
Dimas mengatakan jika dia tidak bisa berjanji bisa menerima ajakan Mitha atau tidak karena takutnya besok Denna membutuhkan dirinya di rumah.
"Nanti akan aku kabari saja."
"Baiklah kalau begitu. Bye Dimas."
Dimas memutuskan panggilan teleponnya. Dia kembali melihat pada Denna yang sedang berkutat dengan ponselnya.
"Nona, apa Nona Denna tidak lapar? Bukannya tiap pagi nona Denna selalu sarapan pagi."
"Aku tidak lapar," ucap Denna singkat.
"Saya juga belum makan pagi. Bagaimana kalau kita makan pagi dulu." Denna, kan, selalu khawatir kalau Dimas lupa makan jika sedang bertugas menjaganya. Siapa tau dengan mengatakan hal itu Denna akan mau pergi makan pagi dengannya.
"Kalau begitu antarkan aku dulu ke rumah sakit dan kamu bisa menghubungi mantan kekasih kamu dan mengajaknya makan pagi. Pasti sangat menyenangkan." Denna memberikan senyum manisnya.
Dimas malah tersenyum kecil mendengar apa yang Denna katakan. "Nona kenapa? Kenapa dari tadi bicaranya ketus sekali? Apa saya sudah membuat kesalahan?" Dimas berbicara dengan mendekatkan wajahnya pada Denna yang sedang menatapnya.
Mereka sudah sampai di depan halaman rumah sakit.
"Aku tidak apa-apa. Memangnya kamu pikir aku kenapa?"
"Cemburu," jawab Dimas cepat, singkat, jelas dan padat.
"Cemburu? Cemburu sama siapa? Sama kamu dan Mitha?"
"Saya tidak mengatakan hal itu."
"Ck! Kita ini tidak ada hubungan apa-apa, Dimas. Kamu bebas dengan siapapun." Denna melepaskan sabuk pengamannya.
"Jadi, kejadian saat insiden kecelakaan pohon itu tidak ada artinya bagi Nona Denna?"
Denna seketika menghentikan tangannya yang akan membuka kenop pintu mobilnya.
"Kejadian itu hanya hal biasa saja. Aku saja sudah melupakannya."
"Tapi saya tidak, dan mungkin akan terus tersimpan dengan baik dalam ingatan saya."
Denna melihat pada Dimas. "Kamu perlahan akan lupa jika kamu memiliki kenangan indah lainnya."
Denna turun dan berjalan menuju anak tangga pintu utama. Dari kejauhan Dimas melihat ada Evans yang coba mendekati Denna.
Dimas yang tidak suka melihat sikap Evans yang memegang lengan tangan Denna langsung turun dari mobil dan menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
"Lepaskan tangan kamu, Pengecut!"
"Siapa kamu? Pacarnya?" Evans tertawa menghina. "Kamu bukan pacarnya Denna. Kamu hanya seorang pengawalnya, atau lebih bagusnya aku sebut kamu seorang kacungnya Denna.
Denna yang mendengar hal itu sontak marah. Dimas tetap tenang mendengar apa yang dikatakan oleh Evans.
"Jaga mulut kamu ya, Evans! Dimas bukan kacung aku. Pekerjaan dia itu sangat patut dibanggakan. Dia berani mempertaruhkan dirinya untuk melindungi orang yang harus dia jaga, daripada kamu yang bisanya menjebak seorang gadis dengan cara yang menjijikan," hina Denna.
"Aku melakukan itu karena aku mencintai kamu dan ingin agar kamu tau jika aku serius sama kamu."
"Menjijikan! Aku tidak akan pernah tertarik pria pengecut seperti kamu."
"Lalu, apa kamu lebih suka kacung seperti Dimas?"
Denna melihat pada Dimas yang berdiri terdiam di tempatnya. "Kenapa tidak. Dimas pria yang baik, dan bagiku siapapun dia yang terpenting dia bisa menjaga dan menghormati seorang wanita."
"Kamu bisa-bisa memalukan keluarga kamu, Denna." Tangan Denna dipegang oleh Evans dengan kasar.
"Lepaskan tangannya, atau aku akan membuat kamu seperti waktu itu. Bahkan lebih parah." Tatap Dimas tajam.
