
Leo memperhatikan Paijo yang berdiri di samping Nara.
"Sepertinya aku pernah melihat kamu?"
"Siapa? Aku? Kita tidak pernah bertemu. Aku sama sekali tidak pernah melihat kamu." Paijo bersidekap.
"Kamu pria yang ada di foto yang ditunjukkan Renata pada nenek. Iya kamu." Telunjuk Mas Leo menunjuk ke arah Paijo.
"Foto? Foto apa, Leo?"
"Renata menunjukkan foto kamu dengan seorang pria saat sedang di gandeng tangan kamu dan hal itu membuat nenek marah serta mengira kamu memang sengaja pergi karena ingin meninggalkan Tuan Jaden."
"Renata benar-benar gadis yang licik!" geram Nara.
"Aku beberapa hari ini juga aneh dengan sikap Renata. Kenapa dia seolah-olah mencari kesalahan kamu terus?"
"Apa kamu tau siapa yang menginginkan aku keguguran, Mas Leo?"
"Siapa? Bukannya Mona yang ingin hal itu dan dia sudah mendapat balasannya."
Nara menggeleng. "Bukan Mona otak di balik tragedi aku terjatuh itu, tapi Renata."
"Apa? Kamu jangan bicara yang tidak-tidak, Nara. Mana mungkin dia yang ingin kamu keguguran?" Leo kaget dan tidak percaya jika Renata yang menjadi otak kejadian itu.
"Aku tau kalau kalian tidak akan percaya jika aku mengatakan hal itu. Oleh karena itu aku hanya terdiam dan terus mengawasi Renata dan ingin tau maksud dia melakukan hal itu."
"Tapi mana mungkin Nara?"
"Nara itu tidak akan berbohong. Aku percaya semua yang Nara katakan. Dia itu gadis yang sangat jujur."
"Maaf, bukan begitu maksudku, aku tau jika Nara gadis yang jujur, tapi setahuku Renata juga wanita yang baik."
"Jangan-jangan kamu suka pada Renata, makannya kamu tidak mau mendengar keburukan dia?"
"Jo, jangan bicara begitu. Mas Leo aku tau jika mungkin hal ini akan membuat Mas Leo tidak percaya, tapi apa yang aku katakan benar."
Leo tampak terdiam sejenak. "Kalau dia tidak percaya biarkan saja Nara. Kita pergi saja. Lebih baik sekarang kamu memulai hidup barumu." Paijo menggandeng tangan Nara ingin
mengajaknya pergi, tapi Nara menahan tangan Paijo.
__ADS_1
Nara menggeleng. "Mas Leo sebaiknya berhati-hati pada Renata."
"Aku akan mengawasinya dan mencari tau kenapa dia melakukan hal itu sama kamu?"
"Awalnya aku tidak percaya, tapi aku ingat lagi kejadian itu dan ternyata memang benar."
Nara menceritakan kejadian waktu itu dan mas Leo benar-benar terkejut mendengar cerita Nara.
"Nara, nenek sangat percaya pada Renata sejak dia menunjukkan foto kamu dengan seorang pria. Nenek bahkan menuruti apa kata Renata untuk menyimpan semua kenangan kamu dan Jaden dan Renata juga membuat kamu seolah-olah memang tidak pernah ada di dalam hidup tuan Jaden.
Nara yang mendengarnya tampak shock sampai dia hampir jatuh. "Nara hati-hati." Tangan Paijo memegangi Nara. "Kamu jangan memikirkan hal yang berat. Ingat dengan bayi yang sedang kamu kandung."
"Apa? Kamu hamil?" tanya Leo kaget sekali lagi.
"Iya, aku sedang hamil, Mas Leo."
Leo seketika melihat pada Paijo yang memang dari tadi melihat perhatian Pria itu pada Nara.
"Jangan melihatiku seperti itu! Aku bukan ayah dari bayi Nara. Tuan Jaden kamu itu ayah dari bayi yang dikandung oleh Nara." Paijo bersedekap.
"Aku dan Paijo adalah teman baik dari kita sekolah, Mas Leo. Kami benar-benar hanya seorang sahabat."
"Kalau tidak percaya juga tidak apa-apa. Aku malah senang menjadi ayah dari bayi, Nara."
