
Nara memanggil nama Jaden. Pria itu memegang tangan Nara dan mencoba menenangkan istrinya.
"Sakit, Jaden!"
"Nara, kamu akan baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja," ucapnya terbata.
"Anakku, aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya," Nara pun berucap dengan terbata.
Nara di dorong masuk ke ruang operasi dan Jaden harus segera mengambil keputusan dan menanda tangani surat pernyataan.
"Dok, saya mohon selamatkan istriku. Aku mau Naraku selamat." Hal itu sangat berat diucapkan oleh Jaden, tapi dia harus mengatakannya agar dia tidak kehilangan keduanya.
"Jaden," ucap Nenek sedih dan dia memeluk sekali lagi cucunya.
Jaden disuruh menandatangani surat pernyataan jika dia sudah memilih ibunya yang akan diselamatkan.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" Leo bertanya karena melihat Jaden yang tampak hancur saat ini.
"Aku baik, Leo. Biarkan aku sendiri dulu." Jaden berjalan menuju mobilnya dan duduk dengan menyandarkan dahinya pada stir kemudi.
"Kenapa harus begini? Aku hanya ingin hidup bahagia dengan Nara dan anak kami."
Jaden yang marah melampiaskan kekesalannya dengan memukul pukul stir kemudi.
Sekitar satu jam Leo menghampiri Jaden yang duduk di dalam mobil. Jaden keluar dari mobil dan melihat Leo yang berdiri di sana.
"Tuan, Nara--." Leo menunjukkan wajah cemasnya.
"Ada apa dengan Nara?"
Jaden berlari dengan cemas mencari di mana Nara berada. Dia juga tidak melihat ada nenek di tempat tadi mereka berdiri.
"Tuan, ikut saya ke ruangan Nara." Leo berjalan ke depan dan Jaden mengikuti Leo dari belakang.
"Apa yang terjadi dengan Nara, Leo?" tanya Jaden cemas. Leo tidak menjawab pertanyaan Jaden dan hal itu membuat Jaden tambah cemas.
Saat pintu kamar di buka. Tampak nenek berdiri dengan menggendong seorang bayi dan Nara duduk bersandar pada tepi ranjang kamar rumah sakit.
"Selamat, kamu sudah menjadi ayah baru bagi putri kecilmu yang sangat cantik," ucap Nenek.
Jaden tampak bingung berdiri di dekat pintu. Jaden melihat Nara yang tersenyum padanya dengan wajah sayunya, dan melihat pada Leo yang tersenyum bahagia.
"Tuan, selamat sudah menjadi ayah." Leo menepuk pundak Tuannya.
__ADS_1
Jaden berjalan perlahan mendekat pada neneknya yang sedang menggendong bayi mungil yang sangat cantik.
"Nek, apa dia anakku?"
"Tentu saja itu anak kamu, memangnya itu anak siapa?" seru Nara kesal.
Air mata Jaden jatuh perlahan. Dia tampak berkaca-kaca melihat wajah bayi cantik dalam gendongan neneknya.
"Tapi bagaimana bisa? Bukannya dokter mengatakan jika aku hanya bisa memilih salah satu dari anakku atau istriku, dan aku memili tidak ingin kamu pergi Nara." Jaden menatap Nara.
"Tuhan mendengar doa tulus yang kamu ucapkan, Sayang. Kamu pasti berdoa agar kedua orang yang kamu sayangi dapat selamat walaupun yang kamu ucapkan ingin Nara yang selamat."
"Nek, apa boleh aku menggendongnya?"
"Tentu saja, tapi apa kamu bisa?"
"A-aku bisa, Nek."
Nenek memberikan bayi kecil itu pada Jaden yang terlihat gemetar saat akan menerima bayi itu.
"Hati-hati, Tuan JL. Jika dia kenapa-napa, kamu berurusan denganku," ancam Nara.
"Aku tidak akan menyakitinya dan aku akan hati-hati."
"Hai, cantik, ini ayah kamu. Kamu mirip sekali dengan ayah."
Nara dan nenek melihat hal itu saling melempar senyum. Leo tampak terharu sampai mengusap air matanya. Akhirnya dia bisa melihat kebahagiaan bosnya. Kebahagiaan yang sesungguhnya, setelah hampir bayi cantik itu direnggut oleh tangan jahat Renata dan Jacob.
