
Jaden tidak merespon apa kata neneknya, dia hanya diam saja. Jaden malah melongo ke arah jam tangannya yang menunjukkan sekilas pesan masuk pada ponselnya.
"Dia berulah lagi," ucap Jaden lirih.
"Lihat itu Leo. Cucuku ini memang menginginkan neneknya pergi sebelum dapat melihat cucunya lahir. Dia diajak bicara malah menggerutu sendiri." Nenek cantik itu mengadu pada Leo yang berdiri dengan tegap di belakang Jaden.
"Nenek ini bicara apa? Aku baru saja mendapat kabar tentang bisnisku." Bohongnya Jaden.
"Selalu saja tentang bisnis kamu, bahkan ayah dan mama kamu juga sama saja tidak peduli dengan nenek. Mereka tidak ada yang menghubungi Nenek. Coba kakek kamu masih hidup pasti nenek tidak akan kesepian," ucap wanita tua yang masih terlihat cantik itu sedih.
Jaden memeluk neneknya dan duduk di sebelah wanita yang sangat Jaden banggakan itu.
"Kalau nenek ingin cucu dariku, nanti aku akan mencari wanita yang mau mengandung anakku, tapi aku tidak mau menikahinya karena pernikahan akan membuatku dalam masalah."
Tangan wanita tua itu seketika menjewer telinga Jaden dengan keras sampai Jaden meringis kesakitan. Leo yang melihat hal itu malah menahan tawanya.
__ADS_1
"Dasar bocah nakal!"
"Nenek, sakit!" serunya sambil memegang telinganya yang dijewer oleh neneknya.
"Kamu jangan bicara asal, Jaden. Kalau kamu memiliki anak, kamu harus mempunyai istri. Apa kamu tidak kasihan jika anakmu kelak bertanya di mana ibunya? Dia harus dibesarkan dengan kedua orang tua lengkap."
Jaden beranjak dari tempat tidur neneknya dan berdiri melihat nenek cantiknya itu. "Kenapa keinginan nenek banyak sekali dan sangat rumit?" Tangannya menelungsup di kedua kantong celananya.
"Keinginan nenek tidak rumit, kamu saja yang membuat rumit. Jaden, katakan pada nenek kenapa kamu seolah tidak mau menikah dan memiliki keluarga?" Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tatapannya menatap serius pada cucu kesayangannya.
"Aku tidak mau wanita itu mendapat masalah nantinya, Nek."
"Nek, aku tidak mau membahas masalah tentang pernikahan atau keluarga. Nenek segera pulih dan nanti aku akan mengajak nenek jalan-jalan berdua. Kita akan bersenang-senang seharian." Jaden mengecup kening neneknya dan izin pergi dari sana.
Wanita yang bernama Miranti melihat cucunya berjalan dengan tegap keluar dari kamar rawatnya. Ada hal yang membuat Miranti tampak menatap nanar pada cucunya.
__ADS_1
"Kamu selalu memikirkan orang lain sampai diri kamu sendiri tidak pernah kamu pikirkan. Aku dan Hyden bangga sudah memiliki kamu, Nak," dialognya sendiri.
Mobil hitam milik Jaden sudah sampai di depan rumahnya. Dia berjalan keluar dengan langkah lebarnya masuk ke dalam rumah.
"Selamat sore Tuan Muda," sapa Bi Ima.
"Di mana dia? Apa sudah Bibi berikan baju yang seharusnya dia pakai?"
"Sudah, dan dia berada di dalam kamarnya, Tuan Muda."
Jaden wajahnya tampak datar dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Nara. Leo yang melihatnya tampak heran.
"Memangnya apa yang tadi dilakukan oleh Nara, Bi?"
"Aku memergoki Nara sedang memegang telepon, dan sepertinya dia akan menghubungi seseorang. Padahal aku sudah peringatkan jangan berbuat hal apapun tanpa seizin Tuan muda."
__ADS_1
Leo tampak terdiam mendengar penjelasan bi Ima, dalam hatinya, Leo tampak sedang menduga apa yang nanti akan dilakukan Jaden pada Nara?
Jaden tanpa mengetuk pintu langsung menerobos kamar Nara dan Jaden malah melihat hal yang seharusnya tidak dia lihat.