
Nara mondar mandir di depan nenek Miranti yang duduk tenang menikmati teh hangatnya. Sudah hampir tiga jam sejak suaminya berada di kantor kepolisian dan Nara belum mendapat kabar sedikit pun.
Leo yang tadi dihubungi juga sudah menyusul Jaden ke sana.
"Nak, kamu duduk dulu. Ini nenek sudah buatkan teh hangat untuk kamu."
"Aku ingin tau bagaimana kabar suamiku, Nek?" Nara duduk dan memeluk nenek Miranti.
"Kita tunggu saja sampai mereka menghubungi. Kamu jangan cemas begini nanti malah bisa membuat kamu sakit."
"Siapa sebenarnya yang ingin membuat suami masuk penjara seperti ini, Nek?" Nara tampak kesal.
"Musuh Jaden banyak, Nara. Kamu tau sendiri jika suami kamu selama ini hidup dengan dunia yang banyak sekali bermain dengan bahaya."
"Nek, Nenek dulu apa awalnya tidak takut dengan kehidupan yang dijalani oleh mendiang suami Nenek?"
"Takut, tapi akhirnya nenek mulai paham dan mengerti, tapi setelah memiliki putra, perlahan mendiang suami nenek keluar dari kehidupan dunia hitamnya walaupun itu tidak mudah karena akan ada saja kerikil yang menghalangi."
"Aku mau bisa setangguh Nenek Miranti. Aku ingin menjadi wanita yang kuat di belakang suamiku. Nek, aku juga ingin Jaden keluar dari dunia hitamnya ini. Bukan karena aku takut terluka, tapi aku takut melihat dia terluka."
"Cucuku akan mendengarkan apa kata wanita yang dia cintai." Usapan lembut nenek Miranti pada pucuk kepala cucu menantunya.
Tidak lama terdengar suara mobil berhenti di depan pintu utama rumah besar yang hampir mirip mansion itu.
"Nek, apa itu suamiku yang datang?" Nara segera beranjak dari tempatnya dan berlari keluar.
"Nara," sapa Leo lirih pada Nara.
"Mas Leo, suamiku mana?" Nara celingukan mencari keberadaan suaminya.
Leo terdiam mendengar pertanyaan Nara. Nenek yang di sana dan melihat wajah Leo tau jika ada berita buruk yang akan di sampaikan oleh Leo.
"Mas Leo, kenapa diam saja?" Nara sampai menggoyang-goyangkan tubuh Leo.
"Nara, aku minta maaf karena tidak bisa membawa Tuan Jaden pulang. Tuan Jaden harus tinggal di sel tahanan sampai masalah ini di proses."
"Apa? Kalau begitu aku mau ke sana untuk menemui suamiku."
__ADS_1
Nara yang hendak pergi tangannya langsung di tahan oleh nenek. "Nara, tenangkan dirimu."
"Nek, aku mau menemani suami di sana." Nara tiba-tiba menangis dengan keras.
"Nara, ini sudah malam dan mereka tidak akan membiarkan kamu masuk. Kamu kalau mau bertemu dengan Tuan Jaden sebaiknya besok pagi saja."
"Aku tidak mau menunggu besok pagi, Mas Leo. Aku mau bertemu dengan dia sekarang!" Nara bergetar mengatakan hal itu.
"Nara, dengarkan Nenek. Cucuku tidak akan apa-apa, dan kamu jangan khawatir, masalah ini akan segera terselesaikan."
Nenek Miranti memeluk Nara yang sedang menangis dan tatapannya melihat pada Leo yang juga pandangannya terlihat ada kesedihan di sana.
Di dalam kamarnya Nara tidur dengan memeluk bantal yang biasa digunakan oleh Jaden. Dia dapat mencium aroma tubuh suaminya yang menempel di sana. Setidaknya hal itu dapat membuat Nara lebih baik walaupun sedikit.
"Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa orang itu jahat sekali pada suamiku? Apa aku sebaiknya minta tolong pada Paman dan bibi saja?" Pikiran Nara benar-benar kacau saat ini.