"Dimas, kamu sebaiknya pergi saja. Kita tidak perlu mengurusi orang seperti dia." Denna mencoba menenangkan Dimas. Denna menggandeng tangan Dimas dan membawanya ke mobil.
"Saya akan menjaga Nona Denna di sini."
Dimas mau menurut dan pergi dari sana. Denna segera naik ke lantai atas untuk ke ruangan para dokter muda khusus spesialis anak.
"Denna, muka kamu kenapa kesal seperti itu?"
"V, kamu ada di sini? Sedang apa?'
"Aku menunggu kamu karena aku mau memberikan ini untuk kamu, Denna." V menyerahkan kotak makan.
"Apa ini? Wow! Dessert. Apa kamu yang membuatnya?"
V mengangguk cepat. "Semoga kamu suka dan bisa menghilangkan kekesalan kamu."
Denna langsung memeluk V. V agak kaget dengan sikap Denna. "Maaf, V, aku hari ini benar-benar ingin rasanya menangis."
"Kalau kamu mau, kamu bisa ceritakan padaku."
Denna terdiam sejenak. Tiba-tiba dari kejauhan Diaz memanggil nama Denna. V dan Denna menoleh ke asal suara itu. "Ada apa, Diaz?"
"Itu tadi ada Evans di bawah. Apa dia mencoba mengganggu kamu lagi?"
__ADS_1
Denna menganggukkan kepalanya. "Aku kesal sama dia, kenapa dia tidak tau malu masih terus mengejarku."
"Siapa Evans? Pacar kamu?" sahut V penasaran.
"Jangan sampai deh! Denna pacaran sama dia. Dia pria kurang ajar yang hampir melecehkan Denna jika Denna tidak ditolong oleh bodyguard ayahnya," jelas Diaz.
"Diaz! Itu bukan hal yang patut disebarkan!" Muka Denna kesal.
"Aku minta maaf. Habisnya! Aku kesal sekali kalau ingat apa yang akan dilakukan Evans sama kamu."
"Dia mau melecehkan kamu, Denna? Kurang ajar sekali dia. Apa dia teman kuliah kamu? Ada di sini anaknya?"
"Dia teman sekolah SMUku dan dia tidak kuliah satu jurusan denganku"
V tampak terdiam sejenak. "Apa dia terus mengejar kamu? Kenapa tidak kamu laporkan hal itu, Denna?"
"Aku tidak mau membuat mamaku kepikiran. Apa lagi nenek buyutku yang memiliki riwayat penyakit jantung dan aku tidak mau orang-orang tau akan hal itu yang nantinya aku sendiri yang dipermalukan."
"Kamu tau sendiri, kan, V? Orang-orang pasti juga menyalahkan Denna dan menganggap Denna juga bukan perempuan baik-baik karena baju Denna bau minuman. Evans itu licik, dia bisa mengatakan jika dia dan Denna suka sama suka dan apa lagi terpengaruh minuman."
"Iya, apa lagi aku berada di kamar hotel. Evans sudah merencanakan semuanya," timpal Denna.
"Benar-benar pria kurang ajar! Semoga saja dia tidak berbuat hal ini pada orang lain."
"Evans itu sangat terobsesi dengan Denna, tapi Denna tidak memperdulikannya."
"Sudahlah, jangan membahas ini. Sebaiknya kamu segera kembali ke ruangan kamu, V, aku juga mau ke ruanganku. Terima kasih desertnya."
"Sama-sama Denna.
Denna dan Diaz berjalan masuk ke ruangannya. V masih berdiri di sana dari tadi melihat punggung Aira.
"Pria brengsek! Kurang ajar sekali dia ingin melecehkan Denna." Tangan V menggenggam erat menahan emosi.
Denna tampak terdiam di saat teman-temannya sedang berdiskusi tentang tugas mereka.
"Denna! Kamu melamun apa sih?" Senggol Diaz yang tau jika Denna sedang melamun.
"Aku tidak melamun apa-apa. Aku hanya--?" Denna bingung mau menjawab apa?
"Pasti mikirin Mas Dimas kamu itu, Ya?' Goda Denna.
"Untuk apa memikirkan Dimas? Dia sudah ada yang memikirkan," ucapnya terdengar ada kekesalan.
__ADS_1