Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Bertemu Seseorang part 1


__ADS_3

Sekali lagi wanita tua itu melihat hadiah di dalam kotak besar yang berisi sketsa wajah Jaden dengan kakeknya dan ada neneknya juga. Di sana juga ada cincin hadiah ulang tahun neneknya pemberian kakek Jaden yang dulu hilang, ternyata ditemukan oleh Jaden.


"Seharusnya di belakangnya ada satu lagi wajah dari calon istri dia, tapi kalau aku bahas masalah itu, dia pasti nanti marah denganku.


Jaden menunggu neneknya di ruang tengah rumah utama dengan melihat pada layar tabletnya. Dia sedang mengawasi apa yang dilakukan oleh pelayan tawanannya.


Jaden melihat Nara masuk ke dalam kamarnya membawa baju-baju Jaden yang sudah dia setrika rapi dan menatanya ke dalam lemari besarnya.


Setelah meletakkan baju-bajunya, Nara malah mengambil kemeja hitam milik Jaden dan melepas bajunya. Nara tidak tau jika Jaden dapat melihat semuanya. Nara memakai setelah kemeja Jaden yang kebesaran dengannya. Dia bergaya meniru Jaden.


"Dia sudah gila, ya? Memangnya penampilanku seburuk itu?" Kedua alis Jaden mengkerut.


Nara bahkan terlihat seolah-olah dia sangat angkuh dan sombong. Sekali lagi Jaden terlihat menatap aneh pada layar tabletnya.


"Kamu sedang melihat apa, Sayang?" Tiba-tiba suara nenek Miranti sudah ada di belakangnya.

__ADS_1


Jaden segera mematikan tabletnya dan menoleh ke arah belakangnya. "Aku hanya melihat siaran berita saja, Nek." Bohongnya.


"Tapi nenek tadi mendengar suara seorang wanita."


"Itu hanya iklan." Jaden beranjak dari tempatnya dan melihat neneknya dari atas kebawah. "Kalau begini bahkan bidadari juga kalah sama nenek."


"Sudah! Kita berangkat sekarang saja dari pada nenek kamu rayu terus," balas neneknya.


Jaden berdiri dan tersenyum pada neneknya. Tangan Jaden berkacak pinggang dan tangan neneknya dimasukkan ke dalam lengan Jaden yang membentuk lingkaran.


"Kita akan makan malam di restoran favorit Nenek dan Kakek." Mereka melangkah pergi dari sana.


Makan malam di sebuah restoran yang tidak terlalu mewah tapi di sana banyak sekali kenangan akan masa lalu mendiang kakek Jaden.


"Masakan di sini tetap saja enak walaupun sekarang anaknya yang mengelolanya."

__ADS_1


"Iya, mungkin kedua orang tuanya meninggalkan resep rahasia masakan di sini agar dapat diteruskan oleh anaknya, Nek." Jaden duduk saling berhadapan dengan neneknya dan sesekali menyuapkan makanan pada mulut neneknya.


Tampak wanita cantik itu wajahnya berseri bahagia. "Sayang, kapan kamu pulang ke rumah dan tinggal dengan nenek? Apa enaknya tinggal di apartemen kamu yang sepi itu?"


" Aku akan sering menemui nenek. Aku tinggal di apartemen itu agar lebih dekat dengan perusahaan baruku yang baru aku bangun."


Nenek Miranti ini tidak tau kalau Jaden memiliki rumah tersembunyi yang sekarang dia gunakan untuk menahan Nara di dalamnya, dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya. Orang-orang yang dapat di percaya olehnya.


"Nek, aku permisi ke belakang dulu." Jaden beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju toilet.


Saat dia sedang berjalan, dirinya tidak sengaja di tabrak oleh seseorang. "Hei! Kamu tidak melihat ya?" ucap seorang gadis dengan kasarnya.


Jaden hanya terdiam melihat gadis itu yang sibuk memeriksa bajunya. Sampai akhirnya gadis itu melihat pada Jaden dan dia malah melongo.


"Kamu yang tidak bisa melihat jalan," ucap Jaden tegas.

__ADS_1


"Maaf, memang aku yang salah," seketika nada suara gadis itu berubah lembut."


"Menyebalkan!" seru Jaden kesal dan berjalan pergi dari sana tidak menghiraukan gadis yang baru Menabraknya.


__ADS_2