
Denna mengatakan jika dia akan menemui Evans untuk memberi dukungan sebagai teman. Diaz yang awalnya tidak menyetujui akhirnya mau menemani Denna ikut menemui Evans. Mereka mengakhiri panggilannya.
"Ada apa, Denna?" tanya V penasaran.
"Soal Evans, temanku yang pernah aku ceritakan itu."
"Dia kenapa?"
Denna menceritakan apa yang terjadi pada Evans. "Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya Dimas yang penasaran.
"Tadi Diaz bilang jika Evans bertemu dengan seseorang dan menawarkan obat, dan setelah menggunakan obat itu kaki Evans mengalami kelumpuhan."
"Dia sangat ceroboh."
"Itu pantas dia dapatkan setelah apa yang dia lakukan pada Denna, Kak. Kakak belum tau jika dia sudah berbuat jahat dan keterlaluan pada Denna."
"Tidak perlu menceritakannya, V. Aku tidak mau orang lain tau tentang apa yang terjadi padaku." Denna menatap pada Dimas.
"Dia pantas mendapatkan hukuman seperti itu, Denna."
"Sekarang dia merasa depresi karena keadaannya. Bahkan mencoba bunuh diri berkali-kali."
"Kalau perlu dia mati saja, aku benar-benar kesal padanya yang sudah berbuat buruk pada kamu," ucap V kesal.
"Kita jangan mendoakan hal yang buruk, V. Aku ditemani oleh Diaz akan pergi menemui Evans di rumahnya."
"Denna, kamu serius akan menemui pria brengsek itu?" V tampak tidak setuju.
"Tentu saja. Aku sudah melupakan kejadian yang menimpaku. Sekarang dia membutuhkan dukungan dari orang lain agar dia memiliki semangat untuk hidup. Kelumpuhannya bukan akhir dari hidupnya."
"Tapi kamu tidak harus menemuinya."
"Aku hanya ingin memberinya dukungan. Mungkin dengan kejadian ini dia bisa berubah."
"Kamu memang benar-benar seorang gadis yang memiliki hati malaikat. Aku senang bisa mengenal gadis seperti kamu." V menggenggam tangan Denna.
Denna hanya memberikan senyum kecilnya pada V. Dimas yang berada di sana hanya bisa mencengkeram gelas minumnya melihat hal itu.
"Bagaimana kalau V menemani kamu di rumah teman kamu itu, Denna?"
"Tidak perlu, aku dan Diaz akan baik-baik saja."
"Benar apa kata Kakakku, Denna. Aku akan menemani kalian ke rumah Evans."
"Nanti aku akan menghubungi kamu."
"Jangan ke sana hanya berdua, Denna." Dimas cemas jika Denna pergi ke rumah Evans. Denna melihat pada Dimas datar.
__ADS_1
"Aku akan ambilkan puding yang semalam sudah aku buat khusus untuk kamu, Denna." V beranjak dari tempatnya.
"Nona, jika pergi ke sana ajak V bersamamu. Aku tidak mau ada apa-apa dengan Nona Denna." Tangan Dimas memegang lengan Denna.
Denna melihat pada tangannya yang dipegang oleh Dimas. Dia melepaskan tangan Dimas perlahan.
Denna tersenyum miring. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Khawatirkan saja kekasih kamu."
Tidak lama V datang dengan membawa puding coklat buatannya. Dia membagi dan menyuruh Denna mencicipinya.
"Bagaimana?"
"Enak sekali. Aku habiskan ya?
"Silakan." Denna dan V tampak akrab. "Ada sisa puding di bibir kamu, Denna." V membersihkan sisa puding pada bibir Denna.
"V, aku mau pergi dulu. Kalian teruskan saja makannya."
Dimas beranjak dari tempat duduknya dan mengambil kunci motornya.
"Mau ke tempat Mitha, Kak?" Dimas hanya mengangguk.
Denna menatap nanar Dimas dan Pria itu pergi dari sana. Dimas mengemudikan motornya dengan sangat cepat. Hatinya sangat tidak karuan hari ini.
Terdengar suara ban motor berdecit. Pria itu menghentikan motornya menunduk menahan amarah yang menghantam hatinya.
