Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Cemburu


__ADS_3

Nara terdiam di dalam mobil dan sebelahnya ada Jacob yang duduk dengan manisnya.


Nara mencoba menyembunyikan rasa cemas dan takutnya. Perjalanan yang katanya tidak jauh, tapi kenapa rasanya sangat lama.


Jari jemari Nara saling bertaut untuk menghilangkan rasa cemasnya.


"Nara, sudah sampai. Kamu masuklah lebih dulu di mini bar dengan tulisan Cathy itu. Di sana tempat tinggal kekasih Jaden dan pasti ada kakakku di sana karena kemarin dia bilang begitu.


Nara melihat sebuah tempat seperti cafe kecil dengan kaca besar yang tampak dari luar.


Jacob sedang menunggu kursi rodanya di buka dulu, dan Nara yang tidak sabaran malah berjalan masuk ke dalam mini bar itu.


Nara tampak terpaku melihat apa yang ada di depannya.


"Maaf, tempatku masih tutup. Diaz itu bagaimana tidak dikunci!" serunya kesal saat melihat pada arah pintu.


Nara terdiam di tempatnya. Pun dengan Jaden yang sedang dengan posisi duduk dengan tanpa atasan serta Cathy yang masih menggunakan baju tidur sedang memegang bibir Jaden.


Mereka berdua seolah sedang berciuman. "Kamu siapa? Kenapa berdiri di sana? Tempatku masih tutup." Gadis itu berdiri dan hendak mengusir Nara, tapi Jaden menahan tangan Cathy.


"Hai, Jaden," sapa Jacob dengan kursi rodanya. Jacob melihat pada Cathy. "Apa dia kekasih kamu? Hai, aku Jacob adiknya Jaden," sapa Jacob pada Cathy.


"Oh! Jadi kamu adiknya Jaden? Dan ini kekasih kamu?" Tangan Cathy menunjuk Nara.


Jaden menarik pinggang Cathy. "Akhirnya rasa penasaran kamu sudah terjawab, kan Jacob?"


"Iya, aku penasaran dengan wajah kekasih kamu itu. Ternyata cantik juga dan kalian terlihat serasi."


Cathy tampak bingung melihat pada Jaden. "Sekarang sudah tidak penasaran, sebaiknya kamu pulang saja nanti mama pasti mencari kamu." Jaden menatap pada Cathy.


"Jadi, kami serasi, kan?" Tangan Cathy malah menggelayut pada leher Jaden dengan mesra.


Nara yang ada di sana hanya bisa berdiri dengan diam mencoba menahan air matanya yang ingin keluar saja.


"Nara, bagaimana menurut kamu tentang mereka? Sekarang kamu percaya kalau Kakakku normal?"


"Mereka serasi, sangat serasi sekali. Tuan memang pria yang penuh kejutan. Jacob, sebaiknya kita pulang saja seperti apa kata Kakak kamu. Aku juga tidak mau mengganggu mereka."

__ADS_1


"Ya sudah. Cathy, senang berkenalan dengan kamu. Kami mau permisi dulu."


"Tuan JL permisi." Nara juga tersenyum pada Cathy.


Nara mendorong kursi roda Jacob kembali menuju mobilnya. Jaden langsung melepaskan tangannya pada pinggang Cathy.


"Apa kamu sedang menarikku dalam sandirwara percintaan kamu, Jaden?"


Cathy tiba-tiba berlari keluar dan berteriak memanggil Jacob. Jacob dan Nara yang mau masuk ke dalam mobil kembali menoleh.


"Kalian sudah ke sini, bagaimana jika kalian aku undang makan pagi di tempatku?"


Jaden ternyata ikut mengejar Cathy keluar bar. "Apa kami nanti tidak mengganggu kamu dan Jaden?"


"Cathy, apa yang kamu lakukan? Aku tidak suka makan dengan orang lain. Aku hanya ingin makan berdua dengan kamu."


"Kami makan di rumah saja. Jacob, bukannya kamu ingin mencoba masakan buatanku?"


"Kamu mau membuatnya?"


"Wow! Aku sudah lama tidak makan nasi goreng. Koki di rumah membuatkan makanan luar terus. Cathy, maaf aku tidak bisa menerima ajakan makan pagi kamu. Lain kali saja kita bisa makan bersama."


