
Di luar kantor kepolisian itu ada sebuah mobil hitam terparkir dan tampak seorang pria berkacamata hitam duduk tepat di depan jendela kaca.
Ada benda pipih yang sedang dipegangnya dan dia sedang menatap serius pada arah gedung kepolisian.
"Habisi saja saksi itu jika dia takut pada Jaden, maka permainan ini akan semakin seru nantinya."
Setelah menutup panggilan teleponnya dia tersenyum senang. "Aku akan benar-benar menghancurkan kamu, Jaden Luther. Istrimu akan menangis darah karena hal ini.
Jaden keluar dari ruang pemeriksaan. Nara seketika memeluk suaminya itu. Jaden masih dibebaskan karena bukti yang mengarah padanya tidak begitu kuat. Pengacara Jaden Luther juga sudah hadir di sana.
"Saya aku rutin untuk datang ke sini membuat laporan."
"Itu yang kamu harapkan. Untuk sementara ini kami juga akan terus mengawasi Anda, Tuan Jaden."
"Tidak masalah karena memang bukan saya pelakunya, jadi saya tidak takut," ucap Jaden tegas.
"Terima kasih, kalau begitu Anda boleh pergi sekarang."
Jaden keluar dari kantor kepolisian dan pria di dalam mobil itu melihatnya. Tangannya tampak mengepal erat dan kedua rahang tirusnya tampak mengeras.
"Permainan belum selesai Jaden Luther. Setelah ini aku akan membuat kamu benar-benar mendekam dalam penjara."
Mobil itu pergi dari sana. Jaden dan Nara pulang ke rumah. Nenek membuatkan minuman hangat untuk mereka. Jaden tampak berdiri terdiam di tempatnya.
Nara yang melihat jadi merasa bersalah. "Sayang, aku minta maaf. Aku sudah salah sudah meragukan kamu." Nara memeluk Jaden erat dan sekali lagi menangis.
"Tidak apa-apa. Kamu tidak salah jika meragukan aku. Memang aku adalah orang yang memiliki dendam paling besar pada Mona. Jujur saja aku ingin berterima kasih pada pria itu karena dia sudah mewujudkan keinginanku untuk melihat Mona hilang dari muka bumi ini karena aku sangat marah dia sudah membuat bayiku tidak bisa lahir di dunia."
Nara tampak kaget melihat wajah Jaden. "Tapi aku tidak melakukannya karena kamu, Nara."
Miranti tidak kaget mendengar apa yang di katakan oleh Jaden. Bagaimana pun juga itu didikan yang diajarkan oleh mendiang suaminya dulu. Tidak ada ampun bagi musuh yang sudah menyakiti anggota keluarganya.
"Si muka dingin!" teriak Renata dari luar, dia segera berlari dan memeluk Jaden dengan erat. Nara yang melihatnya agak sedikit terkejut. Jaden hanya diam membiarkan Renata memeluknya.
__ADS_1
"Kenapa kamu pergi tidak bilang-bilang dan sekarang aku malah mendengar berita tentang kamu yang di tuduh membunuh gadis brengsek itu." Renata malah menangis.
"Kamu tau dari mana?"
"Leo, menceritakan semua padaku saat aku bertanya apa kamu menghubunginya. Aku tau kamu pasti bukan pelaku walaupun kamu pasti juga marah sama dia. Aku sendiri saja ingin menghabisi gadis itu saat tau Nara keguguran.
"Renata." Nenek menarik tangan Renata yang memeluk Jaden. Nenek Miranti tau hal itu tidak seharusnya dilakukan Renata karena di sana ada Nara.
"Nek, Nenek juga percaya kan kalau Jaden tidak melakukannya?"
"Nenek percaya. Bahkan pihak kepolisian sudah membuktikan jika Jaden tidak bersalah dan masih terus menyelidiki siapa yang menyuruh pria itu.
"Nek, aku pergi ke ruang kerja dulu, ada hal yang harus aku lakukan."
