Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Perhatian, Kah?


__ADS_3

Nara berjalan menuju pintu keluar kamar Jaden. Namun, langkahnya berhenti saat mendengar panggilan dari pria yang menjadi Tuannya.


"Ada apa lagi, Tuan Jaden?" tanya Nara malas.


"Kamu buat saja masakan yang tidak terlalu lama memasaknya, atau sup seperti tadi saja. Aku mau masakan itu jadi sebelum Leo dan nanti beberapa para pengawal baruku datang. Apa kamu paham dengan ucapanku?" tanya Jaden tegas.


Nara agak bingung ini dengan apa yang dikatakan oleh Jaden. "Memangnya kenapa kalau Mas Leo nanti datang pada saat aku masih memasak? Mas Leo pasti mau membantuku."


"Kamu mau dilihat Leo dengan penampilan kamu yang menunjukkan kaki dan paha kamu itu?"


Nara melihat pada dirinya dari bawah. "Tidak mau, dilihat sama Tuan saja tidak mau aku sebenarnya, tapi bagaimana lagi, dari pada aku tel--." Nara langsung menutup mulutnya.


"Kalau begitu cepat buat masakannya dan jangan lama-lama. Masak saja dengan menu yang praktis."


"Iya. Kenapa dia jadi cerewet?" gerutu Nara dan Jaden masih bisa mendengarnya.


"Jangan suka menggerutu, Nara, atau kamu akan mendapat hukuman dariku."


Nara tidak menjawab, dan langsung segera pergi dari kamar Jaden. "Hukuman ... hukuman, memangnya dia hakim sedikit-sedikit memberi hukuman.


Nara segera berjalan menuju dapurnya dan mulai membuat masakan, dia melihat ada beberapa bahan yang masih bisa dia gunakan untuk membuat sup.


Nara hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk membuat sup dan tumis sayur serta menggoreng ikan dan ayam. Nara juga sudah menanak nasi dan dia tinggal menunggu nasi matang dengan sendirinya.


"Sudah selesai semuanya dan sudah aku hidangkan di atas meja makan. Sekarang aku mau mandi dulu." Nara berjalan menuju kamar Jaden untuk bertanya sesuatu.


Nara mengetuk pintu dan suara dari dalam menyuruhnya masuk. Nara melihat Jaden sedang duduk bersandar dengan serius dengan ponselnya.


"Tuan JL, makanan sudah siap semua. Apa Tuan mau makan lagi?"


"Tidak, aku masih kenyang," jawab Jaden tanpa melihat pada lawan bicaranya.


"Tapi Tuan, aku tadi memasak agak banyak, sedangkan hanya tuan nanti yang makan, apa tidak sayang nanti makanannya masih sisa banyak. Kalau ada tetangga bisa aku berikan pada para tetangga."

__ADS_1


Jaden menaruh ponselnya dan melihat pada Nara. "Kenapa bingung mencari tetangga? Aku bisa menghabiskan semua masakan kamu."


"Hah? Masakan aku hari ini sangat banyak, jangan dihabiskan semua. Di sini ada Mas Leo kan nanti dan para pengawal baru. Apa boleh aku memberikan kepada mereka nantinya?"


Jaden merasa terharu mendengar permintaan Nara yang baginya gadis di depannya ini benar-benar baik dan memikirkan orang lain.


"Tentu saja boleh. Nanti bawakan saja makananku ke sini."


"Iya, kalau begitu aku mau mandi dulu karena aku bau asap dapur. Eh, tapi bajuku belum datang. Tuan Jaden, apa aku boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa?"


"Nanti kalau mas Leo datang, tolong suruh meletakkan bajuku di bawah depan pintu saja. Nanti biar aku yang mengambilnya.


"Kalau begitu kamu mandi di kamar mandiku saja dan biar Leo nanti membawanya ke kamarku."


Nara mendelikkan kedua matanya. "Tidak mau! Kita ini bukan suami istri yang bisa seenaknya buka-bukaan begini. Tolong, Tuan!" Nara melipat tangannya ke depan untuk memohon pada Jaden.