"Nek, dia mirip sekali denganku. Matanya, hidungnya dan bahkan bibirnya, semua mirip denganku."
"Memangnya aku tidak ada sama sekali pada wajah bayiku?" celetuk Nara.
"Ada." Jaden melihat pada Nara. "Dia cantik dan pasti keras kepala seperti kamu."
"Enak saja!" Nara cemberut dan di sana semua orang tertawa.
"Eh, teman kamu di mana, Nara?"
Mereka baru sadar jika Paijo tadi yang mengantar Nara, tapi tidak tau sekarang di mana?
"Halo! Keponakan aku yang lucu!"
Tiba-tiba dari balik pintu muncul kepala Paijo. "Paijo! Kamu ke mana saja?"
__ADS_1
Paijo masuk dengan membawa balon, mainan, boneka dan buket bunga.
"Apa yang kamu bawa?"
"Aku tadi mendengar jika kamu sudah melahirkan dengan selamat dan bayi kamu tidak apa-apa, aku langsung saja pergi berjalan dari rumah sakit ke toko hampers ini. Ternyata melelahkan dan lumayan jauh."
"Kenapa kamu jalan? Memangnya mobil kamu di mana? Mogok?" tanya Nenek.
Paijo menggeleng. "Jo, tadi bilang padaku, jika Nara melahirkan dengan selamat, maka dia akan berjalan mencari toko hampers dari rumah sakit, dan aku ingat ada toko hampers yang agak jauh dari sini. Eh! Dia tetap melaksanakan apa yang dia ucapkan."
"Ya ampun, Jo! Kenapa kamu baik sekali padaku." Nara membuka tangannya dan Paijo memeluk Nara.
"Hei! Kalian apa-apaan? Jangan memeluk istriku seenaknya!" Jaden bingung mau menjauhkan Jo dari Nara, tapi dia sedang menggendong bayinya.
Nenek dan Leo yang melihat malah tertawa. "Nara! Kamu itu sudah menjadi ibu, jangan berpelukan seenaknya dengan pria lain!"
"Paijo ini bukan pria lain, dia sahabat aku sekaligus saudaraku sekarang."
Tidak lama terdengar suara tangisan bayi yang sangat keras. Jaden semakin bingung karena tiba-tiba putri kecilnya menangis.
"Jaden, kecilkan suara kamu. Dia jadi kaget dan menangis."
"Nek, jangan salahkan aku. Salahkan Nara yang seenaknya berpelukan dengan Jo. Jo, jangan membuatku marah." Mata Jaden melotot.
"Itu tadi hanya pelukan seorang saudara, Tuan Mafia." Jo mendekat pada Jaden dan menginginkan menggendong bayi Nara.
"Apa kamu bisa?" Wajah Jaden tampak ragu pada Paijo.
"Aku bisa dan pasti aku lebih baik dari kamu. Di rumahku dulu aku sering menggendong anak dari tetanggaku.
Jaden perlahan memberikan bayinya pada Paijo dan tidak lama bayi itu terdiam karena suara nyanyian Paijo.
"Kenapa putriku bisa tertarik dengan suara nyanyian tidak beraturan begitu?"
"Suara tidak beraturan? Justru suaraku ini sangat nyaman jika di dengar oleh para bayi." Di sana tampak terlihat begitu sangat bahagia.
Di suatu klinik yang tidak begitu besar, sedang terbaring seorang wanita dengan selimut dengan motif garis hitam putih.
Tidak lama masuk seorang perawat dengan menggendong seorang bayi menghampiri wanita itu.
"Selamat, ya, Ibu, bayinya lahir dengan sehat dan tidak kurang satu apapun."
"Bayi saya apa, Sus? Laki-laki atau perempuan?"
__ADS_1
"Bayi Ibu laki-laki dan dia sangat tampan sekali." Bayi dalam selimut berwarna biru itu diberikan perlahan-lahan pada wanita yang sedang berbaring. Bayi itu tidur di samping ibunya dan melihat dengan lekat pada wanita yang baru saja melahirkannya.