Beberapa hari berlalu. Dimas dan Denna tidak saling bertemu bahkan berkomunikasi.
"Sayang, sebenarnya nenek tidak mau ikut campur dengan yang terjadi antara kamu dan Dimas. Nenek cuma mau bertanya. Apa kamu baik-baik saja?" Nenek juga sudah tau tentang Dimas yang berhenti menjadi bodyguard Denna.
"Aku baik, Nek. Tentang aku dan Dimas itu semua hanya salah satu cerita masa lalu yang akan aku jadikan salah satu kenangan indah dalam hidupku."
"Nenek hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kalian saja dengan siapa pun kalian nanti bersama." Nenek super baik itu memeluk cicitnya.
Denna dan V sering bersama saat istirahat di rumah sakit karena Diaz memang jarang masuk. Diaz sibuk mendekati hari pernikahannya.
V bercerita pada Denna tentang Dimas dan Mitha yang sekarang berada di luar kota.
"Kakakku sangat perhatian pada Mitha. Keadaan gadis itu berangsur angsur membaik, mungkin sebentar lagi aku akan memiliki kakak ipar Denna."
"Kakak ipar?" Denna agak terkejut.
"Iya, Kakakku Dimas sudah waktunya menikah dan Mitha adalah gadis yang tepat untuknya."
Rasanya hati Denna ditikam oleh pisau yang tajam kemudian dirobek dengan kasar.
"Denna, kamu memikirkan apa?"
__ADS_1
Panggilan V berhasil menyadarkan lamunan Denna. "Aku tidak memikirkan apa-apa, V."
"Denna, boleh tidak aku mengatakan sesuatu sama kamu?"
"Mengatakan apa?"
"Jujur aku tidak tau apa yang aku lakukan ini akan membuat kamu membenciku atau tidak. Denna, aku mencintai kamu."
DEG!
"Apa, V?"
"Aku mencintai kamu, Denna. Aku tidak tau sejak kapan perasaan ini ada, tapi aku tau jika yang kurasakan sama kamu ini adalah cinta." V menggenggam tangan Denna.
Denna tampak bingung harus mengatakan apa pada V?
"Ehem!" suara deheman seseorang dari arah belakang mereka membuat keduanya terkejut.
"Ayah?" Denna segera beranjak dari bangku kantinnya dan memeluk erat ayahnya itu. "Ayah kapan pulang? Kenapa tiba-tiba di sini?"
"Ayah sengaja datang tidak memberitahu kamu karena ingin memberi kejutan, tapi ternyata ayah yang terkejut." Jaden melihat pada V yang berdiri di belakang Denna.
"Yah, ini V, dia adalah dokter muda yang sedang praktik di sini."
"Selamat siang, Om." V
Menganggukkan kepala memberi salam.
"Tadi aku dengar kamu mengatakan cinta pada putriku. Apa kamu mencintai Denna?
"Ayah, itu tadi--."
"Saya mencintai putri Anda, Om," ucap V tegas.
"Bagus, saya senang akan keberanian kamu, tapi Denna masih kuliah dan kamu juga. Bukannya aku melarangnya, hanya saja Denna ingin sekali meraih cita-citanya dulu menjadi seorang dokter, mungkin kamu juga."
"Saya tau, Om. Saya juga ingin Denna meraih cita-citanya. Saya mengatakan hal ini agar Denna tau jika saya mencintainya karena sangat tersiksa jika kita tidak bisa mengatakan apa yang kita rasakan pada orang yang sangat kita cintai."
Jaden tampak berpikir sejenak. Tangannya menepuk pundak V dengan pelan. "Benar apa yang kamu katakan. Datanglah ke rumah untuk makan malam bersama keluarga kamu. Aku ingin lebih mengenal orang yang dekat dengan putriku."
"Ayah! Kita ini hanya berteman baik."
"Tidak masalahkan jika ayah ingin mengenal teman kamu, Sayang." usapan lembut pada kepala Denna.
"Maaf, Om, saya sudah tidak memiliki keluarga. Saya hanya memiliki seorang Kakak, tapi dia sedang berada di luar kota."
"Kalau begitu kamu saja yang ke rumah."
__ADS_1