Nara melihat suaminya yang tampak datar berjalan pergi dari sana. Nara mungkin berpikir jika Jaden pasti marah karena dia sempat meragukan suaminya.
"Nara, bagaimana kabar kamu?" Renata memeluk Nara sekarang.
"Aku baik, Renata. Kamu sendiri bagaimana kabar kamu?"
"Maaf, jika aku dan Jaden tidak memberitahu kamu."
"Tidak apa-apa. Nara, aku juga mengucapkan turut bersedih atas meninggalnya saudara sepupu kamu itu. Walaupun aku membencinya sama seperti Jaden."
"Iya, terima kasih." Nara masih kepikiran tentang sikap Jaden.
Di dalam ruang kerjanya. Jaden sedang berdiri menatap foto besar yang ada di sana. Dia tampak memandang datar foto di depannya.
"Apa kamu yang melakukan semua ini? Kamu pasti marah dengan apa yang sudah aku lakukan sama kamu. Aku tidak bisa menyentuh kamu karena aku ingat pesan kakek padaku," Jaden berdialog dengan terus menatap foto keluarga besarnya. Di mana dalam foto itu ada kakek, nenek, kedua orang tua Jacob, Jacob dan Jaden.
Tidak lama terdengar suara pintu ruang kerja diketuk oleh seseorang dari luar.
"Masuk," ucap Jaden dan dia masih berdiri di sana.
__ADS_1
"Sayang, kamu sedang apa?" Nara melihat suaminya berdiri di depan foto keluarganya.
"Aku hanya mengajak bicara kakekku saja, dengan begitu hatiku lebih tenang."
"Sayang, apa kamu marah padaku?" Nara mencoba merayu Jaden dengan memeluk suaminya itu.
"Aku sudah bilang, aku tidak marah padamu. Aku hanya kesal saja sama kamu."
"Iya, aku tau, aku minta maaf sama kamu." Nara mendongak melihat wajah suaminya yang menunduk menatapnya datar. "Jangan diam begitu. Katakan sesuatu."
"Tidak ada yang mau aku katakan sama kamu."
"Jangan begitu. Katakan saja jika kamu mencintaiku." Nara meringis.
Jaden tidak menjawab hanya terdiam melihat wajah istrinya. "Tidak mau!"
"Apa? Tidak mau? Apa karena sikapku yang sempat ragu sama kamu, jadi kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"
"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang tidak mau mengatakan apa yang kamu suruh."
"Ya sudah kalau kamu marah padaku." Nara melepaskan pelukannya.
Jaden hanya berdiri terdiam di sana. "Apa kamu sangat mencintaiku?" tanya Jaden kemudian.
Nara menghentikan langkahnya dan menoleh pada Jaden. "Sangat, bahkan aku takut kehilangan kamu. Nyawaku pun akan aku berikan jika harus di tukar dengan nyawa kamu. Apa kamu tau? Setiap hari aku selalu tidak bisa tidur dengan tenang, selalu takut jika kamu akan terluka." Nara mengatakan hal itu dengan mata berkaca-kaca.
Jaden menarik tangan Nara mendekat padanya kemudian mengecup lembut bibir Nara. "Jangan pernah meragukan aku walaupun sedikit pun."
Nara kemudian meneruskan kecupannya pada Jaden. Beberapa menit mereka saling mengecup di sana. Sampai akhirnya Jaden melepaskan ciumannya karena pintu diketuk oleh seseorang dari luar.
Salah satu maid di sana memberitahu Jaden jika nenek dan yang lainnya sudah menunggu mereka untuk makan bersama.
Di meja makan Nene terlihat senang melihat wajah beda dari Jaden dan Nara. Kelihatannya mereka sudah lebih baik sekarang keadaannya setelah tadi nenek tau jika Jaden dan Nara sedang ada hal yang mengganggu mereka.
__ADS_1
"Tuan, saya akan segera menemukan informasi tentang pria itu. Setelah kita tau siapa dia. Kita pasti akan segera mengetahui siapa yang memerintahkannya."
"Iya, Leo. Aku tau kamu pasti bisa diandalkan."