Semalaman Nara hanya bisa berbaring ke kanan dan ke kiri tanpa dapat memejamkan kedua matanya. Dia ingin sekali melihat keadaan suaminya.
Tidak lama ponsel Nara berbunyi, Nara tampak heran melihat panggilan tanpa nomor, dan panggilan itu terjadi di jam tengah malam.
"Apa kamu kesepian malam ini nona cantik?" Terdengar suara seorang pria yang tidak Nara kenali dari seberang telepon.
"Kamu siapa? Dan apa maksud kamu bertanya seperti itu?" Nara yang tadinya agak takut, sekarang dia terdengar kesal.
"Aku tau, kamu pasti kesepian karena suami kamu tidak ada bersama kamu malam ini."
Nara kaget. Kenapa dia tau jika malam ini Jaden tidak ada bersamanya?
"Siapa kamu sebenarnya? Dan kamu mau apa?"
"Aku tidak mau apa-apa. Aku hanya mau melihat penderitaan dari suami kamu itu, Nara."
"Apa yang sudah suamiku lakukan sama kamu? Apa kamu orang yang berada di belakang semua masalah yang sedang terjadi pada suamiku? Kamu pembunuh Mona, Kan?" tanya Nara dengan nada marah.
Pria di seberang telepon tertawa dengan kerasnya. "Tentu saja aku yang menjadi dalang semua masalah ini, tapi sayang kamu tidak akan bisa membuktikannya dan membebaskan suami kamu."
"Katakan apa yang kamu inginkan? Aku akan memberikannya, asalkan kamu bisa membuat suamiku terbebas dari sana."
__ADS_1
"Hem! Apa kamu sedang membuat penawaran yang menarik denganku?"
"Katakan saja! Kamu mau apa?"
"Tinggalkan Jaden Luther. Pergilah sejauh mungkin sampai Jaden pun tidak dapat menemukan kamu," ucap pria itu tegas.
"Apa? Kamu ingin agar aku meninggalkan suamiku?"
"Iya, pergi dari hidup Jaden selamanya."
"Aku tidak akan meninggalkan suamiku, kamu jangan bermimpi aku akan meninggalkannya."
"Baiklah kalau kamu tidak mau meninggalkannya. Itu berarti kamu siap melihat suami kamu mendekam selamanya di dalam sel tahanan karena pembunuhan berencana yang sudah dia lakukan, bahkan dua orang yang sudah dia habisi."
"Suami tidak melakukan apapun pada Mona dan pria itu, tapi kamu yang melakukannya."
"Aku? Memangnya kamu punya bukti kalau aku yang melakukannya? Nara, aku hanya memberi kamu tawaran untuk pergi meninggalkan suami kamu. Kalau kamu mau melakukannya. Aku pastikan suami kamu akan segera bebas."
"Aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku. Aku akan berusaha agar dia dibebaskan karena memang dia tidak bersalah."
"Lakukan saja apa yang kamu bisa, tapi aku pastikan usaha kamu itu tidak akan pernah bisa berhasil."
Nara dengan cepat menutup panggilannya. Dia tampak bingung di tempatnya. Nara segera turun ke lantai bawah untuk mencari di mana Mas Leo. Nara ingin segera menceritakan tentang si penelepon misterius itu.
Leo malam ini tidak pulang ke tempat tinggalnya karena dia diberi pesan oleh Jaden untuk menginap di rumah neneknya karena Leo harus menjaga kedua wanita kesayangan Jaden itu.
"Nara, kamu ada apa berlarian begitu?" Leo yang berada di dalam dapur untuk mengambil air minum kaget melihat Nara turun dari anak tangga dengan berlarian.
"Mas Leo, aku mau bicara sebentar dengan Mas Leo."
"Kita bicara di ruang tamu saja." Leo dan Nara berjalan menuju ruang tamu. Di sana Nara bercerita tentang telepon dari pria yang Nara tidak tau siapa dia.
"Jadi, kamu baru saja mendapat telepon misterius?"
"Iya, dan dia tau kalau suamiku hari ini ditahan, Mas Leo."
"Apa dia menebar mata-mata di sini?" Leo tampak berpikir
__ADS_1