"Baiklah, nanti akan aku katakan pada Leo."


"Terima kasih, Tuan." Nara izin keluar dari kamar Jaden dan menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Leo yang datang dengan membawa beberapa tas belanjaan yang sudah di pesan oleh Jaden membawa tas itu ke kamar Nara dan meletakkan di bawah pintu.


Nara yang tau bahwa bajunya sudah ada di depan pintu segera membuka perlahan-lahan pintunya dan melihat kanan kiri dengan hanya menyembulkan kepalanya ke depan.


"Banyak sekali." Nara menaruh tas di atas tempat tidurnya. "Katanya dia hanya membelikan beberapa saja."


Nara melihat satu persatu baju yang dibelikan oleh Jaden, dan ada baju yang menjadi seleranya, yaitu celana jeans panjang berwarna biru gelap dan kemeja lengan pendek berwarna putih, dia suka sekali dengan warna biru gelap dan putih.


"Aku pakai ini saja." Nara dengan cepat menyambar baju itu dan mencobanya.


Nara keluar dari kamarnya dan segera menuju meja makan. Di sana masih sepi tidak ada siapapun. "Mas Leo ke mana? Apa dia di kamar tuan?"

__ADS_1


Nara berjalan menuju kamar Jaden dan saat tangannya akan mengetuk daun pintu. Nara tidak sengaja mendengar apa yang Jaden dan Leo katakan di balik pintu yang tidak tertutup dengan rapat.


"Tuan Jaden, apa yang akan Tuan lakukan padanya?"


"Aku masih belum merencanakan sesuatu padanya. Untuk sementara, dia akan menjadi pelayan dan perawat buatku. Nanti kalau aku sudah tidak membutuhkan akan aku bawa dia ke Kanada."


"Apa? Siapa yang dimaksud oleh Tuan JL? Apa itu aku?" Nara menunjukkan jari telunjuknya ke arahnya.


"Apa sesuai rencana awal waktu itu?"


"Kita lihat saja, Leo. Sebaiknya jangan membahas masalah ini, apagi di depan Nara."


"Jadi benar yang di maksud itu aku." Nara mendengus marah. "Kenapa tadi dia mengatakan aku lebih baik bertemu dan dijual padannya? Daripada aku dijual pada mucikari di luar negeri untuk dijadikan wanita penghibur, tapi dia sebenarnya merencanakan hal yang sama. Dia memang serigala berbulu domba."


"Nara, kamu di sini?" suara mas Leo yang mengejutkan Nara dari balik pintu.


"Mas Leo, a-aku ke sini mau bertanya pada tuan Jaden apa dia mau makan malam sekarang, dan tadi aku juga bermaksud untuk mencari Mas Leo."


"Mencariku?" Nara mengangguk. "Untuk apa mencariku?"


"Menawari makan malam buat Mas Leo dan para pengawal yang baru datang. Aku tadi membuat beberapa masakan yang tidak mungkin Tuan JL habiskan sendiri."


"Oh itu. Terima kasih, Nara. Nanti aku akan mencoba masakan kamu. Sekarang aku mau pergi ke ruang kerja tuan Jaden karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Iya." Nara mengangguk.


"Nanti pasti aku coba masakan kamu." Pria yang memilik senyum begitu manis itu menepuk kepala Nara perlahan.


Entah kenapa Nara merasa jika mas Leo itu begitu lembut dan hangat. "Mas Leo, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


Leo yang sudah berjalan di depan Nara, seketika terhenti langkahnya dan menoleh ke arah belakang. "Mau bertanya tentang apa?"


Nara tampak takut dan bingung mau bertanya tentang hal yang tadi Jaden dan Mas Leo bicarakan, tapi Nara penasaran. Nara tidak akan mau kalau nanti Jaden ternyata diam-diam akan menjualnya ke luar negeri untuk di jadikan gadis penghibur.

__ADS_1


__ADS_2