Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Nara Mencoba Kuat


__ADS_3

Sam orang suruhan Paijo memberitahu Paijo jika Jaden sedang mengalami kecelakaan dan keadaanya kritis.


Jaden diketahui baru saja di pukuli oleh beberapa orang yang dia tidak ketahui pasti siapa pelakunya. Lalu, Jaden mengalami kecelakaan yang parah dan mungkin saja dia tidak akan bisa selamat.


"Terima kasih, Sam, atas info yang sudah kamu berikan padaku."


"Iya, Tuan Muda."


Paijo memasukkan ponselnya pada saku celananya. Dia berdiam diri sebentar di tempatnya dan mengingat kembali semua yang dikatakan oleh dokter kandungan Nara.


"Apakah aku harus menceritakan pada Nara tentang keadaan Jaden? Kalau kata Sam dia baru saja dipukuli oleh beberapa orang. Apa mungkin itu musuh Jaden? Kalau sampai Nara datang dan musuh Jaden yang bernama Renata tau, pasti nyawa Nara juga dalam bahaya." Paijo melangkahkan kakinya menuju kamar Nara.


Paijo melihat Nara dari balik kaca kecil yang ada di depan pintu kamar Nara. Paijo merasa kasihan pada Nara yang saat itu sedang duduk melamun di atas tempat tidurnya.


"Paijo, kamu kenapa jam segini ada di sini? Bukannya kamu harus menjaga restoran kamu?" Nara tampak tersenyum.


"Ada Sam yang bisa menghandle urusan di sana. Kabar kamu bagaimana, Nara?"


"Aku baik, Jo, aku sudah memutuskan untuk tidak terlalu sedih memikirkan suamiku. Aku yakin di sana dia baik-baik saja selama aku menjauh darinya. Setidaknya itu yang dijanjikan si penelepon misterius itu."


Paijo memaksakan senyumnya. "Aku turut bahagia jika kamu memutuskan hal itu karena bagaimanapun juga kamu harus memikirkan bayi yang ada di kandungan kamu."


"Benar, Jo, aku harus membuat dia lahir ke dunia dan mungkin suatu hari nanti aku akan mempertemukan dia dengan ayahnya."


"Apa kamu tidak takut jika musuh Jaden tau?"


"Aku akan membuat rencana untuk memberitahu Jaden siapa sebenarnya Renata, tapi tidak untuk saat ini. Aku ingin membuat mereka lengah dulu mengira aku benar-benar menghilang dan menjauhi Jaden."


"Aku setuju hal itu."


"Bagaimanapun aku ingin suatu hari nanti Jaden dapat bersamaku dan anak kita."

__ADS_1


Paijo tampak terdiam. Dia bingung apa hal yang diinginkan Nara dapat terjadi mengingat apa yang baru saja Sam katakan padanya tadi. Apa Jaden bisa selamat?


"Aku adalah orang pertama yang akan bahagia melihat kamu bisa bahagia dengan orang yang kamu sayangi, Nara."


"Aku sudah memikirkan hal ini dari tadi. Aku tidak akan menyerah, jika Jaden tau siapa musuhnya pasti dia akan melakukan sesuatu."


"Aku tau jika kamu adalah Nara sahabatku yang tangguh. Sekarang kamu tidur dulu karena besok kita bisa berkemas dan pulang ke rumah. Nara, mulai sekarang kamu bisa tinggal di rumahku saja dan aku tau kamu tidak akan suka jika satu atap dengan pria yang bukan suami kamu. Aku akan tinggal sementara di kontrakan dekat rumahku. Lagi pula aku juga sebenarnya jarang tidur di rumah karena aku sering pergi luar kota mengurusi bisnis kulinerku lainnya."


"Tidak mau! Aku tidur saja di kontrakanku dan kamu tetap di rumah kamu. Aku baik-baik saja, Jo."


"Kalau ada apa-apa lagi sama kamu bagaimana? Kalau aku kebetulan ada di sini, kalau tidak bagaimana, Nara?"


