Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Pengakuan Dimas


__ADS_3

Diaz mendekatkan dirinya pada Denna karena penasaran dengan sahabatnya itu.


"Kamu sedang cemburu ya sama Dimas?" Telisik Diaz.


"Cemburu? Cemburu sama siapa? Kenapa bicara kamu sama seperti pertanyaan Dimas?"


"Oh ...! Jadi Dimas juga bilang kalau kamu sedang cemburu? Berarti dia merasa kamu memang cemburu sama dia." Diaz ini malah meledek terus pada Denna yang sedang kesal.


Denna beranjak dari tempat duduknya dengan wajah malas. "Kamu mau ke mana, Denna?"


"Mau ke ruang poli anak. Males aku bicara sama kamu. Kamu tidak peka dengan perasaan sahabat kamu sama seperti Dimas."


Diaz malah terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Denna. Denna berjalan dengan melamun di lorong menuju poli anak, dia sengaja tidak naik lift karena dia ingin memikirkan tentang perasaannya pada Dimas.


"Apa benar aku cemburu? Tapi kenapa? Dimas itu bukan kekasihku. Kenapa aku malah cemburu?"


"Denna, awas!" sebuah tangan menarik Denna yang sedang melamun saat ada beberapa suster mendorong ranjang rumah sakit pasien yang harus segera dipindah ke ruang ICU.


"Aduh!"


"Kamu tidak apa-apa, kan? Maaf sampai dahi kamu terbentur dadaku." V mengusap bahkan meniup dahi Denna yang agak memar.


Denna mendongak melihat wajah V dari dekat. "Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku ketiga kalinya ini. Apa aku memang sangat menyusahkan kamu, Ya?"


"Jangan bilang begitu. Aku malah senang jika bisa terus menjadi malaikat penolong kamu."


"Aku sudah memiliki guardian angel," ucap Denna sangat lirih mengingat Dimas.


"Kamu bicara apa, Denna?" tanya V yang tidak mendengar apa yang Denna katakan.


"Tidak ada apa-apa." Denna meringis lucu.


"Kamu sedang melamun apa sampai tidak melihat hal itu? Apa memikirkan tentang teman kamu yang bernama Evans itu?"


Denna menggeleng. "Aku tidak memikirkan apa-apa."

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir, dia tidak akan mengganggu kamu lagi. Jika dia terlihat di sini, aku akan ada untuk melindungi kamu, Denna." Tangan V memegang kepala Denna.


Denna merasa hal tulus yang V berikan padanya. "Terima kasih sekali lagi, V. Oh ya! Kamu mau ke mana?"


"Aku mau kembali ke kampus karena ada hal yang harus aku kerjakan. Kamu nanti pulang sama supir kamu?"


"Iya, memangnya kenapa?"


"Kalau tidak ada yang menjemput kamu, aku bisa menjemput kamu pulang, tapi naik motor." V tersenyum manis.


"Bukannya aku tidak mau, tapi aku pulang dengan mobilku saja karena aku tidak mau kedua orang tuaku berpikiran yang tidak-tidak. Kamu mengertikan?"


"Ya aku bisa mengerti maksud kamu. Ya sudah tidak apa-apa, kalau begitu aku pergi dulu. Bye Denna."


"Bye V." Denna melambaikan tangannya pada V sampai pria itu menghilang dari hadapan Denna. "Dia pria yang baik, dan memiliki banyak kesamaan denganku. Dia adalah cita-cita mamaku dulu yang tidak kesampaian. Seorang dokter yang pandai memasak. Kenapa aku tidak bertemu dengan V lebih dulu? Kenapa aku harus bertemu dengan Dimas dan jatuh cinta padanya," Denna berdialog dengan frustasi.


Sore itu, tepatnya jam lima sore. Denna dan lainnya selesai dengan praktiknya di rumah sakit. Dia berjalan menuju mobilnya di mana ada seorang pria yang membuat hatinya tidak karuan.


"Apa kamu menunggu lama? Aku minta maaf sudah membuat kamu menunggu lama, aku lupa tidak memberitahu kamu jika hari ini aku pulang agak sore."


