Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Hilang Ingatan


__ADS_3

Nara membuka pintu kamar mandi dan saat dia keluar pintu utama di sana sudah ada Paijo berdiri.


"Nara, kamu baik-baik saja? Kamu habis menangis?"


"Jo, aku mau keluar sebentar."


"Kamu mau ke mana, Nara?" Paijo mengikuti Jaden yang berjalan dengan cepat.


"Aku bertemu dengan suamiku di sini, tapi dia tidak mengenaliku."


"Apa? Nara tunggu!" Tangan Paijo menghentikan langkah Nara.


"Jo, aku mau bicara dengan mas Leo asisten pribadi Jaden, aku mau tau apa yang terjadi dengan suamiku."


"Katakan, di mana kamu bertemu dengan Jaden?"


"Jaden ada di restoran kamu. Dia di sini, Jo."


"Apa? Lalu, kalian sudah bicara?"


"Jaden sama sekali tidak mengenaliku, dia bahkan marah saat aku tidak sengaja mengusap pipinya karena khawatir dengan apa yang terjadi dengannya."


"Dia tidak kenal kamu? Bagaimana bisa?" Paijo tampak heran.


"Aku mau bertemu dengan Mas Leo. Dia pasti tau semua yang terjadi dengan suamiku."


Nara kembali berjalan menuju pintu keluar utama. Paijo pun mengikutinya.


Di luar Nara mengedarkan pandangannya melihat sekeliling tempat parkir untuk mencari sosok Leo.


Kedua mata Nara menangkap sosok yang dia cari. Leo tampak berdiri membelakangi Nara, tampaknya dia sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.


"Mas Leo." Nara menepuk pundak Leo.


Leo yang baru saja selesai bicara dan menoleh pada suara yang memanggilnya. "Nara? Ini benar kamu?" tanya Leo tidak percaya.


"Ini aku Mas Leo."


"Oh Tuhan!" Leo langsung memeluk Nara dengan erat. Paijo yang berdiri di sana tampak melihat haru pada mereka.


"Nara, bagaimana kamu bisa berada di sini? Apa kamu bertemu dengan Tuan Jaden?"


"Aku sudah bertemu, tapi dia tidak mengenaliku. Apa yang terjadi dengan suamiku, Mas Leo?"


Leo terdiam melihat sayu pada Nara. "Mas Leo, katakan apa yang terjadi pada suamiku? Kenapa dia tidak mengingatku?"


"Tuan Jaden baru saja mengalami kecelakaan parah, Nara, bahkan dia hampir saja kehilangan nyawanya."

__ADS_1


"Oh Tuhan!" Nara sampai menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Bagaimana kecelakaan itu terjadi?"


Flashback


Waktu itu nenek mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit memberitahukan jika Jaden sudah sadar dari komanya.


Nenek dan Leo segera ke sana. Renata juga ikut karena nenek meminta Renata untuk ikut ke sana.


"Iya, Nek. Aku akan ikut kalian." Sebenarnya Renata terkejut mendengar berita Jaden sudah sadar. Dia berharap Jaden mati saja. Jaden pasti akan membalas dendam pada Renata dan Jacob.


Sesampai di rumah sakit. Nenek segera berjalan menuju kamar di mana Jaden selama ini di rawat.


Nenek melihat beberapa alat medis yang waktu itu sangat banyak menancap pada tubuhnya, kini hanya ada beberapa karena sudah dilepas.


"Jaden sayang!" seru Nenek memeluk cucunya yang tampak bersandar pada ranjangnya dengan posisi ranjang di modif duduk.


"Nenek, apa benar aku baru saja mengalami kecelakaan?"


Nenek tampak heran melihat pada Jaden kemudian dia melihat pada dokter yang ada di sana.


"Kamu memang mengalami kecelakaan, Sayang. Apa kamu tidak ingat?"


Jaden menggeleng. "Aku tidak ingat sama sekali. Kenapa aku bisa kecelakaan, Nek?"


"Maaf, sebenarnya Jaden mengalami amnesia. Dia kehilangan ingatannya empat tahun yang lalu sebelum kecelakaan yang menimpanya?"


"Jadi cucuku kehilangan ingatannya?" Nenek melihat pada Jaden.


"Iya, Jaden kehilangan ingatannya karena pendarahan itu dan kemudian dia koma. Sebenarnya kami tidak yakin Jaden akan bisa bertahan hidup, tapi nyatanya Tuhan berkata lain. Jaden bisa sadar, hanya saja dia harus kehilangan ingatannya."