"Pemilik dan tetangga di rumah kontrakan aku sangat baik. Bahkan mereka tidak menggunjingku saat tau aku wanita bersuami, tapi tinggal sendiri."


"Mereka memang baik, Nara, tapi apa kamu tidak mau tinggal di rumahku yang jika kamu ada apa-apa bisa segera ditangani."


"Jo, kamu tidak perlu terlalu mencemaskan aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri dengan baik. Aku, kan, Nara yang tangguh." Nara tertawa dan diikuti oleh Jo.


Dalam hati Paijo merasa bersalah dan meminta maaf karena tidak mengatakan hal yang terjadi pada Jaden. Setidaknya ada yang bisa Paijo selamatkan kalaupun ada apa-apa sama Jaden."


Hampir satu bulan Nara menjalankan kegiatannya di cafe itu seperti biasa.


Hari-hari dia lalui dengan mencoba bahagia demi bayi yang sedang dia kandung.


"Mba Nara, kamu tidak membuat sup? Kamu tau jika sup buatan kamu itu sangat enak sekali, Mba Nara."


"Mungkin hari ini aku akan membuatnya karena aku sepertinya mengidam ingin makan sup ayam yang seperti mamaku dulu buat."


"Iya, kamu buatlah dan aku akan membantu kamu. Mba Nara, aku minta maaf sama kamu soal sup." Tami tampak melirik pada Nara.


"Minta maaf soal sup? Memangnya kamu pernah salah sama supku?" Nara melihat aneh pada Tami.

__ADS_1


"Waktu itu ada seorang pria yang makan di sini dan aku sangat menyukainya. Entah kenapa saat pertama kali bertemu dengan dia, aku sudah jatuh cinta. Dahal usianya lebih tua dari aku. Dia makan di sini dan sangat menyukai sup buatan kamu."


"Oh ya? Lalu kenapa kamu minta maaf?"


"Waktu dia mau bertemu dengan si pembuat sup untuk mengucapkan terima kasih dan memberi tips, aku mengakui jika itu sup buatanku. Aku minta maaf, Nara." Wajah Tami menunduk.


"Apa yang kamu lakukan itu tidak benar, Tami."


"Aku tau, aku salah, Mba Nara. Aku sebenarnya hanya ingin perhatian dari dia. Aku juga menolak tips darinya, tapi dia memaksa."


"Aku marah sama kamu, Tam." Nara memasang wajah serius sambil bersedekap.


Tam yang sebenarnya gadis yang baik tampak sedih dan takut jika Nara tidak memaafkannya.


"Mba Nara, aku mohon maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji." Tami menunjukkan jari kelingkingnya.


Nara tertawa dengan bahagia. "Kamu takut ya?"


"Mba Nara! Jadi kamu tadi cuma mengerjai aku?" Tami tampak terkejut karena dikerjai oleh Nara.


"Iya, kenapa kamu serius begitu? Aku tidak akan marah hanya karena hal itu. Apa lagi kamu melakukannya hanya ingin bisa mendapat perhatian orang yang kamu sukai."


"Iya, aku tidak tau jika tiba-tiba aku menyukainya."


"Apa kamu sudah tau namanya dan nomor teleponnya?"


Tami menggeleng. "Dia sepertinya kecewa saat tau bukan aku yang membuat sup itu. Dia juga kelihatannya sudah memiliki kekasih." Tami tampak cemberut.


"Kalau begitu kamu harus melupakan dia, Tam karena tidak baik jika kita mendekati pria yang sudah memiliki kekasih apa lagi beristri. Kita seperti wanita yang sangat jahat di dunia saja."


"Tapi kalau dia tidak bahagia dengan pasangannya, apa kita tidak boleh mendekatinya dan memberikan dia kebahagiaan?"

__ADS_1


Nara tersenyum mendengar pertanyaan Tami. "Kalau dibalik kamu jadi pasangannya terus dia digoda wanita lain. Bagaimana?" Nara melihat pada Tami.


"Sakit, Mba Nara. Kalaupun tidak suka atau sudah tidak cinta ya bicara dulu baik-baik. Hubungan diakhiri dan bisa dengan orang lain."


__ADS_2