
Nara sekali lagi mendengarkan hal yang tidak ingin dia dengar. Jaden menutup panggilannya dan melihat pada gadis di depannya yang sedang melihatnya dengan mata menipis.
"Ada apa melihatku begitu?"
"Sebenarnya pekerjaan apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu selalu berhubungan dengan hal yang menakutkan seperti menyiksa orang, bahkan kemarin membunuh dengan seenaknya. Bukannya kamu bisa melaporkan kepada pihak yang berwajib?"
"Bisa tidak kamu tidak perlu ikut campur? Habiskan makanan kamu dan rapikan tempat tidurku. Aku mau pergi ke kantorku, dan nanti malam buatkan aku lagi makanan seperti ini." Jaden beranjak dari tempatnya.
"Apa nasi goreng buatan aku ini enak menurutmu?"
"Biasa saja, hanya saja aku kasihan sama kamu yang sudah membuatkannya." Jaden berjalan pergi dari sana.
"Huft! Bilang saja kalau enak, apa salahnya memuji seseorang? Mengesalkan!" Nara kembali menggerutu sambil membereskan peralatan makannya.
***
__ADS_1
Di sebuah gedung pencakar langit. Tampak seorang pria dengan setelan jas abu-abunya berdiri di sebuah meja seseorang. Dia melihat foto yang ada di atas meja kantor milik seseorang. "Jaden Luther, seorang mafia yang bersembunyi dibalik begitu banyak usaha bisnis yang dia jalankan secara bersih hanya untuk menyembunyikan dirinya.
"Untuk apa kamu berada di dalam ruangan ku? Siapa yang mengizinkan kamu masuk?"
"Sekretarismu terlalu takut untuk melarangku masuk ke ruangan kamu. Apa kabar Tuan Jaden Luther? Senang bisa bertemu dengan kamu."
"Kalau kamu tidak ada urusan denganku, sebaiknya kamu segera pergi dari sini."
"Tuan, apa aku perlu panggilkan penjaga untuk mengantar Tuan ini pergi dari sini?" tanya Leo yang sudah tau siapa orang yang ada di depan Jaden.
"Aku ingin menawari kamu sebuah kerja sama di bisnis kotor kita yang akan membawa keuntungan yang sangat besar buat kamu." Pria itu duduk tanpa di suruh di sofa panjang yang ada di ruangan Jaden.
"Maaf, aku tidak suka bekerja sama dengan orang yang tidak aku sukai." Jaden duduk di atas kursi kebanggaannya.
"Aku tau kamu takut jika aku menipu kamu, tapi tenang saja, aku tidak akan mungkin berani menipu seorang Jaden Luther."
__ADS_1
Jaden memberikan seringai devilnya. "Pintar kalau kamu berpikiran seperti itu, tapi tetap saja aku tidak mau bekerja sama dengan kamu, jadi silakan keluar karena sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Leo, bukakan pintu untuk Tuan Damian Ruz." Jaden menegaskan ucapannya.
Pria yang memiliki aura seperti Jaden itu berdiri dari tempatnya dan melangkah menuju pintu keluar yang sudah dibuka oleh Leo.
"Jangan sampai kamu menyesal sudah menolak kerja sama yang aku tawarkan kepadamu Tuan Jaden." Jaden tidak menjawab hanya tersenyum miring.
Pria itu segera melangkah keluar diikuti oleh beberapa orang berpakaian hitam di belakangnya.
"Sebaiknya Tuan Jaden berhati-hati dengan Tuan Damian. Dia mungkin ada maksud kembali ke sini, apalagi Anda sudah mengetahui tentang pengkhianatan salah satu orang kita yang menjadi mata-matanya."
"Kamu tenang saja, Leo, aku masih bisa mengatasinya. Dia pasti ingin membalas dendam dengan apa yang dimulai oleh ayahnya dulu."
"Tuan, apa saya perlu mengawasinya?"
"Tidak perlu, biarkan saja. Hari ini adalah ulang tahun nenekku, dan aku ingin memberinya kejutan. Tolong nanti belikan apa saja yang nenekku inginkan dan aku akan pergi ke suatu tempat sebentar." Jaden beranjak dari tempatnya dan dia menuju ke lantai bawah kantornya.
__ADS_1