
Mereka semua sekarang berada di ruang tengah. Nara mengambilkan baju milik Jaden agar dapat digunakan oleh Dimas. Sedangkan Denna berada di kamarnya ditemani nenek untuk berganti baju.
"Ayah kenapa jadi emosi tiba-tiba seperti tadi sih, Nek? Ayah tidak biasanya begitu?" tanya Denna sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Denna baru saja mandi dan berganti dengan baju yang lebih hangat.
"Kamu tidak tau bagaimana perasaan seorang ayah jika memiliki seorang anak perempuan. Seorang ayah akan menjadi sangat protektif pada putrinya, dan perasaanya akan sangat bingung jika putrinya mulai mengenal seorang pria yang istimewah baginya."
Denna mencoba mencerna ucapan neneknya dengan baik. "Tapi ayah tidak seharusnya langsung memukul Dimas. Ayah bisa bertanya baik-baik padaku dan apa ayah tidak percaya padaku jika aku tidak akan melakukan hal di luar batas."
Tangan wanita tua yang juga sangat menyayangi Denna itu mengusap lembut pucuk kepala Denna.
"Denna, ayah kamu bukannya tidak percaya sama kamu, tapi jika seorang ayah yang saat itu sangat khawatir tiba-tiba melihat putri kesayangannya pulang dalam keadaan penampilan memakai baju seorang pria, pasti pikirannya sudah buruk saja. Jadi, wajar jika ayahmu langsung marah."
"Iya juga sih, Nek." Denna mulai memahami apa yang dirasakan ayahnya.
Nenek mengajak Denna turun ke ruang tengah dan bergabung dengan lainnya. Denna tampak senang melihat ayahnya dan Dimas duduk bersama saling berbincang dengan hangat.
"Baju ayahku yang kamu pakai itu?" tanya Denna.
Dimas melihat ke arah bajunya. "Iya, Tuan Jaden meminjamkan sweater ini?"
"Dia itu tidak suka warna selain hitam, Yah. Persis seperti ayah. Pasti itu mama yang memilihkan?" Denna melihat mamanya.
"Kenapa persis seperti suamiku? Tapi sejak menikah, aku yang membuat isi lemari baju itu jadi berwarna warni, tidak hanya warna hitam, sakit mataku melihatnya."
"Ayah terpaksa menurut daripada nanti semua baju ayah dibuang." Denna menahan senyumnya.
"Sedingin-dinginnya seorang pria. Pasti akan mencair juga dihadapan orang yang dia cintai," celetuk Nara.
"Dimas juga dingin, dan kadang bicaranya sedikit. Kadang aku sebal jika sifat Dimas seperti ayah," celetuk Denna.
"Kalau begitu ayah ganti saja bodyguard kamu dengan yang lebih hangat dan tidak menyebalkan. Bagaimana?"
Denna seketika mendelik kaget pada ayahnya. "Kamu tidak akan marah, kan, jika aku mengganti kamu dengan orang lain?"
Dimas malah tersenyum. "Tentu saja tidak apa-apa. Saya juga tidak akan marah."
"Ayah ini! Kenapa main ganti orang seenaknya? Aku suka sama Dimas."
"Apa?" tanya Jaden kaget.
__ADS_1
"Maksud Denna, Denna suka dengan cara kerja Dimas. Dia selama ini selalu melindungi Denna dengan baik." Kedua mata Denna menatap Dimas. Pun dengan pria dengan wajah datarnya itu.
"Kamu bilang tadi Dimas terlalu dingin dan bicaranya sedikit."
"Sebenarnya itu baik sih, Yah. Aku juga tidak terlalu suka orang yang banyak bicara dan sok akrab."
Nara dan Nenek memperhatikan Denna yang memandang Dimas dengan pandangan yang tidak biasa. Namun, Nara tidak tau bagaimana dengan perasaan Dimas.
Benar apa kata Denna pria itu seperti suaminya dulu yang Nara tidak bisa menebak apa isi hati Jaden.
"Dimas." Tangan besar Jaden menepuk pundak Dimas.
"Iya, Tuan Jaden."
"Sekali lagi aku minta maaf karena tadi sudah memukul kamu."
