
Pagi itu Nara yang tidur dikamarnya tiba-tiba terbangun karena mimpi buruk yang baru dia alami.
Nara beringsut duduk dan bersandar pada tepi ranjang, dia mengedarkan pandangannya melihat sekitar kamarnya.
"Aku tidak bisa tinggal di sini. Jaden suatu saat pasti akan melakukan hal buruk padaku, dia hanya menganggapku mainan yang bisa dia mainkan sesuka hatinya, baginya aku tidak berguna karena sudah membeliku. Coba aku bisa keluar dari tempat ini. Aku memilih pergi sejauh mungkin, tidak mau mengenal orang-orang ini, bahkan paman dan bibiku yang sudah tega menjualku." Nara teringat sekali lagi kejadian di mana Jaden hampir menodainya.
Tidak lama pintu di ketuk oleh seseorang dari luar. Nara sudah semakin takut saja, takut jika itu adalah Jaden atau orang-orang suruh Jaden yang ditugaskan membunuhnya karena ucapan Nara yang kemarin membuat Jaden marah.
"Nona Nara, saya Leo. Apa Nona Nara tidak mau sarapan di bawah?"
"Mas Leo? Dia kelihatannya orang yang baik. Apa sebaiknya aku minta tolong sama dia?"
Nara segera turun dari ranjang dan membuka pintunya. Dia melihat wajah Leo berdiri di depannya dengan muka heran.
"Mas Leo, sini masuk." Nara dengan cepat menarik tangan Leo dan menutup pintu kamarnya.
"Nona Nara, saya ke sini untuk menyuruh Nona makan pagi karena ini sudah jam sembilan dan Nona dari tadi belum bangun. Apa Nona baik-baik saja?"
__ADS_1
"Aku sedang tidak baik, Mas Leo. Aku--?" Nara tampak bingung mau bicara apa.
"Kamu tidak perlu cemas ataupun takut, selama kamu tidak membuka mulut tentang apa yang kamu lihat dan menurut pada tuan Jaden hidup kamu akan aman."
"Aku takut sekali melihat Jaden dengan seenaknya membunuh orang-orang itu. Dia kejam sekali dan tidak memiliki perasaan. Apa yang dia lakukan sangat buruk."
"Kamu tidak mengenal siapa tuan Jaden. Saranku, kamu menurut saja apa yang diperintahkan olehnya. Jadilah gadis yang baik dan jangan membangkang."
"Aku memang sudah dibelinya, tapi dia juga tidak berhak melakukan hal buruk padaku."
Leo melihat heran pada Nara. "Apa tuan Jaden melakukan sesuatu hal buruk sama kamu?"
"Pasti kamu mengatakan sesuatu yang membuat tuan Jaden marah."
"Aku tidak suka melihat sikap kejamnya itu. Dia seenaknya membunuh orang-orang itu."
"Mereka memang pantas dibunuh Nara," ucap Leo pelan, tapi terdengar tegas.
__ADS_1
Nara agak kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Leo. "Tapi membunuh adalah hal yang salah, Mas Leo."
"Mereka orang-orang yang disuruh untuk membunuh kedua orang tua Jaden bahkan mereka menodai kakak perempuan tuan Jaden sampai kakak tuan Jaden mati bunuh diri."
Nara seketika menutup mulutnya yang terbuka saat mendengar apa yang dikatakan oleh Leo. "A-apa itu benar, Mas Leo?"
Leo mengangguk perlahan. "Tuan Jaden sudah lama mencari mereka, dan baru sekarang dapat menemukan mereka
"Kenapa mereka membunuh kedua orang tua tuan Jaden?"
"Mereka di suruh oleh seseorang yang tidak suka pada keluarga tuan Jaden. Waktu itu tuan Jaden masih kecil saat kejadian pembunuhan itu."
Ada sesuatu yang mengganggu hati Nara saat ini. Dia tidak menyangka jika seorang Jaden yang baru dia kenal beberapa hari ini, yang baginya sangat menyebalkan dengan sikap arogannya memiliki rasa sakit yang sangat menyakitkan.
"Aku mau ke kamar Tuan Jaden, Leo."
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Meminta maaf."
"Tuan Jaden tidak ada di rumah, dia pergi kemarin malam. Sekarang sebaiknya kamu makan dulu saja karena sudah hampir menjelang siang, kamu jangan sampai sakit karena akan menyusahkan diri kamu sendiri."