
Nenek meninggalkan Denna dan Dimas di ruang keluarga berdua agar mereka bisa bicara dan menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.
Denna duduk di sofa panjang dan Dimas tepat di depannya. Pria itu melihat terus pada gadis yang sedang melihat ke dalam ponselnya.
"Siapa teman spesial yang tadi nenek maksud, Nona Denna?"
"Dia salah satu dokter muda yang baru beberapa hari berkenalan denganku dan dia bahkan pernah menolongku." Denna berbicara tanpa melihat pada lawan bicaranya.
"Menolong kamu?"
Denna meletakkan ponselnya dan melihat pada Dimas. "Iya, dia beberapakali pernah menolongku, saat awal aku masuk ke rumah sakit itu. Ada pot bunga yang hampir menimpaku, tapi dengan cepat dia menarikku dan memelukku." Denna sengaja mengatakan hal itu karena ingin membuat Dimas cemburu.
Dimas hanya tersenyum kecil menanggapi hal itu. Dimas tau jika gadisnya itu sengaja ingin membuatnya cemburu, dan iya, Dimas cemburu, tapi dia bisa menyembunyikannya.
"Apa Nona menyukainya?"
Denna kesal dengan pertanyaan Dimas. Dia beranjak dari tempatnya dan mendekat pada Dimas. "Jika aku mencintainya, aku tidak akan mau menerima ajakan kamu keluar yang ternyata kamu hanya mempermainkan aku."
"Saya tidak mempermainkan Nona Denna" Dimas berdiri di depan Denna dan menatapnya lekat. "Tentang hari ini, di mana saya datang terlambat karena Mitha tiba-tiba datang ke rumah. Dia ingin mengajakku jalan-jalan, tapi aku bilang jika aku ingin pergi dengan kekasihku. Dia mau pergi, tapi tiba-tiba dia pingsan dan aku akhirnya membawanya ke rumah sakit. Ponselku tertinggal di rumah. Aku menjaga Mitha sampai keluarganya datang."
"Kamu pasti khawatir sama Mitha. Dia mungkin masih sangat mencintai kamu, terlihat dari postingan dia."
"Aku hanya simpati padanya. Dia cerita masih terus merasa sedih teringat tentang kedua orang tuanya yang sudah tiada. Selain itu tidak ada lainnya."
"Dia membutuhkan kamu, Dimas karena kamu orang yang berarti baginya. Dia menganggap kamu kebahagiannya. Mungkin kamu seharusnya bersama dengannya." Denna hendak pergi, tapi pria itu menahannya dengan memeluknya dari belakang. "Dimas," ucap Denna lirih.
"Jangan bicara seperti itu, Nona Denna. Saya mencintai Nona Denna." Dimas mengeratkan pelukannya. "Bahkan saya mau bicara secepatnya dengan Tuan Jaden-- Ayah Nona."
Denna seketika membalikkan badannya menghadap Dimas. "Jangan secepat itu mau bicara sama ayahku! Dimas kita jalani saja dulu. Aku juga belum siap jika ayah mengetahui hal ini."
"Baiklah, saya akan menurut pada Nona Denna saja. Sekarang, kita tidak ada salah paham lagi, kan?"
"Jangan sering bertemu dengan Mitha lagi. Aku cemburu kalau kamu sering bertemu dengannya."
"Tidak enak, kan rasanya cemburu? Itu yang saya rasakan saat Nona Denna bercerita tentang teman spesial Nona itu."
"Jadi kamu cemburu?" goda Denna, tapi pria itu hanya menunjukkan wajah datarnya. "Menyebalkan sekali mukanya. Katakan kalau kamu cemburu?" Dimas malah menggelengkan kepalanya.
"Apa hal itu perlu dikatakan?"
Denna yang kesal memeluk pinggang Dimas. "Perlu! Agar aku tau kamu cemburu. Cemburu itu, kan, tandanya cinta."
__ADS_1
"Apa benar tentang hal itu? Ada yang cemburu, tapi ternyata dia selingkuh dan ternyata pura-pura. Cemburu bukan berarti cinta."
"Susah memang harus menjelaskan sama pria yang memiliki sifat aneh seperti kamu. Tidak ada romantisnya." Denna melepaskan pelukannya.
