Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Ucapan yang Mengkhianati Perasaan


__ADS_3

Nara mengobati luka Jaden sebisa mungkin. Dia menggunakan beberapa obat yang ada di kotak P3K.


"Tuan akan aku bawa ke kamar Tuan sendiri."


"Tidak perlu, Nara. Aku sudah tidak kuat jika harus berjalan ke kamarku. Kita di sini menunggu Will datang."


Jaden kembali bersandar, Jaden mencoba menghubungi kembali anak buahnya. Siapa tau mereka sudah sadar, tapi belum diangkat.


"****! Mereka pasti belum sadar."


"Tuan, tangan Tuan masih mengeluarkan darah, kita harus segera mengeluarkan peluru dari lengan tangan Tuan JL."


"Kamu jangan khawatir karena nanti Will akan menangani hal ini. Bagiku ini hanya luka kecil. Aku pernah mengalami lebih dari ini."


"Tapi kenapa aku melihat Tuan JL sangat kesakitan seperti itu?"


"Kamu tau sendiri keadaanku belum pulih, dan tadi aku sudah menghajar pria itu, dan sekarang aku kena tembak."


Nara tidak membayangkan sakit yang Jaden rasakan. "Lalu, bagaimana supaya Tuan JL tidak merasakan sakit sampai dokter Will datang?"


"Kemarilah. Peluk aku, Nara." Tangan Jaden terlentang menyuruh Nara memeluknya.


Nara terdiam di tempatnya dan hanya melihati pada pria yang sedang menunggunya menerima sebuah pelukan hangat.


"Tapi Tuan."


"Sakit sekali." Rintih Jaden."


Nara segera masuk ke dalam pelukan pria itu. Nara duduk bersandar pada dada Jaden di lengan yang tidak tertembak. Nara sekali lagi bisa mendengar detak jantung Jaden yang terdengar cepat.


"Apa sudah tidak sakit? tanya Nara tanpa melihat pada Tuannya.


"Tidak." Jaden menarik Nara erat ke dalam pelukannya. Rasa sakit yang dia rasakan sedikit berkurang.


Beberapa menit mereka dalam posisi terdiam. Nara merasakan hal yang benar-benar belum pernah dia rasakan. Dia seperti akan takut akan suatu hal dan kali ini ketakutannya membuat dia menangis. Rangkulan tangan Nara pada pinggang Jaden semakin dipererat. Nara seolah tidak ingin kehilangan pria yang ada di sampingnya ini.


"Tuan, jangan pergi. Aku tidak mau kehilangan Tuan JL," ucapnya lirih.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, aku tidak akan pergi secepat itu Nara," balas Jaden pelan, Jaden ternyata mendengar apa yang Nara katakan.


Tidak lama terdengar suara langkah mendera berjalan menuju mereka. Jaden yang masih setengah sadar mengarahkan pistol yang di pegangnya ke arah depan. Dia waspada jika yang datang itu bukan orang yang dia harapkan. Nara sampai memegang erat baju Jaden.


"Oh my God! Jade, apa yang terjadi?" tanya Will pada Jaden.


"Pak Dokter tolong selamatkan Tuan JL." Nara melepaskan pelukannya dan memegang tangan Will dengan penuh harap.


"Kamu tenang saja, Nara. Dia akan baik-baik saja."


Pengawal lainnya yang sudah sadar juga berada di sana dan sama-sama membantu Jaden ke dalam kamarnya.


Mba Sandra juga di angkat ke atas tempat tidurnya, dan Will memeriksa jika sandra baik-baik saja. Tubuh Roy di bawa oleh para pengawal Jaden.


Sekarang Will berada di dalam kamar Jaden dan mulai memeriksa luka Jaden. "Pak Dokter, apa kita bawa Tuan JL ke rumah sakit."


"Kamu tenang saja, luka pada lengannya akan segera aku obati. Apa kamu bisa membantuku menyiapkan yang aku butuhkan?"


"Bisa, Dokter katakan saja apa yang harus aku lakukan?"


Will menyuruh Nara menyiapkan beberapa alat untuk melakukan pembedahan kecil pada lengan Jaden dan mengambil peluru pada lengan tangan Jaden.


