Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kehidupan Pernikahan Lagi


__ADS_3

Setelah makan malam Jaden izin pergi ke dalam ruang kerja kakeknya. Dia sedang menghubungi Leo untuk bertanya apa dia sudah mendapat info tentang apa yang terjadi di club malam waktu, tapi Leo mengatakan jika dia hanya mendapat info jika memang ada perkelahian antara dua orang yang sedang memperebutkan seorang wanita.


"Apa tidak ada rekaman CCTV di sana?"


"Masih saya usahakan Tuan. Pihak club malam itu sangat sulit untuk dimintai menunjukkan rekaman CCTV di sana."


"Paksa mereka, atau ancam sekalian. Brengsek! Aku akan turun tangan sendiri kalau begitu."


"Tuan Jaden tenang saja dulu. Semua akan saya selesaikan."


"Aku percaya sama kamu, Leo." Jaden mengakhiri panggilannya.


Tidak lama terdengar suara benda jatuh. Jaden yang terkejut langsung berjalan keluar ruangan, tapi dia tidak menemukan siapapun di sana.


"Apa ada yang sengaja menguping pembicaraanku? Apa Renata?"


Renata selamat kali ini karena dia berhasil pergi dari sana. Renata keluar dari rumah dan menuju garasi mobil.


"Sayang, Jaden mulai mencari tau lagi tentang kejadian di club malam waktu itu."


"Kamu tenang saja karena aku sudah menghilangkan semua jejak kita di sana."


"Dia akan mencari tau lewat CCTV di sana."


"Sayang, tenang saja karena CCTV d di sana juga sudah aku suruh hapus. Orangku sudah melaksanakan dengan sangat baik."


"Kamu memang kekasihku yang jenius. Waktu itu aku juga sudah mengancam Nara agar tidak mendekati Jaden. Aku yakin jika Nara akan melakukannya."


"Pastikan saja Jaden sampai mau menikah dengan kamu, lalu buat hidupnya sangat jauh dari Nara. Nara juga pasti akan menderita. Dua orang itu memang pantas mendapat apa yang semestinya mereka berdua dapatkan," ucap Jacob ketus.


"Tentu saja sayang. Sebagai istri Jaden aku akan mendapatkan semua kekayaan yang dimiliki oleh Jaden."


Saat Renata menoleh. Dari kejauhan Renata melihat ada Jaden sedang berjalan ke arahnya.


"Sayang ada Jaden," ucap Renata pelan pada Jacob.


"Baiklah aku tutup dulu teleponnya."


"Iya, nanti kalau aku kembali ke Kanada, aku akan menemui kamu sahabatku." Renata berpura-pura bicara dengan sahabatnya.


"Sedang bicara dengan siapa kamu?"

__ADS_1


"Aku sedang menghubungi sahabatku yang ada di Kanada."


Kedua mata Jaden memicing melihat Renata. "Kenapa harus berbicara di tempat jauh dari rumah seperti ini? Apa kamu takut ketahuan rahasia yang sedang kamu sembunyikan?"


"Rahasia apa? Aku tidak menyembunyikan rahasia apa-apa dari kamu."


"Bagus kalau begitu."


Jaden akan melangkah pergi dari sana, tapi tangannya di tahan oleh Renata. Jaden hanya bisa memandangi tangan Renata.


"Ada apa?" jawab Jaden dingin.


"Muka dingin, apa kamu masih curiga denganku yang sudah menyebabkan istri kamu keguguran? Andai kamu ingat semuanya, kamu pasti tau yang benar dan yang salah. Kamu pasti sudah melihat juga foto Nara dengan pria itu. Dia selingkuhannya Nara dan kamu masih mau menunggu Nara?"


"Aku tidak menunggu Nara. Aku hanya ingin ingatanku kembali sehingga aku tau semua yang sudah terjadi denganku dan Nara. Aku tidak akan memaafkan siapapun yang mencari masalah denganku." Jaden menatap Renata tajam kemudian dia berlalu dari sana.


Renata yang berdiri di sana menatap datar pada Jaden dengan senyuman menyungging ke atas.


"Sebelum itu terjadi. Kamu yang akan aku dan Jacob buat menangis kehilangan Nara selamanya."


