
Nara yang sedang mencari pintu keluar rumah besar itu malah terhenti lagi saat indra penciumannya menangkap aroma masakan yang sangat enak.
"Kamu sedang apa di sini?" Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang Nara.
Nara sontak saja terkejut dan dia menoleh dengan gerakan patah-patah melihat siapa yang sudah memergokinya.
Nara melihat seorang wanita paruh baya yang berdiri dengan memperhatikan Nara aneh. "Ibu siapa?" tanya Nara yang seolah pernah melihat wanita yang berdiri di depannya.
"Panggil saja aku Bi Ima, kamu sudah baikkan?" Wanita itu malah tersenyum manis pada Nara dan tangannya menempel pada dahi Nara yang membuat Nara agak takut.
"Aku sudah baikkan, dan aku mau pulang saja ke rumahku," ucap Nara polos.
__ADS_1
"Pulang?" Tangan Bi Ima malah menggandeng tangan Nara dan mengajak Nara masuk ke ruang makan dan menyuruhnya duduk. "Kamu makan dulu, bukannya semalam kamu habis demam tinggi."
Nara tampak bingung. Ini dia kemarin diculik, tapi kenapa dia yang sedang sakit malah di rawat oleh penculiknya bahkan dia seperti tidak sedang di culik. Ada apa dengan semua ini?
"Maaf, Bu. Aku mau tanya."
"Jangan banyak bertanya padaku karena aku tidak akan menjawab semua pertanyaan kamu. Kamu makan saja dan setelah itu kembali ke kamar kamu untuk minum obat kamu. Banyaklah beristirahat karena kamu harus menjaga kesehatan kamu."
Nara yang mulutnya mangap langsung kembali tertutup mendengar apa yang barusan dikatakan oleh wanita paruh baya di depannya yang terdengar serius dan jujur saja agak menakutkan.
"Iya, itu aku yang menyuapi kamu, dan sup ayam yang kamu bawa sangat enak, aku mencicipinya sedikit. Aku menyuapi kamu dengan sup ayam yang kamu bawa."
__ADS_1
"Terima kasih sudah merawatku kemarin." Nara ini walaupun begini dia tau bagaimana caranya berterima kasih. Kegiatan dan semua percakapan yang Nara lakukan di rumah itu sedang di perhatikan oleh Jaden yang berada di kamarnya.
"Gadis yang polos sekali, tapi kasihan sekali nasibnya sungguh tidak baik," dialognya sendiri.
Nara masih terdiam dan dia kembali melihat pada Bi Ima yang sedang menyiapkan makanan. "Bi, aku juga mau bertanya? Apa Bibi yang menggantikan bajuku?" Wanita paruh baya itu tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya.
"Bi, kenapa aku bisa berada di sini? Siapa orang-orang yang kemarin membawaku? Kenapa mereka menculikku?"
Tangan wanita itu terhenti dan menatap Nara. "Kamu makan saja, dan semua pertanyaan kamu bukan porsiku untuk menjawabnya." Wanita paruh baya itu berjalan pergi dari sana.
Nara tampak heran, ada apa dengan semua ini? Dia melihat makanan di depannya dan dia mengendusnya sedikit. "Baunya enak, tapi jangan-jangan ada obat tidurnya, dan nanti aku makan, aku tertidur dan tiba-tiba wanita yang terlihat baik itu malah memotong-motong aku seperti di film yang aku lihat itu. Film psikopat." Nara malah berkhayal sendiri.
__ADS_1
Dia beranjak dari tempatnya dan ingin segera kabur saja dari rumah itu. Dia mengendap-endap mencari lagi pintu keluarnya sampai akhirnya ada salah satu penjaga yang kemarin ikut dalam aksi penculikannya melihat dan Nara yang juga melihat penjaga itu langsung cepat-cepat kabur.
"Hei! Berhenti!" teriak penjaga itu dan dia lari untuk mengejar Nala.