"Jaden, kamu tenang saja, aku tidak akan mengganggu kalian. Kami pulang dulu."


Jaden tidak menjawab hanya mengangguk perlahan. Kedua pasang mata itu sekarang saling menatap datar.


Nara masuk ke dalam mobil dan duduk dengan melihat pada luar jendela. Nara tidak bicara sama sekali di dalam mobil.


"Nara, kamu kenapa?"


"Aku tidak apa-apa, hanya saja aku masih kadang bingung dengan kehidupanku yang mendadak berubah seperti ini, Jacob. Kamu paham maksudku, Kan?"


"Iya, aku paham. Kamu tenang saja, aku akan perlahan-lahan membantu kamu untuk melalui semua ini."


Nara mengangguk dan tersenyum kecil. Sesampainya di rumah Nara izin ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.


Gadis itu terduduk di bawah ranjang dan menekuk kedua lututnya. Nara menangis dengan menahan suaranya agar tidak terdengar sampai keluar.

__ADS_1


"Dia tidak mencintaiku, dia hanya membohongiku selama ini. Aku membencimu, Tuan JL, aku sangat membencimu," suara kemarahan disertai tangisan itu ditelan sendiri oleh Nara.


Kesedihan Nara terhenti saat terdengar suara bunyi dari ponsel miliknya. Gadis itu merogoh saku celananya dan layar ponsel miliknya terlihat nama Tuan JL memanggilnya di sana.


"Untuk apa dia menghubungiku? Apa dia mau mengatakan jika aku sudah sangat bodoh bisa dia tipu selama ini."


Nara menekan tombol merah yang berkedap-kedip dari tadi, tidak hanya itu Nara juga menonaktifkan ponselnya.


Nara beranjak dari tempatnya, segera mencuci wajahnya karena dia tidak mau sampai diketahui baru saja menangis.


"Oh Tuhan! Angkat Nara!" Jaden tampak kesal berdiri di tempatnya.


"Hem ...." Helaan napas panjang dan berat berembus dari bibir wanita yang baru saja dituduh memiliki hubungan dengan Jaden. "Kalau ingin membuat suatu drama, seharusnya kamu total, jangan ada penyesalan setelahnya. Si singa yang buas akhirnya menemukan pawangnya. Di mana kamu bertemu gadis itu?" tanya Cathy yang sedang duduk santai sambil memutar-mutar gelas burgundinya.


"Tolong jangan banyak tanya. Diam di sini atau kamu pergi saja," ucap Jaden tegas.


Gadis itu beranjak dari tempatnya dan menarik lengan tangan Jaden agar melihat ke arahnya.


"Cathy, aku mohon."


"Wow! Bahkan seorang Jaden Luther mengatakan mohon padaku." Tatapan gadis itu tidak percaya. Tangannya sampai bersedekah. "Aku jadi ingin mengenal gadis itu. Siapa namanya? Nara, dan dia pasti ada di rumah kamu. Aku mau ke sana."


Cathy berjalan menuju pintu keluar, tapi lagi-lagi Jaden menarik tangannya. "Apa kamu tidak bisa diam dan tidak perlu ikut campur masalah ini? Oh ... atau kamu mau, aku menutup tempat kamu untuk selamanya?"


Gadis itu lagi-lagi memandang ke atas langit-langit mini barnya. "Kay, adik kamu benar-benar jatuh cinta, tapi dia sepertinya tidak berani mempertahankan cintanya. Kasihan gadis itu."


"Ck! Kamu tidak tau apa-apa."


Jaden berjalan pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama dia keluar dengan sudah memakai bajunya semalam.


"Kamu mau ke mana? Katanya mau menginap di sini sampai besok."


"Aku mau pulang, dan ingat, jangan melakukan hal sok tau apapun tanpa izinku, atau aku akan benar-benar bisa menutup tempat kamu ini. Dengar itu, Cathy," Jaden menekankan ucapannya.


Gadis itu tidak menjawab, hanya memberikan isyarat OK lewat jarinya yang di bentuk huruf O.


Mobil melaju dengan kencang menerobos dinginnya pagi negara Kanada. Saat itu di sana udara agak dingin.

__ADS_1


__ADS_2