
Jaden mulai mendekat pada Nara, tangannya membelai perlahan pipi Nara dan terus turun menjelajahi tubuh Nara.
Tentu saja hal itu bukan hal yang disukai oleh Nara, sekujur tubuhnya bergetar ketakutan. Apalagi dia melihat tatap Jaden dari tadi melihatnya seolah ingin memakannya.
"Hentikan, Tuan, aku benar-benar menyesal sekarang, aku tidak akan melakukan hal yang kamu larang."
Tangan Jaden sudah menyentuh bagian indah Nara. Nara yang tidak pernah disentuh seseorang sama sekali dengan sekuat tenang mencoba menghindar, dia sekarang benar-benar tidak dapat menahan tangisnya. Dia menangis dengan sangat keras.
Jaden tidak merasa kasihan dia malah mencengkeram dagu Nara dan menyentuhkan bibirnya pada bibir Nara. Menikmati bibir Nara yang sebenarnya membuat dia ketagihan saat baru pertama kali merasakannya, tapi Jaden bukan tipe pria yang mudah menunjukkan keinginannya.
"Hen-ti-kan ... bunuh saja aku. Aku tidak ingin hidup seperti ini." Nara menangis saat pria di depannya itu malah sibuk melukiskan tanda merah pada leher Nara.
"Mati terlalu enak buat kamu. Aku juga bisa dengan mudah melakukannya. Bagaimana jika aku membunuh kamu dari dalam. Kamu sangat membenci diperlakukan seperti wanita murahan, tapi sekarang aku akan membunuhmu perlahan dengan membuat kamu seperti wanita murahan."
__ADS_1
Nara menatap nanar pada Jaden, kedua matanya sembab karena dari tadi tidak henti menangis.
Jaden menurunkan tangannya dan sekarang menuju underwear yang masih melekat pada tubuh Nara. "Jangan lakukan, aku mohon, kalau kamu melakukannya aku bersumpah akan membunuh diriku sendiri." Tangan Jaden perlahan terhenti mendengar apa yang dikatakan oleh Nara. Dia seolah teringat akan suatu kejadian.
Jaden tiba-tiba pergi dari dalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan membantingnya sangat keras.
Nara yang mendengar suara bantingan pintu kamar mandi sontak kaget. Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok Jaden dengan napas naik turun.
"Apa aku harus membunuhnya saja? Kenapa dia susah sekali menurut dengan apa yang aku katakan?" Jaden segera mengambil minumannya dan meneguknya dengan cepat sampai habis.
Jaden keluar dari kamar setelah memakai setelan baju kasualnya dan dia masuk ke dalam ruang kerjanya.
Jaden membiarkan Nara tetap di dalam kamar mandi sendirian. Nara yang berada di dalam kamar mandi mencoba melepaskan ikatan tangannya, tapi tetap saja tidak bisa.
__ADS_1
"Di sini dingin sekali," ucap Nara terbata. Nara yang kelelahan akhirnya memejamkan kedua matanya sampai dia tertidur.
***
Keesokan harinya Jaden yang terbangun di kursi kerjanya melihat bahwa hari sudah pagi. Sinar matahari menembus jendela kaca ruang kerjanya yang lupa dia tutup tirainya.
Jaden segera beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kamar tidurnya. Jaden ingat dia masih mengikat Nara di dalam kamar mandinya.
"Mungkin gadis itu kali ini benar-benar akan jera. Jika tidak akan aku bunuh saja dia karena akan membuat aku dalam masalah."
Jaden membuka pintu kamar mandi dan melihat tubuh Nara yang terikat. Jujur saja ada sesuatu dari diri Jaden yang tiba-tiba timbul.
"Oh ****! Kenapa aku ini? Tahan Jaden, kamu hanya ingin memberi pelajaran pada gadis itu," Jaden berdialog sendiri sambil terus menatap tubuh Nara, di mana Nara masih memejamkan kedua matanya. Nara masih terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1