
Nara terbangun karena mimpi barusan. Terlihat keringat dingin membasahi dahinya. Napasnya pun naik turun. Ternyata mimpi yang tadinya dia kira indah karena akan dapat melihat wajah pria yang mengulurkan tangan berubah menjadi mimpi buruk.
Pria yang memintanya untuk ikut dengannya tiba-tiba jatuh tersungkur di atas tanah dengan bersimbah darah.
Nara yang melihat hal tersebut tampak terkejut dan entah kenapa air matanya tiba-tiba jatuh menetes perlahan, dan tidak hanya itu seketika jantungnya terasa ada yang menikam dengan tajam sampai dia pun tidak dapat bernapas.
"Mimpi macam apa itu? Dan siapa pria yang seolah aku tidak ingin dia jauh dariku?" Nara berdialog sendiri.
Nara tidak mau memikirkan tentang mimpinya yang tidak jelas. Dia melihat jam dinding di atas kepalanya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Aku akan membangunkan Tuan Jaden. Dia sudah waktunya mandi dan aku akan menyiapkan makan malam."
Nara segera bergegas masuk ke dalam kamar Jaden, dan saat membuka pintu, Nara melihat Jaden masih terbaring dengan kedua mata terpejam sempurna.
"Masih tidur. Apa aku bangunkan dia atau tidak ya?"
Nara mendekat dan mengamati wajah Jaden yang terlihat seperti bayi tampan yang sedang tidur. "Wajahnya kalau tidur begini tampak menyenangkan dan tampan. Mirip sekali seperti bayi," ucap Nara.
Nara menunduk dan malah membenarkan selimut Jaden yang menyikap.
"Mau ke mana?"
Tiba-tiba Nara terkejut saat hendak pergi, tapi tangannya malah di tahan oleh Jaden yang dikira Nara masih tidur.
"Tuan sudah bangun?"
"Aku sudah bangun dari tadi, bahkan aku bisa mendengar apa yang kamu katakan tentang aku tadi, Nara."
"Memangnya aku bicara apa? Aku tidak bicara apa-apa" Nara coba mengelak.
"Kenapa kamu pandai sekali mengelak? Kenapa mengatai aku seperti bayi? Maksud kamu aku tidak bisa apa-apa?"
"Dasar! Kenapa pemikirannya selalu negatif? Aku mengatakan seperti bayi karena wajah Tuan sewaktu tidur sangat tenang dan dilihat lebih menyenangkan daripada pas bangun begini."
Jaden malah tersenyum miring. "Kamu juga mengakuiku kalau aku tampan."
"Aku tidak mengatakan hal itu." Nara tampak salah tingkah karena ketahuan memuji Jaden. "Tuan, aku mau menyiapkan makan malam dulu. Tuan, apa mau saya bantu dulu masuk ke dalam kamar mandi. Aku bisa mendorong Tuan, Jaden."
__ADS_1
"Iya, aku akan mencoba mandi sendiri supaya aku tidak kamu anggap sebagai bayi."
Nara membantu Jaden bangun dan duduk di atas kursi roda. Nara melepaskan baju Jaden dan membantu ke dalam kamar mandi.
"Apa Tuan sudah bisa melepaskan celananya?"
"Aku bisa, Nara. Pijatan yang dilakukan oleh Sandra dan mungkin obat dari Will mulai bekerja. Rasanya tidak sekaku kemarin, hari ini lebih baik. Mungkin sebentar lagi aku akan benar-benar pulih."
"Mba Sandra memang hebat kalau begitu. Mungkin karena dia melakukannya dengan cinta jadi kesembuhan Tuan Jaden sangat cepat."
Kedua alis Jaden mengkerut mendengar apa yang dikatakan oleh Nara. "Apa maksud kamu melakukannya dengan cinta? Sandra memang sudah berpengalaman dalam hal ini, kalau dia tidak becus, aku akan segera menyuruhnya untuk di ganti."
Nara baru sadar jika dia keceplosan. "Maksud aku, dia melakukan dengan tulus, walaupun itu memang pekerjaannya jika dilakukan dengan hati yang tulus, hasilnya akan sangat baik."