Nara menggeleng dia mau tetap berada di dalam kamar untuk memastikan jika keadaan Tuannya baik-baik saja.


"Pak Dokter, aku di sini saja, siapa tau Pak Dokter membutuhkan bantuanku."


"Baiklah kalau begitu."


Dokter Will mulai melakukan apa yang sering dia lakukan. Jaden memang tidak suka berurusan dengan rumah sakit, dia lebih senang diobati di rumah jika memang hal itu masih bisa di tangani di rumah. Will adalah dokter yang handal, dan Jaden percaya akan keadaannya pada Will.


Nara di dalam membantu Will dalam melakukan pembedahan pada lengan tangan Jaden untuk mengeluarkan peluru.


Nara ternyata bisa belajar dengan cepat, dan Will senang kali ini yang dia lakukan bisa diselesaikan dengan cepat.


"Jaden sudah tidak apa-apa, terima kasih kamu mau membantuku."


"Aku senang bisa membantu Pak Dokter."

__ADS_1


Setelah selesai memasang perban pada lengan tangan Jaden, dokter Will keluar dan Nara membantu Jaden mengganti bajunya.


Nara sudah tidak merasa canggung lagi melihat seluruh tubuh Jaden. "Tuan, kata dokter Will, Tuan harus segera minum obat ini agar tidak terasa nanti sakitnya."


"Besar sekali obatnya! Aku tidak mau!"


Nara duduk di atas ranjang Jaden dan memasukkan obat pada mulutnya. Kemudian tanpa diminta memegang kedua pipi Jaden dan mendekatkan bibirnya pada bibir Jaden.


Nara mencium Jaden dengan lembut tanpa dipaksa oleh Jaden. Akhirnya obat itu sudah diminum oleh Jaden. Jaden tersenyum kecil setelah ciuman mereka terlepas. "Aku akan mengambilkan air untuk Tuan." Nara beranjak dari ranjang Jaden dan mengambil air yang ada di atas meja di kamar Jaden.


"Sekarang kamu berani untuk menciumku lebih dulu." Goda Jaden.


"A-aku melakukannya agar Tuan segera minum obatnya, tidak ada hal lain. Kalau nanti Tuan tidak minum obat itu, Tuan JL tidak akan bisa tidur kata Pak Dokter."


"Apa hanya itu?"


"Tentu saja hanya itu. Jangan berpikiran jika ciuman itu karena ada hal yang terjadi pada hatiku, sama sekali tidak," ucap Nara bepura-pura dingin.


"Bagus kalau begitu."


Nara agak kecewa dengan jawaban Jaden yang seolah Jaden lebih menyukai jika apa yang terjadi dengan mereka adalah hal yang tidak istimewa.


"Kalau begitu aku mau pergi keluar dulu, Tuan. Tuan istirahat saja dulu."


"Nara, kamu mau ke mana?" Jaden menahan tangan Nara yang hendak pergi.


"Aku mau pergi, Tuan. Tuan biar bisa istirahat, lagipula aku mau melihat keadaan Mba Sandra. Pak Dokter katanya ke kamar Mba Sandra untuk mengobati luka pada telinganya."


"Ya sudah, kabari aku mengenai keadaan Sandra."


Nara mengangguk dan berjalan pergi dari sana. Pria yang duduk dengan datar di atas. tempat tidurnya memandang Nara dengan tidak mau melepaskan gadis itu bahkan saat Nara sudah menghilang dari balik dinding kamarnya.


"Aku tidak boleh jatuh cinta pada gadis itu. Tidak ada kebahagiaan yang dapat aku berikan jika dia bersamaku," dialog Jaden sendiri.


Nara melihat Dokter Will baru saja keluar dari dalam kamar Sandra.


"Dok, bagaimana keadaan Mba Sandra?"

__ADS_1


"Dia tidak apa-apa, Nara, tapi masih belum sadar mungkin dia terlalu shock dengan apa yang terjadi di depannya.


"Iya, Dok. Kejadian dia disandera oleh mas Roy pasti membuatnya sangat shock, apa lagi ada pistol yang menodong kepalanya."


__ADS_2