
Langkah kaki seseorang itu berjalan perlahan mendekat ke arah pria yang masih dengan aura dinginnya menatap tajam.
"Untuk apa kamu datang ke sini? Bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi, Mauren?"
Wanita yang dipanggil Jaden dengan nama Mauren itu malah duduk di atas meja kerja tepat di samping kursi milik Jaden. Tampak paha mulus wanita itu terekspose dengan indahnya, tapi Jaden sama sekali tidak tertarik lagi dengan hal itu.
"Kita masih ada hubungan, Sayang. Apa kamu lupa dengan apa yang kamu katakan dulu padaku, bahwa kamu sangat mencintaiku, dan kita belum ada kata berakhir sama sekali."
"Kamu itu memang bodoh apa pura-pura bodoh? Bukankah kamu sudah memutuskan bersama pria yang kamu cintai dan memilih pergi meninggalkan aku? Sejak saat itu aku anggap kita sudah tidak ada apa-apa lagi."
"Ayolah, J. Aku hanya bersenang-senang dengan dia, tapi sekarang aku sadar jika sama sekali tidak lebih hebat dari kamu." Tangan wanita itu mengusap lembut bibir Jaden.
Pria dingin itu seketika beranjak dari tempat duduknya dan mencengkeram dagu wanita yang sama sekali tidak merasa ketakutan melihat Jaden. Seolah wanita itu sudah terbiasa dengan Jaden.
"Pergi dari hadapanku sekarang! Kamu tidak ada artinya lagi bagiku, Mauren," ucap Jaden dingin.
Tangan Mauren mengusap lengan tangan Jaden dengan sangat lembut, bahkan tangannya berani menyentuh bagian sensitif dari Jaden.
"Apa kamu tidak menginginkan aku, Sayang? Jujur saja aku sangat merindukan kamu. Hari ini aku tidak ada pekerjaan, bagaimana jika kita ke apartemen kamu dan menghabiskan waktu bersama?"
Jaden menahan tangan Mauren yang ingin lebih lama di bagian sensitifnya. "Aku sama sekali tidak tertarik lagi padamu. Ada seseorang yang jauh lebih menggairahkan darimu, dan dia sudah lebih dulu memiliki aku seutuhnya," Jaden menekankan kata-katanya dan memberi seringai pada wajah Mauren yang terlihat terkejut.
Jaden berjalan pergi dari sana meninggalkan wanita yang dulu pernah singgah di hatinya.
"J ...!" teriaknya kesal, tapi sama sekali tidak dipedulikan oleh Jaden. "Argh!" Mauren melempar semua yang ada di atas meja Jaden sampai berserakan di atas lantai.
"Tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisiku di hati Jaden. Jaden, aku tau siapa kamu, kamu tidak akan begitu mudah jatuh cinta pada seseorang karena hatimu terlalu beku untuk dapat dicairkan. Kamu pasti berbohong padaku!" Tangan wanita cantik itu menggenggam erat kertas yang ada di atas meja Jaden.
Di rumahnya, Nara yang lelah setelah dari pagi bersih-bersih rumah Jaden, apa lagi dia harus menahan rasa sakit pada pangkal pahanya, jadi dia memutuskan untuk membuat dirinya nyaman dengan berendam di dalam bathub memakai air hangat.
__ADS_1
"Nyaman sekali!" Nara menyandarkan kepalanya pada tepian bathubnya dan memejamkan kedua matanya dengan nyaman. Dia juga menyalakan aroma terapi agar lebih rileks.
"Aku nikmati saja hidupku seperti ini, masa depanku sudah hancur, jadi aku lebih baik memutuskan akan hidup saja seterusnya dengan si Tuan dingin itu sampai dia nanti mendapatkan seorang pendamping, dan jika hal itu sampai datang. Aku harus kuat dan menerima nasibku yang begitu buruk," Nara berdialog sendiri.
Nara memejamkan kedua matanya dengan rapat. Beberapa menit kemudian, Nara merasakan ada seseorang yang masuk ke dalam kamar mandinya, dia seketika membuka kedua matanya. "Tuan JL? Ke-kenapa Tuan sudah datang?"