"Aku percaya jika itu anak Tuan Jaden."
"Iya, Mas Leo, Ini anak Jaden. Paijo ini memang suka sekali mengasal. Aku senang mengetahui hamil, tapi juga aku harus menjaga tentang kehamilan ini. Aku benar-benar trauma dengan keguguranku yang memang diinginkan oleh seseorang. Sekarang aku tau motif Renata datang ke sini. Dia ingin mengambil Jaden dariku."
"Tapi kalau dia ingin mengambil Tuan Jaden, kenapa dia membiarkan tuan Jaden di hukum berat?"
Nara juga bingung akan hal itu. "Aku tidak tau, Mas Leo."
"Apa dia sedang bekerja sama dengan seseorang untuk menjebak Tuan Jaden?"
"Maksud kamu?"
"Leo, apa kamu ada masalah dengan wanita ini?" Tiba-tiba suara Jaden berdiri di sana.
"Aku ini Nara, apa kamu--."
__ADS_1
"Tuan, saya hanya bertanya saja dengan wanita ini tentang semua tempat yang terkenal di sini. Itu saja. Tuan Jaden silakan masuk."
"Kalau tidak ada urusan lagi sebaiknya kita segera pergi dari sini," ucap Jaden tegas.
"Kamu itu--."
Paijo tidak menyelesaikan kata-katanya karena tangannya ditahan oleh Nara. Paijo kesal sekali melihat sifat Jaden yang songong.
"Tuan masuk saja ke dalam mobil lebih dulu."
"Jangan lama-lama." Jaden masuk ke dalam mobil.
"Nara, jangan mengingatkan tentang masa lalu Tuan Jaden yang dia lupa. Kamu tidak mau, kan, jika Tuan Jaden nyawanya dalam bahaya?"
"Maaf, Mas Leo. Aku tadi hanya terbawa suasana. Aku ingin sekali membuat suamiku ingat denganku."
"Aku akan membantu kamu, tapi aku tidak bisa langsung menyuruh Tuan Jaden mengingat semuanya dengan cepat."
Nara meneteskan air mata. "Aku percaya dengan apa yang akan Mas Leo lakukan."
"Kalau begitu jaga baik-baik diri kamu, Nara. Aku permisi dulu."
Leo segera masuk ke dalam mobil. Jaden yang duduk di sampingnya tampak memberikan tatapan tajam pada Leo. "Apa sudah selesai urusan kamu dengan wanita itu?"
"Nara, Tuan. Nama wanita itu Nara."
"Iya Nara. Entah kenapa aku seperti tidak asing dengan nama wanita itu." Jaden tampak berpikir.
"Tuan Jaden, apa yang sedang Tuan pikirkan?"
"Leo, apa aku dulu pernah mengenal wanita itu? Kenapa dia tadi saat menyajikan supnya, dia seperti mengenalku? Apa lagi sup buatan dia rasanya pernah aku rasakan sebelumnya?" Jaden lihat heran pada Leo.
Leo jadi bingung harus menjawab apa? Kalau dia katakan jika dia dan Nara adalah suami istri. Jaden tidak akan percaya, dan lagi pasti akan membuat kepalanya sakit berusaha untuk mengingat hal itu.
"Maaf, saya tidak tau, Tuan. Mungkin memang Tuan pernah melihatnya dan dia pasti pernah bekerja di restoran lain yang Tuan Jaden pernah datangi." Leo terpaksa berbohong karena dia tidak mau ada apa-apa dengan Jaden, bisa-bisa nenek bahkan Nara akan menyalahkannya.
"Kalau begitu kita pergi saja dari sini. Lagi pula aku juga tidak mungkin mengenal wanita seperti dia."
Leo sangat merasa bersalah pada Nara, tapi dia janji dalam hatinya akan membantu Nara agar bisa kembali bersama Tuan Jadennya. Apa lagi Nara sedang mengandung juga.
__ADS_1
"Tuan, apa kita pulang ke rumah hari ini juga?"
"Tidak Leo. Carikan tempat untuk aku menginap di sini karena ada urusan yang belum aku selesaikan." Jaden menatap ke arah depan dengan tajam."