Di dalam Denna langsung duduk terdiam setelah menggunakan sabuk pengamanannya. "Nona mau langsung pulang?"


"Iya, kita langsung pulang saja karena aku memang tidak memiliki kegiatan lainnya setelah kuliah."


"Dahi Nona Denna kenapa?" Tangan Dimas yang hendak menyentuh dahi Denna dengan cepat ditahan oleh Denna.


"Aku tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir." Denna membuang wajahnya kemudian setelah melepaskan tangan Dimas


Dimas terdiam sejenak, dia melihat Denna hari ini seolah kesal padanya. "Kita pulang sekarang."


Denna tidak menjawab dan Dimas mulai menjalankan mobilnya. Di hati Dimas merasa tidak tenang dan ada rasa tidak nyaman saat ini karena sikap Denna.


"Dimas, kenapa kita berhenti di sini?"


"Saya ingin mengajak Nona makan es cream sambil melihat matahari tenggelam.

__ADS_1


"Tapi--."


"Jangan bilang jika aku bisa melihatnya dengan Mitha karena saya dan Mitha sudah tidak ada hubungan apa-apa." Dimas dengan cepat memotong pembicaraan Denna dan turun dari mobilnya. Dia membukakan pintu untuk Denna.


Denna hanya memandangnya dengan tatapan heran. "Nona Denna mau turun sendiri atau saya yang menggendong Nona?"


"Aku bisa jalan sendiri. Jangan terlalu dekat denganku karena aku tidak mau dikira merayu kekasih orang lain." Denna turun dan berjalan duluan menuju tepi pantai yang indah dengan suasana sore yang indah.


Dimas pergi ke penjual ice cream yang ada di sana dan membeli dua buah ice cream. Dia kemudia menghampiri Denna dan memberikan ice cream coklat untuk Denna.


"Kenapa mengajakku ke sini?"


"Untuk menenangkan hati Nona yang sedang tidak baik-baik saja."


"Dari mana kamu tau kalau hatiku tidak baik-baik saja?" Denna sambil menikmati ice cream yang diberikan oleh Dimas.


"Tentu saja saya tau, sejak Mitha bertemu dengan kita waktu itu."


"Memangnya, apa hubungannya dengan Mitha? Aku tidak peduli kamu bertemu dengan Mitha atau tidak," ucap Denna seolah-olah dia tidak peduli dengan Mitha dan Dimas, dahal aslinya hal itu yang mengganggunya.


"Benarkah?" tanya Dimas dengan mencondongkan tubuhnya sembilan puluh derajat pada Denna.


Seketika gadis yang sedang menikmati ice creamnya itu terdiam dengan mata berkedip-kedip melihat pada Dimas. "A-aku--?" Denna tampak bingung ditatap seperti itu oleh Dimas.


"Saya sudah tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Mitha. Mitha adalah salah satu masa laluku, buka masa depanku karena masa depanku akan aku lalui dengan seseorang yang benar-benar membuatku jatuh cinta. Bukan hanya cinta sebentar yang singgah seperti apa yang saya rasakan pada Mitha."


"Jadi, ada orang lain yang benar-benar kamu cintai?" Dimas mengangguk. "Lalu, kenapa kamu ceritakan padaku? Aku juga tidak peduli jika kamu memiliki seseorang yang sangat kamu cintai. Itu urusan kamu."


Denna yang rasanya ingin menangis mendengar hal itu, dia berjalan berbalik arah ingin menjauh dari Dimas.


"Bagaimana jika saya katakan jika gadis yang aku cintai adalah kamu, Nona Denna?" teriak Dimas.


DEG!


Langkah Denna seketika berhenti mendengar apa yang baru saja diteriakkan oleh Dimas. Jantung Denna seolah berdetak sangat cepat. Denna mencoba menenangkan hatinya yang kebat-kebit tidak karuan, apa lagi dia merasakan langkah Dimas mendekat ke arahnya berdiri sekarang.

__ADS_1


Pria yang barusan membuat hatinya tidak karuan sekarang berdiri tepat di depannya.


__ADS_2