"Pekerjaanku di kantor sudah selesai, makannya aku pulang." Jaden bersandar santai pada daun pintu.
Nara yang baru sadar akan dirinya di dalam bathub langsung menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya dan agak menenggelamkan tubuhnya tertutup busa sabun.
"Tuan keluar dulu, aku akan berganti baju untuk menyiapkan makan siang, Tuan. Tuan ini kerja apa sebenarnya? Kenapa masih siang begini sudah pulang? Setahu aku orang bekerja itu pulang sore kalau tidak malam hari."
"Itu kantorku, Nara, jadi terserah aku mau pulang jam berapa." Jaden malah masuk dan mengunci pintu kamar mandinya.
"Tuan, kenapa pintunya malah dikunci?" Nara agak kaget.
"Apa orang lain yang Tuan maksud itu adalah Tuan Jaden sendiri?" gerutu Nara.
Jaden tidak menjawab, dia malah dengan santai melepaskan kancing kemejanya satu persatu.
"Tuan? Tuan mau apa?" Nara reflek beranjak dari tempatnya.
"Kamu kelihatan Nara," ucapnya santai tanpa melihat pada Nara.
Nara yang sadar, langsung masuk kembali ke dalam bathub. "Tuan! Tuan mau apa?" tanya Nara kesal.
"Mau mandi, aku ingin berendam sejenak."
"Kalau mau berendam, kenapa tidak di kamar mandi Tuan sendiri? Bukankah di sana lebih besar?"
__ADS_1
"Tidak enak, lagi pula ini juga kamar mandiku. Kenapa kamu cerewet sekali?" Jaden sudah melepaskan semuanya dan dia malah masuk ke dalam bathub menggeser tubuh Nara. Seketika tubuh Nara menjadi patung merasakan sentuhan tubuh pria yang sekarang duduk di belakangnya.
"Nyamankan tubuh kamu." Tangan Jaden menarik tubuh Nara agar bersandar pada dada bidangnya.
Nara menurut dan terdiam. Dia takut jika Jaden meminta lagi apa yang terjadi kemarin malam dengan mereka berdua.
Pria yang ada di belakang Nara tampak memejamkan kedua matanya, sambil salah satu tangannya melingkar pada leher Nara.
Nara tampak menunduk tidak melakukan pergerakan apapun. Dia masih bingung dengan keadaan mereka saat ini.
"Tuan, kamu tidak akan meminta hal itu lagi, Kan?" tanya Nara yang penasaran dan tidak sabar ingin mengetahui apa maksud Jaden dengan berendam bersamanya.
"Kamu mau lagi? Kalau mau kita akan lakukan?" ucap Jaden santai dengan mata masih terpejam.
Nara langsung menoleh pada Jaden. "Tidak mau! Aku bukan pela--."
Bibir Jaden seketika membungkam mulut Nara. Jaden mengecup bibir Nara dengan lembut, menikmatinya, bahkan Nara pun malah membalasnya.
Beberapa menit kemudian kedua insan yang bukan pasangan kekasih itu saling menatap. "Jangan pernah mengatakan hal itu. Bagiku kamu bukan pelacur. Aku menghormati dirimu, kamu adalah gadis terhormat bagiku" Jaden memeluk Nara dengan erat. Jaden benar-benar tidak tau ada perasaan apa dia dengan gadis yang berada di pelukannya. Dia tidak mau gadis di depannya ini jauh darinya, tapi dia juga tidak akan bisa memilikinya.
Nara tidak berkata apa-apa, dia hanya membalas pelukan Jaden. Ingin dia berkata pada Tuan JL nya jika dia benar-benar mencintainya, tapi Nara sudah tau jawaban menyakitkan yang akan Jaden berikan.
Mereka sudah memakai handuk mandinya sendiri-sendiri. Mereka tidak melakukan apa-apa loh ya, hanya mandi.
"Nara lusa aku akan membawa kamu menemui nenekku di rumahnya."
"Apa? Me-menemui nenek?" Nara tampak kaget.
"Iya, wanita tua itu akan mengganggu hidupku jika aku tidak membawa kamu menemuinya." Jaden dibantu Nara mengeringkan rambutnya.
__ADS_1