Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Cinta Nara Untuk Jaden


__ADS_3

Nara melihat sosok yang sangat dia harapkan untuk datang menolongnya saat ini, dan ternyata dia datang. Jaden Luther suaminya datang untuk menolongnya.


"Kamu siapa? Jangan ikut campur dengan urusanku. Kalau kamu mau bersenang-senang dengan gadis ini kamu tunggu giliran kami berdua," ucap pria yang masih memegangi tangan Nara dengan tertawa lebarnya.


"Dia istriku, dan aku tidak suka milikku disentuh oleh orang lain. Jadi lepaskan dia!" bentak Jaden marah dengan tatapan tajamnya.


Nara sangat terkejut mendengar apa yang baru saja Jaden katakan. Suaminya mulai ingat jika dia adalah istrinya.


"Apa istri? Kalau kamu suaminya kenapa membiarkan dia keluar malam-malam begini?"


Jaden yang baru sadar akan ucapannya yang spontan itu seketika terbentuk puzzle bayangan yang tidak jelas.


"Argh! Kepalaku kenapa sakit begini!" teriaknya sambil memegangi kepalanya.


Nara yang melihat hal itu seketika panik. Dia menggigit salah satu tangan pria jahat yang memegangnya sampai terlepas.


"Jaden, kamu tidak apa-apa?" Nara yang hendak berlari ke arah Jaden langsung ditarik tangannya oleh pria satunya.


"Argh! Sakit!" erang Nara.


"Lepaskan!" Jaden yang mendengar erangan kesakitan Nara langsung saja reflek menonjok wajah pria yang membuat Nara ketakutan dan penjahat satu lagi juga tidak lepas dari pukulan keras Jaden. Mereka terlibat perkelahian sampai akhirnya kedua pria itu tersungkur bersimbah darah.


Nara melihat wajah Jaden yang agak lebam karena sempat terkena pukulan dari kedua penjahat tadi.


"Wajah kamu lebam, Jaden." Nara hendak memegang pipi Jaden yang terluka, tapi Jaden dengan kasar menepis tangan Nara.


Nara sontak saja terkejut mendapat perlakuan Jaden seperti itu. "Aku tadi terpaksa mengatakan jika kamu adalah istriku agar dua orang brengsek itu pergi. Sekarang kamu pulang saja karena wanita baik-baik tidak akan keluar malam-malam seperti ini." Jaden melangkah pergi dari sana.


Nara yang tidak terima dengan ucapan Jaden yang seolah menuduh Nara bukan gadis baik-baik mengejar Jaden.


Nara berjalan tepat di depan Jaden dan melihat Jaden dengan tatapan tajamnya.


"Apa maksud ucapan kamu tadi? Apa kamu mengira aku wanita nakal karena keluar tengah malam begini?"


"Lalu apa yang kamu lakukan di jalan tengah malam seperti ini? Mencari laki-laki yang bisa kamu rayu?"

__ADS_1


Plak!


Jaden ditampar oleh seorang wanita? Salah. Ditampar oleh istrinya.


Jaden yang kaget langsung mencengkeram dagu Nara dengan keras. Kedua pasang mata itu saling melihat lekat satu sama lain.


Ada rasa yang aneh saat Jaden menatap mata Nara. Rasa yang Jaden sendiri tidak ketahui apa itu?


"Berani sekali kamu menampar seorang Jaden Luther! Apa kamu tidak tau siapa aku?"


"Aku menampar seorang sua--." Nara mengentikan ucapannya. "Aku menampar kamu karena ucapan kamu yang sangat keterlaluan menuduhku sebagai wanita nakal. Aku keluar karena aku ingin mencari makanan, aku sedang--." Nara kembali tidak meneruskan kata-katanya.


Jaden melihat nasi goreng yang di bawa oleh Nara dan dia akhirnya melepaskan cengkeramannya. "Sebaiknya kamu pulang. Aku sudah tidak ada urusan sama kamu lagi."


Jaden melangkah pergi dari sana. Nara masih memperhatikan punggung Jaden dan tidak lama Nara melihat ada seorang pria mendekati Jaden.


Jaden pergi dengan pria itu. Nara yang tampak penasaran mengikuti Jaden karena dia merasa ada hal tidak baik yang akan terjadi.


