
Di ruang gym, Leo hanya berdiri memperhatikan Tuannya yang sedang mengangkat barbel.
"Leo, apa kamu mencurigai seseorang yang melakukan ini?"
"Damian. Entah kenapa saya curiga padanya karena musuh besar Tuan selama ini hanya dia. Dia masih sangat dendam pada Tuan."
Jaden malah tersenyum miring mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Leo.
"Maaf, Tuan, apa perkiraan saya salah?"
"Tidak juga, bisa saja dia yang memang melakukannya, tapi ada lagi yang menginginkan aku jauh dari Nara dengan memisahkan aku seperti ini."
Leo mengangguk-angguk. "Tuan Jacob, tapi apa mungkin dia? Yang saya tau sejak kecelakaan itu dia benar-benar berubah lebih menerima semuanya."
"Aku juga berpikir begitu, tapi ayahnya pasti tidak terima dan dia bisa saja dipengaruhi oleh ayahnya."
"Bisa jadi, Tuan. Sekarang yang saya fokuskan adalah mencari tau tentang pria yang ada di penjara itu. Jika kita dapat menemukan identitasnya semua, pasti kita akan tau siapa dibalik rencana ini."
Jaden menaruh barbel yang di bawanya. "Aku juga sedang mengawasi Jacob. Aku ingin tau apa dia terlibat dalam hal ini apa tidak."
"Maaf, Tuan, bagaimana jika dia terlibat dalam hal ini?"
Jaden terdiam sejenak. "Aku tidak tau, Leo."
Tampak tangan besar menepuk pundak seorang pria yang sedang berdiri di depannya. "Jaden, kakek percaya sama kamu, meskipun kamu bukan cucu kandungku, tapi entah kenapa aku begitu besar menaruh harapan pada kamu untuk meneruskan apa yang sudah kakek bangun."
"Kek, bagaimana dengan Jacob dan putra kakek sendiri?"
Terlukis senyum kecil pada bibir pria dengan postur tubuh tinggi tegapnya serta rambut yang semuanya berwarna putih. "Mereka tidak akan pernah mengusik hal ini karena mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau. Perusahaan terbesar milik kakek sudah kakek berikan pada mereka, walaupun ada rasa menyesal dari diri kakek saat menyerahkan hal itu."
"Maksud kakek?" Pria yang tak lain adalah Jaden ini tampak melihat heran pada kakeknya.
"Sudahlah! Jaden, ingat pesan kakek. Apapun yang dilakukan oleh Jacob, kamu harus ingat jika dia adalah saudara kamu. Bersikaplah sebagai kakak yang selalu melindungi adik kamu."
"Iya, aku selalu ingat dengan pesan kakek itu. Kakek sangat menyayangi Jacob, hanya saja dia sepertinya yang tidak mengerti akan hal itu."
"Kakek tidak perlu rasa terima kasih dari Jacob. Melihat dia bahagia saja kakek sudah sangat bahagia."
"Tuan ... Tuan Jaden," panggil Leo yang mencoba menyadarkan Jaden dari lamunannya.
"Ada apa Leo?" Jaden baru saja menginjakkan kakinya lagi ke bumi.
"Maaf, Tuan sedang melamun apa?"
__ADS_1
"Aku hanya teringat dengan mendiang kakekku."
Brak!
Ada seseorang terlihat pergi dari sana, dan sepertinya dia sedang menguping pembicaraan Jaden dan Leo.
"Siapa di sana?" tanya Jaden dengan nada tingginya.
"Maaf, tadi aku tidak sengaja menabrak kaki meja." Nara memegang kakinya yang sakit.
"Nara, kamu tidak apa-apa?" Leo mendekat dan mencoba memeriksa kaki Nara.
"Ehem!" Jaden dengan cepat berdehem untuk membuat Leo tidak mendekat pada Nara.
"Maaf, Tuan, saya hanya ingin memeriksa kaki Nara saja."
Jaden mendekat pada Leo dan menatapnya tajam. "Kamu juga bisa menjadi salah satu orang yang harus aku curigai, Leo."
"Sa-saya? Saya tidak akan berani berkhianat pada Tuan Jaden. Apa lagi Tuan sangat baik terhadap saya."