"Seperti Kamu yang mulai tulus menjadi pelayanku?"
Nara seketika wajahnya berubah malas. "Hem ...," jawabnya.
Selagi Jaden membersihkan diri. Nara berkutat dengan alat tempurnya di dapur. Malam ini Nara membuatku zupa sup untuk Jaden karena tadi ada sisa adonan yang bisa dia buat roti.
"Apa Tuan Jaden bisa berganti baju sendiri? Ya ampun! Aku lupa menyiapkan baju untuknya."
"Susah sekali mengambil bajunya," terdengar suara dari dalam walk in closet.
"Tuan? Kenapa Tuan berada di sini?"
"Keterlaluan kamu! Kenapa tidak menyiapkan baju untukku dulu? Kamu pikir aku bisa mengambil baju di atas itu?"
"Maaf, tadi aku saking bersemangat untuk memasak." Nara mengerucutkan bibirnya dan mengambilkan setelah sweater dan celana pendek berwarna cream. "Pakai yang ini saja ya, Tuan? Aku suka warnanya."
"Terserah kamu. Cepat pakaikan, aku kedinginan dari tadi."
Nara segera membantu Jaden memakai bajunya dan jangan tanya tentang bagian bawahnya. Jaden sudah menggunakan boxernya dan Nara tinggal membantu memakaikan celana pendeknya.
Jaden sekarang duduk menggunakan kursi roda, dan makan di meja dalam kamarnya.
"Ini makanannya, Tuan. Tuan sudah bisa makan sendiri, kan?"
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau makan di dapur saja dan menyiapkan makanan untuk para pak penjaga di luar, kasihan mereka, apalagi udaranya sangat dingin malam ini. Aku lihat di luar sepertinya akan turun hujan."
"Temani aku makan di sini setelah menyiapkan makanan untuk mereka. Kamu juga, aku lihat belum memindahkan barang-barang kamu di kamarku. Bukannya aku menyuruh kamu memindahkan barang-barang yang kamu butuhkan di kamar selama aku masih sakit."
Nara tampak bingung sekarang karena dia ingat dengan ucapan mba Sandra yang tidak mau melihat Nara terlalu dekat dengan Jaden.
"Apa bisa aku tidak perlu tidur satu ranjang dengan Tuan? Aku tidur di sofa saja, dan kalau Tuan membutuhkan aku, Tuan bisa berteriak memanggilku."
"Kalau kamu tidak mendengarkan panggilanku karena tidur kamu seperti orang mati, bagaimana?"
"Lempar saja aku memakai guling atau bantal. Aku pasti bangun."
"Terserah kamu saja," jawab Jaden malas.
"Dan soal barang-barangku lebih baik tetap di kamarku saja, Tuan. Takutnya kalau pas aku mau ganti baju dan dikamar Tuan ada mba Sandra dan Tuan Jaden yang sedang terapi."
Jaden memandang aneh pada Nara. "Terserah," ucap Jaden tegas.
Nara segera keluar dari kamar Jaden dan menyiapkan beberapa makanan untuk para penjaga di luar. Para penjaga sangat senang. Mereka juga sebenarnya sudah di siapkan rumah kecil dekat rumah utama yang bisa mereka gunakan untuk beristirahat gantian.
"Tuan, bagaimana menurut Tuan Jaden tentang mba Sandra? tanya Nara sok akrab.
"Dia wanita tulen. Memangnya kenapa?"
"Hah? Memang dia wanita tulen, tapi bukan itu maksud pertanyaan aku.."
"Lalu apa?"
"Dia itu bagaimana? Cantik, baik, lembut dan pandai."
"Biasa saja," jawab Jaden datar, sambil memperhatikan Nara yang tengah membereskan tempat tidur Jaden.
Nara tampak bingung apa yang harus di lakukan agar Tuannya ini tau secara tidak langsung jika ada wanita cantik dan baik yang menyukainya.
"Kok biasa saja? Mba Sandra itu wanita yang pantas jika dijadikan seorang istri. Nenek Tuan pasti akan sangat senang jika Tuan mau berkenalan lebih dekat dengannya."
__ADS_1
Pandangan mata pria yang duduk di atas kursi roda itu mulai berubah aneh.