Jaden berdiri di depan mobil van berwarna hitam di tempat yang agak sepi dekat dengan sungai yang ada di sana.


"Tuan Jaden, saya minta maaf sudah membuat Tuan Jaden marah."


"Maaf? Enak sekali. Aku tidak akan dengan mudah memaafkan kamu. Aku akan bermain-main dengan kamu dulu." Jaden menusukkan pisau yang dia pegang pada lengan tangan pria itu dengan kejam dan memutarnya.


Pria itu tidak dapat berteriak karena mulutnya di tutup oleh tangan pengawalnya dan kedua tangannya diikat ke belakang.


Nara yang melihatnya tidak tega dengan pria yang sedang di siksa oleh suaminya. Apa lagi Nara sedang hamil. Dia takut akibat perbuatan suaminya itu nanti anaknya yang kena karmanya.


"Hentikan Tuan JL!" seru Nara yang keluar dari tempat persembunyiannya.


Jaden tampak kaget melihat Nara di sana. Nara malah berjalan mendekat dan tidak takut sama sekali pada Jaden.


"Kenapa kamu masih berada di sini?"


"Lepaskan orang itu dan jangan menyiksanya seperti itu, Tuan JL."

__ADS_1


"Tuan JL?"Jaden seolah pernah mendengar panggilan itu. "Siapa kamu yang berani memerintahku. Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum kesabaranku habis."


"Aku tidak akan pergi sampai kamu menghentikan sikap jahat kamu ini. Jangan menyakiti orang lagi."


Jaden bersidekap di depan Nara dan kedua matanya memicing dingin di depan Nara. "Jangan sok merasa kenal denganku gadis tidak tau diri. Sebaiknya sekarang kamu pergi atau aku akan berbuat buruk sama kamu," ancam Jaden.


Nara masih bersikeras berdiri di depan Jaden. "Lepaskan pria itu. Jangan menyiksanya."


Jaden malah tersenyum miring melihat keberanian Nara. "Baiklah. Kamu yang sudah mencari masalah denganku, maka jangan salahkan aku jika aku memberi hukuman padamu." Jaden mendekatkan wajahnya pada Nara.


"Hukuman? Aku tidak takut." Tantang Nara.


Jaden agak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Nara. "Bawa pria itu dan siksa sampai dia mengaku siapa yang menyuruhnya merebut tempatku."


"Baik, Tuan." Pengawal Jaden membawa pria itu masuk ke dalam mobil van. Pria di dalam itu merontah tidak mau dibawa oleh pengawal Jaden.


Sekali lagi Nara yang melihatnya tampak kasihan. Dia memang tau dari awal jika Jaden adalah mafia yang kejam, tapi sejak bersamanya Jaden mulai berubah.


"Kenapa kamu kembali seperti dulu?" Nara memegang lengan tangan Jaden. Jaden yang melihatnya tampak bingung.


"Lepaskan! Apa kamu ingin merayuku dengan sok kenal denganku. Asal kamu aku tidak tertarik dengan wanita yang suka merayu banyak pria seperti kamu."


"Apa maksud kamu aku suka merayu banyak pria?"


"Apa kamu lupa pernah mengatakan jika kamu merindukan seseorang yang mirip denganku, tapi nyatanya kamu malah berpelukan dengan pria lain. Apa kamu meninggalkan kekasih kamu untuk merayu pria yang lebih kaya seperti bos kamu itu?" Jaden menggenggam lengan tangan Nara.


Nara tidak menjawab, dia hanya terdiam dengan menatap Jaden dengan mata yang terdapat butiran air mata yang siap keluar.


"Aku mencintaimu," ucap Nara yang membuat Jaden seketika kaget dan melepaskan cengkraman tangannya pada Nara.


"Aku hanya mencintai kamu," ucap Nara lagi.


Jaden merasakan sakit pada kepalanya karena merasa pernah mendengar seseorang yang dia sendiri tidak tau, tapi suaranya sangat mirip dengan Nara.


"Pergi! Pergi kamu dari sini!" bentak Jaden marah sambil memegang kepalanya yang sakit.

__ADS_1


__ADS_2