Plak!
Nara malah memukul lengan kekar suaminya. "Kenapa harus curiga sama Mas Leo? Kalau dia mau berkhianat sama kamu. Mas Leo tinggal memberi kamu racun saja. Kenapa susah-susah seperti ini?"
"Kenapa kamu malah memberi ide pada Leo?"
Leo malah menahan tawa di sana melihat pertengkaran Nara dan Jaden. "Apa yang kamu tertawakan, Leo? Kamu lihat Nara. Dia suka melihat kita bertengkar, bisa saja dia memang punya rencana jahat."
"Sebaiknya saya pergi saja, Tuan, daripada saya nanti di salahkan terus."
"Pergi sana!" usir Jaden.
Leo segera berjalan pergi dari sana. Nara menggelengkan kepala beberapa kali melihat pada suaminya.
"Aku ke sini karena nenek menyuruh segera bersiap-siap untuk makan bersama."
"Hem!" jawab Jaden singkat.
Nara hanya menghela napasnya lirih. "Kalau begitu aku mau mandi dulu, badanku lengket sekali setelah tadi membantu Renata di dapur."
Nara berbalik badan dan saat akan melangkah, tiba-tiba tubuhnya seolah melayang. Jaden ternyata malah menggendongnya ala karung beras dan membawanya masuk ke ruang gym yang agak dalam. Nara diletakkan di atas matras tebal di sana.
"Kenapa malah membawaku ke sini?"
__ADS_1
"Aku mau melihat kaki kamu tadi." Jaden memeriksa kaki Nara.
Nara tampak tersenyum senang karena suaminya begitu perhatian dengannya.
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Kakiku juga sudah tidak sakit."
"Lain kali hati-hati, kamu sering kali ceroboh." Nara mengangguk." Jaden sekarang mendekatkan wajahnya pada Nara. "Mau menemaniku olah raga pagi?"
"Olah raga pagi? Maksud kamu berolah raga dengan semua alat berat di sini? Aku tidak mau, Sayang. Aku lebih suka jogging atau berenang saja, daripada menggunakan alat berat ini."
Jaden tersenyum mendengar jawaban istrinya. "Dasar bodoh! Bukan itu yang aku maksud."
"Maksud kamu apa? Jangan membuat orang pusing dengan maksud pertanyaan kamu." Nara mendorong tubuh Jaden hendak pergi dari sana, tapi dengan cepat Jaden menahan tangan Nara dan sekarang dia malah membaringkan tubuh Nara pada matras di sana.
"Kamu mau apa?"
"Olah raga pagi denganmu," Jaden mengeja kalimatnya.
Nara kembali berpikir, dan sekarang dia paham apa yang di maksud oleh suaminya saat tangan Jaden menelungsup ke dalam piyama tidur Nara.
"Kamu mau melakukannya di sini?"
"Kenapa memangnya?"
"Tidak mau! Apa kamu sudah gila?" Sekali lagi Nara mendorong tubuh Suaminya dengan kuat agar terlepas dari kungkungan Jaden.
"Kamu tidak akan bisa lepas dariku, Nara."
"Aku akan teriak kalau kamu tidak lepaskan."
"Teriak saja, orang-orang di rumah ini bahkan nenek tidak akan ada yang menolongmu."
"Sayang, kenapa yang ada di pikiran kamu cuma hal seperti ini? Lepaskan." Nara mencoba menahan tangan Jaden yang akan membuka pengkait bra-nya
"Kamu yang membuatku seperti ini."
"Kenapa aku?"
"Sejak melakukan pertama kali dengan kamu, membuat aku ketagihan atas diri kamu. Jadi kamu yang membuat aku seperti ini."
"Apa? Enak saja. Aku, kan tidak bermaksud begitu kalau tidak ingin menolong kamu."
"Tidak peduli apa alasannya."
__ADS_1
"Jangan di sini. Aku berjanji, nanti malam saja kita lakukan di kamar. Bagaimana?" Nara tampak memohon.
Jaden berpikir sejenak. Tidak masalah jika dia menunggu sampai nanti malam. "Baiklah, kalau begitu sekarang kita mandi bersama saja." Jaden membawa tubuh Nara ala bridal style.