
Evans melihat pada saudara sepupunya. "Dia gadis yang harus aku taklukkan karena aku ingin meruntuhkan sikap angkuhnya padaku. Tidak ada gadis yang bisa menolakku."
"Ck! Lupakan saja dia. Aku akan kenalkan pada teman-temanku yang jauh lebih cantik dan pastinya bisa diajak bersenang-senang."
"Nanti saja setelah aku bersenang-senang dengan Denna."
"Memangnya kamu punya rencana apa?" tanya Mandy penasaran.
"Nanti malam di pesta ulang tahun teman satu kelasku yang akan dilaksanakan di hotel mewah. Aku sudah menyiapkan satu buah kamar istimewah untukku dan gadis itu."
"Wow! Kamu benar-benar ingin membuat masa depan gadis itu hancur?"
"Hem! Aku ingin melihat dia menangis memohon padaku untuk tidak meninggalkannya, tapi aku tidak akan mau karena aku sudah mendapat apa yang aku inginkan." Evans dan saudara sepupunya malah tertawa jahat.
"Semoga berhasil, saudara terbaikku," ucap Mandy dengan senyum miringnya.
Denna menemui ayahnya dengan hanya satu buah ice cream. Itu pun rasa stroberi, sedangkan Denna suka rasa coklat.
"Ini ice cream untuk Ayah." Denna menyerahkan ice cream di tangannya.
"Kenapa cuma satu? Apa sudah habis?"
Denna tidak mau menceritakan hal yang terjadi. Bagi dia masalah itu tidak penting, jadi ayahnya tidak perlu tau.
"Iya, Yah, dan tinggal rasa stroberi."
"Kalau begitu untuk kamu saja."
Denna menggeleng. "Aku tidak suka rasa stroberi, Yah. Aku lebih suka rasa coklat atau vanila."
"Kok aneh."
"Apanya yang aneh, Yah?" Denna melihat bingung.
"Biasanya anak-anak gadis seusia kamu suka sekali dengan stroberi, tapi kenapa putri ayah tidak?"
"Aku, kan, putri Jaden Luther. Ayah yang menurunkan sifat yang sama padaku, yaitu tidak suka stroberi."
Jaden menepuk pelan kepala putrinya. "Sudah tau ayah juga tidak suka stroberi, kenapa tetap membelinya?"
__ADS_1
"Biar penjual ice cream itu bisa segera pulang karena ice creamnya habis terjual."
"Kalau ini sifat mama kamu. Lantas, mau kita bawa pulang saja ice cream ini?"
Denna melihat sekitarnya dan kemudian dia berjalan dekat pohon rindang yang di bawahnya ada anak kecil sedang menangis karena kue yang dia pegang jatuh.
Denna memberikan ice cream itu agar anak kecil itu tidak menangis. Lalu, dia kembali menemui ayahnya.
"Kalau dibawa pulang, pasti meleleh dan kita mendapat hadiah omelan dari mama. Lebih baik diberikan saja sama anak kecil itu dan kita mendapat hadiah sebuah senyuman," terang Denna.
Jaden senang melihat ketulusan hati putrinya yang mirip sekali dengan Nara, tapi sifat Jaden juga melekat pada diri gadis itu jika sedang ada hal yang tidak pas untuknya.
Mereka berdua pulang ke rumah dan makan pagi bersama. "Denna, mama sudah menyiapkan gaun yang bisa kamu pakai ke acara ulang tahun nanti malam. Ada di dalam kamar kamu."
"Terima kasih, Mama." Denna mengecup pipi Mamanya dan karena sudah makan pagi dia izin ke kamarnya dengan mengajak neneknya.
Nara melihat Denna dan Nenek sudah naik ke lantai atas. Dia mendekati Jaden. "Sayang, apa tidak apa-apa kita biarkan Denna datang ke acara ulang tahun itu?" Nara bertanya pada suaminya yang sedang menikmati coklat hangatnya.
Jaden melihat pada istrinya lalu dia tersenyum. "Kamu khawatir tentang apa yang dikatakan Damian padaku?"