"Oh Tuhan! Jadi cucuku juga tidak akan ingat tentang Nara? Jaden, apa kamu ingat dengan seseorang selain nenek dan Leo?"


"Siapa maksud Nenek? Mauren? Aku ingat, tapi aku tidak peduli dengannya."


Nenek Miranti melihat pada Leo. Leo hanya menghela napas pelan.


"Jaden! Bagaimana keadaan kamu?" Renata yang tiba-tiba masuk langsung memeluk Jaden. Sebenarnya Renata dari tadi mendengar percakapan mereka di depan, jadi dia berani masuk ke dalam saat mengetahui Jaden hilang ingatan.


"Kamu siapa?"


"Kamu lupa sama aku? Aku Renata teman kecilmu dulu di Kanada. Aku beberapa hari di rumahmu dan kamu lupa sama aku?"


"Jadi kamu Renata si penjual jepitan rambut. Aku tidak tau jika kamu seperti ini wajahnya."


"Memang wajahku kenapa? Aku cantik, kan?"


"Tidak. Masih lebih cantik--." Jaden terdiam. Dia bingung akan mengatakan nama seseorang, tapi dia tidak tau siapa namanya?

__ADS_1


"Cantik siapa?"


Jaden memegangi kepalanya dan berteriak kesakitan. "Jaden, kamu kenapa?" Nenek tampak khawatir.


"Kepalaku sakit! Kenapa aku melihat bayangan seseorang yang aku tidak tau siapa dia?" Jaden mengerang kesakitan.


"Kalian sebaiknya keluar dulu karena aku mau memeriksa keadaan Jaden."


Nenek melihat cemas dari balik pintu. "Leo, kenapa jadi seperti ini?"


"Aku tidak tau, Nek."


"Apa benar Jaden kehilangan ingatan karena kecelakaan itu?" tanya Renata memastikan.


"Iya, dokter mengatakan dia kehilangan ingatan empat tahun sebelum kecelakaan yang menimpanya. Tuan Jaden bahkan tidak ingat jika sudah menikah dengan Nara."


"Apa? Lalu, bagaimana dengan selanjutnya? Jujur saja aku sebenarnya ingin agar Jaden melupakan Nara supaya dia tidak terlalu sedih, tapi tidak hilang ingat seperti ini."


"Kita tunggu saja apa kata dokter nanti."


Tidak lama dokter keluar dari kamar Jaden. Dia memberitahu kepada Nenek jika Jaden tidak boleh sampai diingatkan oleh masa lalunya karena hal itu bisa membuat Jaden koma dan bahkan lebih buruk bisa kehilangan nyawanya.


"Lalu, apa kita biarkan saja dia melupakan tentang istri dan beberapa kejadian yang menimpanya, Dok?"


"Biarkan semua ingatannya kembali dengan sendirinya karena itu lebih baik, tapi selama dia tidak ingat apapun, jangan mencoba mengingatkan dia. Ini semua demi nyawa Jaden."


Flashback Off


"Oh Tuhan! Kenapa semua ini bisa terjadi pada suamiku?"


"Tuan Jaden sebelum kecelakaan itu baru saja bertengkar dengan seseorang dan keadaanya sudah parah, ditambah kecelakaan itu."


"Bertengkar dengan seseorang? Dia bertengkar dengan siapa?"


Leo menggeleng. "Aku sudah menyuruh orang mencari tau dan mereka mengatakan jika Jaden terlibat pertengkaran dengan beberapa orang di klub malam dan pemicunya seorang wanita."


"Wanita? Siapa? Apa Mauren?"


"Aku belum mendapat info. Kata orang di sana dengan seorang pelanggan di sana di mana Tuan katanya mendekati kekasih pria itu."


"Apa? Itu tidak mungkin Mas Leo."


"Aku juga tidak percaya. Tuan Jaden sangat mencintai kamu dan tidak mungkin jika menggoda wanita lain."


"Apa selama aku menghilang suamiku masih memikirkan aku, Mas Leo?"


"Tentu saja, Nara. Tuan Jaden seperti orang gila mencarimu. Kenapa kamu tidak kembali, Nara?"

__ADS_1


"Aku melakukan hal ini untuk melindungi suamiku dari hukuman penjara itu dan orang itu mengancam akan membunuh suamiku jika aku terlihat mendekat padanya," terang Nara dengan sedih.


__ADS_2