Dimas memberikan senyum kecilnya. "Saya sudah memaafkan Tuan Jaden karena saya tau apa yang pasti Tuan Jaden pikirkan saat melihat putrinya pulang dengan baju seperti itu."
"Kamu paham juga. Suatu hari nanti kalau kamu menjadi seorang ayah, kamu pasti akan merasakan apa yang aku rasakan jika kamu memiliki seorang putri."
"Iya, Tuan."
"Iya, Tuan. Saya akan ingat semua yang Tuan Jaden katakan."
Nara tau apa yang dimaksud oleh suaminya. Jaden benar-benar tidak mau putrinya untuk saat ini memiliki seseorang yang istimewah.
Nara menyuruh Dimas dan Denna makan malam di ruang makan berdua karena pasti mereka belum makan.
"Apa masih sakit bibir kamu?"
Dimas menggeleng pelan. "Sudah tidak apa-apa."
"Maaf ya, Dimas."
"Tidak apa-apa, Nona."
Mereka melanjutkan makan makan malamnya. Kemudian Dimas izin untuk pulang karena hari juga sudah malam. "Dimas, sweater itu cocok sekali untuk kamu. Nara yang membelikannya, tapi sepertinya lebih cocok sama kamu. Itu untuk kamu saja," ucap Jaden.
"Tapi ini masih baru, Tuan, kenapa diberikan pada saya?"
"Tidak apa-apa, Dimas. Kamu memang lebih pantas memakainya."
__ADS_1
"Tapi ini Nyonya Nara yang membelikan untuk Tuan Jaden."
"Anggap saja kamu diberi oleh calon mertua kamu." Nara tersenyum dengan tangan menepuk-nepuk pundak Dimas.
Jaden dan Denna sama-sama kaget dan mendelik melihat pada Nara. "Mama ini, ini kenapa bicara seperti itu?"
"Denna itu masih harus kuliah dulu sampai selesai Nara," lanjut Jaden menegaskan pada istrinya.
"Aku hanya bercanda supaya Dimas tidak canggung menerima baju ini." Nara memutar bola matanya jengah.
Dimas akhirnya pulang ke rumahnya. Di dalam rumahnya ternyata adik Dimas belum tidur. Terlihat di atas meja di mana adik Dimas duduk banyak sekali buku-buku berserahkan.
"Kamu ada tugas?"
"Iya, Kak, dan aku harus segera mengerjakannya. Kak Dimas apa sudah makan? Kalau belum aku tadi hanya membuat nasi goreng dengan telur." V bicara tanpa melihat kakaknya.
"Aku sudah makan dengan keluarga Tuan Jaden. Kamu jangan tidur malam-malam karena tidak baik untuk kesehatan kamu."
"Iya, aku akan segera menyelesaikannya dan pergi tidur." V terdiam saat melihat pada kakaknya.
"Aku pergi tidur dulu." Dimas beranjak dari tempatnya.
"Kak, tunggu dulu!"
"Ada apa?"
"Bibir Kak Dimas kenapa? Habis berkelahi lagi?" tanya V mencoba memeriksa luka Dimas.
"Ini tidak apa-apa. Aku hanya salah paham saja tadi dengan Tuan Jaden. Kamu tidak perlu khawatir."
"Salah paham bagaimana? Kenapa sampai melukai Kakak?"
"V! Besok aku ceritakan, sekarang aku lelah sekali dan aku mau tidur dulu. Kamu cepat tidur." Dimas mengacak-acak rambut adiknya yang memang agak gondrong.
V terdiam di tempatnya melihat kakaknya sampai masuk ke dalam kamarnya.
"Aku penasaran ingin tau siapa tuan Jaden dan bagaimana orangnya? Sepertinya orang itu arogan sekali. Kakakku sudah sangat baik menjaga anaknya dan dia memukul Kakakku karena salah paham? Enak sekali dia bertindak," V berdialog sendiri dengan nada kesal.
Di rumahnya Denna tampak sedang duduk di dekat jendela kamarnya yang tidak dia tutup. Denna melihat ke atas langit yang masih turun gerimis kecil.
"Apa Dimas akan terus mengingat momen saat kita bersama seperti tadi?" tanya Denna pada langit yang sedang menangis dari tadi sehingga hujan tidak berhenti.
__ADS_1