Nara duduk di samping suaminya. "Bukan itu saja. Jujur saja, saat kita memiliki Denna aku jadi takut dan sering kepikiran. Kamu tau sendiri jika musuh kamu masih sangat banyak. Mereka tidak dapat melukai kamu, tapi bisa melukai Denna, dan aku tidak mau terjadi apa-apa pada putriku."
"Aku juga ingin seperti itu, tapi wajar jika aku khawatir, Jaden. Apa lagi nanti malam acaranya pasti sampai malam dan kamu tau anak muda sekarang."
"Aku sudah memikirkan tentang keselamatan Denna. Denna akan dilindungi dan selalu diawasi oleh seorang bodyguard yang sudah aku siapkan, tapi tanpa sepengetahuan Denna."
"Apa? Kenapa kamu tidak bicara padaku tentang itu?"
"Aku minta maaf, tapi aku takut jika aku bicara denganmu yang ada nenek tau dan akhirnya Denna juga tau. Denna pasti tidak akan mau."
"Apa tidak akan membuat Denna marah nanti?"
Jaden mengangkat bahunya ke atas. "Selama dia tidak tau, dia tidak akan marah."
"Kalau dia tau bagaimana?"
"Kita pikirkan nanti saja," jawab Jaden santai. Nara hanya bisa menghela napasnya pelan.
Di dalam kamarnya, Denna sedang mencoba gaun yang dibelikan oleh mamanya. Gaun warna hitam selutut dengan model rok peplum. Bagian atasnya lengan model u can see menutup penuh lehernya.
__ADS_1
"Cicit nenek pasti cantik memakai baju ini."
"Cantikku, kan, menurun dari Nenek. Nenek dulu pasti juga cantik memakai baju seperti ini."
"Tentu saja, kalau tidak cantik, tidak mungkin mendiang kakek buyut kamu jatuh cinta pada nenek," terang nenek menyombongkan dirinya.
Denna tersenyum memeluk nenek buyutnya. "Jadi, Nenek buyut dan kakek buyut bertemu di acara pesta ulang tahun teman nenek?"
"Begitu. Kita waktu itu masih sama-sama baru lulus kuliah dan bertemu di sana. Itu awalnya dan masih panjang ceritanya."
"Ceritakan, Nenek Buyut."
"Kalau nenek cerita yang ada sampai besok cerita nenek tidak selesai."
"Nenek cerita perlahan-lahan saja, sambil nenek tetap bisa meneruskan pekerjaan Nenek."
Wanita yang sekarang terlihat lebih tua, tapi masih terpancar aura cantiknya itu mengusap lembut pipi Denna. "Bantu nenek berkebun, maka nenek akan ceritakan kisah nenek."
"Setuju!" Tangan Denna menjabat tangan neneknya.
Liburan sekolah hari ini Denna banyak menghabiskan waktu dengan nenek buyutnya. Denna memang bukan gadis remaja yang suka kelayapan ke mana-mana walaupun banyak anak laki-laki yang menyukainya, bahkan sering mengajak dia keluar jalan jika liburan sekolah. Denna lebih suka di rumah atau jalan-jalan dengan keluarganya dan sahabatnya-- Diaz.
"Putri mama cantik sekali," puji Nara yang baru membuka pintu kamar Denna dan melihat putrinya sudah siap dengan gaun yang dia belikan.
"Mama bisa saja. Aku melihat diriku di cermin biasa saja seperti diriku setiap hari."
"Kata siapa? Kamu sangat cantik malam ini, Sayang."
"Terima kasih, Mama."
Tidak lama terdengar suara panggilan dari salah satu pelayan di rumah itu yang mengatakan jika Diaz sudah datang dan menunggu di ruang tamu.
Denna turun dan melihat wajah bahagia sahabatnya. "Kamu cantik sekali, Denna."
"Kamu juga kenapa malam ini cantik sekali?" Denna melihat Diaz dari atas sampai bawah.
"Jangan menghinaku, Denna."
"Memangnya aku pernah menghina atau berbohong sama kamu? Ck! Mantan kekasih kamu memang bodoh karena tidak bisa melihat berlian secantik kamu."
__ADS_1