Jaden pergi ke rumah persembunyiannya karena dia tidak mau meninggalkan Nara sendirian.


Jaden masuk ke dalam rumah dan melihat wanita yang adalah istrinya sedang berdiri menyiapkan makanan di meja makan.


"Tadi aku sudah makan bersama nenek dan Renata, dan Renata memaksa untuk mencicipi masakan buatannya."


"Oh, ya sudah." Wajah Nara yang tadi bahagia seketika berubah sedih.


Jaden menarik tangan Nara yang hendak pergi ke dapur. "Kenapa wajah kamu begitu?"


"Aku tidak apa-apa."


"Huft! Kenapa jadi seolah aku seorang pria yang memiliki dua istri dan kamu istri keduaku." Jaden menggoda Nara.


"Enak saja! Aku tidak akan mau menjadi istri kedua seseorang. Memangnya aku tidak laku?" Nara melepaskan tangan Jaden dan duduk di meja makan. Dia lapar dan akan makan berdua dengan bayi yang ada di kandunganya.


Jaden pun ikut duduk di sebelah Nara. "Kamu mau apa?"


"Mau makan."


"Bukannya kamu sudah makan di rumah dengan nenek dan Renata?"

__ADS_1


"Ambilkan aku makanan. Aku bolehkan makan masakan istriku?"


Nara tersenyum dan mengambilkan makanan untuk suaminya. Mereka makan malam berdua.


Malamnya Nara sudah merapikan kamar tidur mereka. Jaden yang sebenarnya masih tampak bingung dengan dirinya dan Nara memilih mengambil bantal dan selimut hendak tidur di sofa yang ada di dalam kamar Jaden.


"Kita tidur terpisah?" tanya Nara heran.


"A-aku takut nanti malah melukai perut kamu ."


"Melukai dari mana? Justru akan mendekatkan kamu dengan calon anak kamu." Nara naik ke atas tempat tidur dan berbaring dengan menutup tubuhnya dengan selimut."


"Kalau kamu merasa aneh, tidak masalah jika kamu tidur sendirian. Aku ingat kamu belum sepenuhnya ingat siapa diri kamu."


"Aku minta maaf, Nara. Sekarang kamu tidurlah dan aku akan menunggu kamu sampai kamu tertidur."


Nara memejamkan kedua bola matanya. Jaden di sana memperhatikan Nara.


Ada rasa bersalah yang menyelimuti Jaden melihat wajah polos Nara saat tertidur. Dia beranjak dari sofa dan berbaring di samping Nara. Tangan Jaden menarik Nara ke dalam pelukannya dan wanita di samping Jaden seolah membalas pelukan Jaden dengan memeluk erat perut suaminya.


Deg!


Jaden seolah ingat tangan yang sedang memeluknya ini pernah dulu dia rasakan. Perlahan Jaden mulai menenangkan dirinya agar tidak mengalami sakit pada kepalanya.


"Aku tidak boleh sakit karena ingatan ini. Kalau ada apa-apa denganku, siapa yang akan menolong Nara.


Di tempat lain ada seorang pria berpakaian serba hitam sedang mencoba memasuki sebuah rumah dengan mencongkel jendela rumah teraebut.


Setelah dia berhasil masuk. Kedua mata pria itu mencari sesuatu.


"Pasti itu kamarnya." Saat membuka pintu tampak wajah pria itu sedikit kecewa karena apa yang dia cari tidak dia temukan di sana.


"Halo, ada apa? Kenapa kamu menghubungiku? Aku sudah katakan jika biar aku yang menghubungi kamu, kenapa kamu tidak mendengarkan perintahku?" ucapnya marah.


"Maaf, Bos, tapi wanita itu tidak ada di tempatnya."


"Apa maksud kamu?"


"Aku sudah masuk ke dalam rumahnya, tapi rumahnya sepi dan bahkan baju-baju wanita itu juga tidak ada."


"Apa?" Mata orang di seberang telepon tampak membulat kaget. "Apa kamu sudah benar-benar pastikan rumah itu kosong?"

__ADS_1


"Benar, Bos. Sepertinya wanita itu sudah pergi dari rumahnya."


"Brengsek!'


__ADS_2