
Jaden tidak menjawab pertanyaan dari wanita yang sedang berbicara dengannya. Dia malah terdiam. Wanita itu kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada Jaden.
"Tidak boleh, Wanitaku. Aku tidak akan membelikan kamu coklat karena aku tidak mau sampai kehilanganmu."
"Kamu jangan khawatir. Nenek tidak akan pergi dari kamu sebelum nenek bisa mendapat cucu dari kamu, Jaden sayang."
"Sepertinya nenek akan hidup lama karena harus menunggu cucu dariku," ucapnya santai.
"Dasar anak nakal! Ya sudah, suster sudah datang dan pasti akan memarahi nenek karena nenek tidak segera tidur."
"Aku sayang nenek."
"Nenek juga sangat menyayangi kamu."
Mereka mengakhiri panggilannya. Jaden segera menuju ke mobilnya, dan pergi dari sana. Jaden duduk dengan menatap ke arah.luar jendela mobilnya yang tidak dia tutup. Jaden dapat merasakan embusan angin pantai saat dia melewati pantai yang terkenal indah di sana.
Sekilas tampak terlihat ingatan saat Jaden berada di pantai itu dengan seorang gadis. Kala itu usia Jaden dan gadis tersebut sama, sekitar lima belas tahun
"Apa kamu menyukai tempat ini, Mauren?"
"Suka, tempat ini sangat indah, apalagi ada kamu di sini?" Tangan gadis itu memeluk tangan bocah di sebelahnya yang tak lain adalah Jaden.
Jaden yang di peluk oleh gadis kecil di sebelahnya tampak tersenyum senang.
Tidak lama mobil Jaden berhenti di sebuah rumah besar dan dia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Tuan Jaden, gadis itu ada dikamar tamu," ucap Leo asisten pribadi Jaden.
__ADS_1
"Bagaimana dengan keadaannya?"
"Dokter sudah memeriksanya dan semua laporan sudah saya letakkan di atas meja dekat tempat tidur Nara, Tuan Jaden."
"Aku akan melihatnya. Oh ya Leo. Mulai sekarang kamu urus keluarga dari si berengsek gendut itu karena dia tidak akan pernah kembali lagi."
Leo terdiam sejenak. Lalu, tidak lama Leo menganggukkan kepalanya. "Saya akan mengurus semuanya, Tuan." Leo berjalan pergi dari sana.
Jaden kembali melangkah masuk ke dalam dan menuju pintu kamar tidur Nara. Mata Jaden langsung tertuju pada gadis yang tengah berbaring di atas ranjang besar, dan tampak dari raut wajahnya gadis itu sedang tertidur dengan nyaman.
"Sudah tidak demam," ucap Jaden saat tangannya memegang dahi Nara.
"Pangeran katak, aku mohon bawa aku pergi bersama kamu." Tiba-tiba tangan Jaden malah di pegang oleh kedua tangan Nara.
"Apa dia bilang? Dan kenapa dia malah memegang tanganku? Dia pikir aku pangeran kataknya?" Kedua alis Jaden mengkerut kesal. Jaden berusaha melepaskan tangannya yang dipegang oleh Nara, tapi cengkraman tangan Nara seolah sangat kuat mengunci tangan Jaden.
Jaden yang kesal karena tangannya tidak dilepaskan hampir ingin mengguyur Nara dengan air agar terbangun dari tidurnya saat Nara tiba-tiba melepaskan tangan Jaden dan sekarang dia memeluk gulingnya.
"Kamu empuk sekali pangeran katak," racau Nara.
"Gadis ini aneh sekali? Apa kalau dia sakit, dia akan meracau seperti ini?" Jaden menatap Nara heran. Pandangan mata Jaden sekarang jatuh pada selembar kertas yang berisi tentang keadaan Nara. Tampak wajah Jaden fokus membaca dengan teliti isi dari kertas yang ternyata adalah hasil dari pemeriksaan yang baru saja Leo lakukan pada Nara. Darah Nara tadi diambil oleh dokter untuk dicek lengkap dan hasilnya diserahkan pada Leo.
