namun, dari wajahnya, dokter itu akan menyampaikan kabar yang buruk pada nenek.
"Ibu Miranti, dengan berat hati saya mengatakan jika Tuan Jaden mengalami koma, dan harapan untuk hidupnya sangat tipis."
"Apa? Cucuku koma? Dan harapannya untuk hidup sangat tipis?" Seketika tubuh wanita tua itu pun jatuh pingsan.
Renata tampak samar menarik senyum miring pada sudut bibirnyNenek bangun ...!"
Will segera membawa nenek ke ruang perawatan untuk diperiksa karena Will tidak mau sampai jantung nenek bermasalah.
__ADS_1
Besok sorenya. Leo sudah tiba di rumah sakit. Dia bertanya pada dokter Will. Leo tampak shock mengetahui Jaden yang sedang koma dan keadaannya sangat kritis.
"Leo, cucuku, Leo." Wanita tua yang masih cantik itupun menangis dalam pelukan Leo.
Leo bingung harus berkata apa? Dia tidak menyangka jika semua akan terjadi seperti ini.
"Nek, Nenek jangan putus asa. Kita harus yakin jika Tuan Jaden akan melewati masa kritisnya. Tuan Jaden orang yang kuat."
"Dia tidak sekuat dulu sejak Nara pergi dari hidupnya. Leo, apa kamu tidak bisa menemukan Nara? Nara pasti bisa membuat Jaden untuk kembali semangat hidup."
"Nara tidak dapat ditemukan, Nek. Aku sudah berkeliling mencari Nara, bahkan semua rumah sakit juga sudah aku datangi."
"Nara, apa kamu tau jika Jaden sedang kritis. Datanglah Nara,"
"Nenek kenapa masih mengharapkan wanita itu? Dia sudah tidak mencintai Jaden. Jika dia mencintai Jaden, dia pasti akan kembali ke sini dan tidak peduli dengan ancaman si penelepon itu."
"Kamu jangan bilang begitu, Renata. Nara bukan wanita seperti itu, dia orang yang baik dan nenek tau akan hal itu."
"Nenek jangan ditipu oleh Nara, dia kelihatannya baik, tapi dia sebenarnya penipu. Aku akan membuktikan pada Nenek jika apa yang aku ucapkan itu benar."
"Apa kamu tau di mana, Nara?" tanya Leo.
"Sebenarnya aku pernah melihat Nara, tapi pada saat aku mau menemuinya, dia sedang berpelukan dengan seorang pria tampan dan terlihat kaya raya. Pria itu mengusap lembut kepala Nara dan Nara memeluknya dengan wajah yang bahagia."
"Kenapa kamu tidak menyuruh dia kembali?"
"Aku marah waktu itu, Nek, aku kesal pada Nara yang ternyata berbohong pada kita semua."
"Apa kamu tidak bohong, Renata?"
"Untuk apa aku bohong, Nek. Aku adalah orang yang sangat senang melihat pasangan si muka dingin dan Nara, tapi saat tau Nara seperti itu aku marah."
Leo hanya terdiam mendengarkan semua yang dikatakan oleh Renata.
Di rumah sakit. Nara sedang duduk termenung melihat pada kaca jendela di kamarnya. Dia menatap keluar melihat pemandangan malam yang tampak cerah.
"Ada apa?" Paijo berhenti di lorong rumah sakit.
__ADS_1
"Tuan Muda Jo, ada yang ingin saya sampaikan."