"Nona Denna, saya mau izin pulang dulu karena sudah malam. Tidak baik aku di rumah Nona sampai malam hari. Nona Denna juga harus beristirahat."
"Kan, tidak ada manisnya sama sekali."
Dimas mengecup kening Denna dengan cepat. "Tolong panggilkan nenek Miranti karena saya mau pulang."
"Dimas, bisa tidak kamu jangan memakai kata saya? Pakai aku kamu saja. Aku tidak akan marah dengan hal itu."
"Apa nanti saya tidak dianggap lancang, jika Tuan Jaden mendengarnya?"
"Nanti biar aku yang menjelaskan sama ayahku."
Dimas mengangguk dan Denna memanggilkan nenek supaya Dimas bisa izin pulang.
"Hati-hati di jalan. Dimas, tolong jaga baik-baik Denna dan jangan mengecewakan kepercayaan yang nenek berikan sama kamu."
"Saya akan berusaha, Nek. Nona Denna adalah juga prioritas utama saya."
"Sekali lagi terima kasih."
"Tidak apa. Aku hanya ingin cepat sampai ke sini untuk menjelaskan semuanya sama kamu."
"Kapan-kapan aku mau dibonceng naik motor sama kamu."
"Nona yakin?"
"Yakin. Memangnya kenapa? Apa aku tidak pantas naik motor kamu?"
"Bukan begitu, Nona. Nona tidak pernah naik motor, aku takut Nona Denna nanti malah takut."
"Asal kamu bersamaku, aku tidak takut."
"Baiklah, besok akan saya antarkan Nona dengan naik motor."
"Kamu serius?" tanya Denna dengan kedua mata membulat.
"Serius. Tunggu aku besok."
__ADS_1
Denna menggenggam tangan Dimas. "Hati-hati di jalan. Aku mencintaimu, Guardian Angelku."
Dimas hanya memberikan senyumnya. Lalu, dia naik ke atas motornya dan pergi dari sana.
"Dimas memang unik bin aneh. Ucapanku tidak dibalas. I love you too atau aku juga mencintai kamu, Denna. Kadang romantis, kadang banyak menyebalkannya," Denna ngomel sendiri.
Dia berjalan masuk ke dalam rumah dan bertemu nenek yang memperhatikannya.
"Kamu sangat mencintai pria itu ya?"
"Aku sangat mencintainya, Nek. Aku sendiri tidak tau, kenapa aku bisa jatuh cinta pada Dimas?"
"Cinta itu penuh misteri. Kita tidak akan tau di mana dia akan menuntun kita pada seseorang."
Dimas belum tidur sampai jam satu dini hari. Dia sedang menunggu adiknya yang belum datang.
"Ke mana V? Dia tidak pernah pulang sampai larut begini?"
Tidak lama orang yang dia tunggu datang dengan wajah bahagia.
"Kakak? Kenapa Kakak belum tidur?"
"Aku menunggu kamu V. Kamu dari mana?" Dimas membolak-balikkan badan V dan mengendusnya.
"Kakak ini kenapa?"
"Aku sedang memeriksa kamu, apa kamu habis minum-minum atau tidak."
"Kakak, aku tidak akan merusak tubuhku sendiri dengan minuman seperti itu. Kakak lupa kalau aku ini seorang dokter? Aku tau hal seperti itu tidak baik untuk kesehatan, jadi tidak akan aku lakukan."
Dimas bersidekap dengan wajah garangnya. "Kalau begitu kamu katakan, kamu dari mana?"
"Aku dari rumah kakek dan nenekku. Aku menemui ayahku dan kami menghabiskan waktu bersama.
"Kenapa tidak menghubungi dan memberitahuku? Kakak khawatir dengan kamu."
"Aku minta maaf, Kak. Sekarang kita tidur saja. Aku sudah lelah." V memeluk kakaknya dan berjalan menuju kamar masing-masing.
Pagi itu Denna sedang sarapan pagi dengan neneknya. Setelah makan pagi, dia izin pergi ke rumah sakit seperti biasa.
"Ini pengalaman pertamaku naik motor. Sebenarnya nenek tidak mengizinkan, tapi aku sudah meyakinkan nenek kalau aku akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Siap-siap terkena marah aku nanti."
"Tidak akan. Aku yamg memintanya, jadi kamu tidak perlu cemas. Kita berangkat sekarang."