"Masih banyak yang harus aku ketahui lagi," ucapnya sendiri. Jaden meninggalkan kamar di mana Nara masih terbaring dia berjalan menuju kamarnya.
Saat Jaden membuka pintu kamarnya seketika tercium aroma maskulin dan kamar yang di dominasi warna hitam itu tampak rapi walaupun agak menyeramkan. Pria pemilik tubuh atletis itu langsung membuka kemeja hitamnya dan menghempaskan tubuhnya tepat di atas ranjangnya.
"Aku merasa bosan dengan semua kehidupan aku ini." Jaden beranjak dan duduk di sofa dekat ranjangnya. Sebotol vodka tersedia tepat di depannya, dia tuangkan dengan cepat pada gelas miliknya, dan meneguknya langsung sampai tandas.
__ADS_1
"Ikutlah dengan, Jaden. Kamu tidak akan merasa kesepian dan sendirian." Sebuah tangan mengusap lembut kepala bocah yang berdiri menatap dengan tatapan tanpa ada rasa takut pada kedua manik matanya. Di tangannya terdapat sebuah pisau besar dan ada bercak darah pada pisau itu.
"Dia pergi meninggalkan aku menghadapi semua ini. Andai aku boleh memilih, aku juga tidak tau apa yang harus aku pilih, dan mungkin ini adalah pilihan terbaik yang harus aku nikmati," ucapnya dengan sekali lagi meneguk segelas minuman pada gelasnya. Jaden akhirnya tertidur di sofa panjang.
***
Keesokan harinya, Nara yang sudah terbiasa bangun pagi, dia bangun dan tampak bingung.
"Ini di mana? Apa di surga? Apa demamku kemarin membuat aku sampai meninggal dan aku sekarang berada di surga?" oceh Nara.
Mata Nara mengamati setiap sudut di ruangan itu. Dia juga melihat ads beberapa pil obat yang bertuliskan namanya. "Ini sepertinya bukan surga. Mana ada orang yang sudah berada di surga minum obat?"
Nara menyikap selimutnya dan beranjak turun. dari ranjangnya. "Bajuku? Ke mana bajuku? Dan siapa yang menggantikan bajuku?" Nara mencengkeram piyama tidur yang di pakainya. "Apa salah satu dari penculik itu sudah melecehkan aku?" Seketika wajah Nara tampak pucat pasi membayangkan jika mahkotanya sudah direnggut paksa dan tanpa sadar oleh para penculik itu.
Nara ingin sekali menangis, tapi dia urungkan karena dia berpikir daripada menangis mending sisa tenaganya dia gunakan untuk kabur dari rumah para penculik itu.
Nara mencoba membuka pintu dan ternyata pintunya tidak terkunci. Dia berjalan perlahan-lahan dan berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Pintu keluarnya di mana? Kenapa rumah ini banyak sekali ruangannya? Membuat aku bingung saja." Nara bingung dan akhirnya dia memutuskan memeriksa setiap ruangan. Nara turun satu anak tangga dan saat dia berjalan melewati ruangan dengan pintu berwarna putih. Nara tidak sengaja melihat pemandangan indah karena pintunya memang tidak ditutup.
"Wow! Dia siapa?" Nara membulatkan kedua matanya melihat punggung dengan warna kulit putih bersih, dan terlihat otot-otot di kedua lengan tangannya yang terbentuk sempurna.
Saat pria itu akan menoleh ke belakang, Nara dengan cepat ingin pergi dari sana agar tidak ketahuan, tapi yang ada dia malah terbentur bufet panjang yang ada di sana.
Nara langsung menutup mulutnya mencoba menahan rintihan sakitnya dan berjalan tertatih-tatih pergi dari sana.
"Siapa yang berani mengintipku?" ucap pria itu lalu mengambil tablet besar miliknya dan menekan pada menu yang dia inginkan. "Jadi gadis itu sudah sadar dan dia yang sudah lancang mengintipku. Apa yang dia lakukan dengan berkeliling di rumahku?" ucapnya lagi.
__ADS_1