
Jaden masih terdiam melihat pada wanita yang berdiri memegang payung di depannya. "Apa dulu juga kita pernah kenal?"
"Tentu saja pernah. Kamu pasti lupa, aku Renata atau biasa dipanggil Rena dan dulu kita juga pernah bermain bersama. Kamu, aku dan Jacob adik kamu. Apa kamu ingat?"
Jaden mencoba mengingat sesuatu dan ternyata dia ingat dengan gadis kecil yang suka sekali memakai jepit rambut yang sangat banyak di kepalanya.
"Oh! Kamu si penjual jepit rambut itu, Ya?" celetuk Jaden.
Terdengar tawa riang wanita yang ada di depannya. "Kenapa yang kamu ingat malah hal yang bagiku menyebalkan saat kamu memanggilku si penjual jepit rambut."
"Karena memang hal itu yang aku ingat. Aku permisi dulu kalau begitu." Jaden melangkah pergi dari sana, tapi wanita itu malah mengejarnya sambil terus memberikan payung pada Jaden.
"Jaden, tunggu!" panggil wanita itu, tapi Jaden tidak mendengarnya.
Bruk!
Wanita itu malah terjatuh akibat tidak melihat jalan yang ada di depannya. "Aduh!" Erangnya kesakitan
Jaden mendengar hal itu dan dia melihat wanita itu berada di tanah dengan basah kuyup karena payungnya terbang entah ke mana.
Jaden berjalan mendekat dan tanpa basa basi dia menggendong wanita itu ala bridal style dan berjalan menuju di mana mobil wanita itu berada. Kedua mata wanita itu tidak lepas melihat Jaden yang sedang menggendongnya.
"Apa ini mobil kamu?" Wanita itu mengangguk dan Jaden menurunkannya.
"Terima kasih."
"Pulanglah, maaf aku tidak bisa mengantar kamu pulang." Jaden dengan wajah datarnya pergi dari sana dan masuk ke dalam mobilnya lalu pergi dari sana.
Wanita itu masih berdiri di depan mobilnya dengan air hujan masih membasahi tubuhnya. Dia membuka pintu mobilnya dan tertatih duduk di kursi kemudi.
"Huft! Kenapa jantungku berdetak cepat seperti ini saat tadi digendong oleh Jaden? Apa perasaan waktu kecil itu masih terasa sampai sekarang? Dia tidak berubah, masih saja dingin seperti dulu, tapi dia masih tetap mempesona," ucap Gadis itu sambil tersenyum.
Di dalam kamar rawat itu Nara tampak terdiam dan tidak lama terdengar Isak tangis dari Nara.
Jaden yang kaget langsung menarik tubuh Nara dan melihat mata Nara yang penuh air mata.
"Kamu kenapa, Nara? Apa kata-kataku ada yang menyakiti kamu?"
"Jadi dulu dia teman bermain kamu?"
__ADS_1
"Iya, dia juga teman Jacob, tapi aku tidak terlalu dekat dengan mereka karena aku jarang bermain. Aku lebih suka berlatih menembak atau latihan bertarung dengan pengawal kakekku lainnya."
"Kesibukan yang aneh," gerutu Nara.
"Itukan lebih baik daripada aku bersenang-senang dengan banyak gadis atau menghabiskan waktuku di club malam seperti Jacob."
"Jacob? Apa maksud kamu Jacob suka minum dan menghabiskan waktu di club malam?" Nara melihat penasaran pada Jaden.
"Iya, tapi hal itu biasa dilakukan oleh anak remaja di sana. Sudahlah jangan membahas tentang masa laluku. Aku tidak suka."
"Tuan JL, Tuan tidak pernah menyukai wanita bernama Renata itu, kan, waktu kecil?"
"Tidak pernah," jawab Jaden singkat.
"Yakin tidak pernah?"
"Yakin."
"Apa tidak ada pernah terlintas sedikitpun rasa cinta sama dia? Sedikit." Kemarin telunjuk dan jempol Nara menyatu menggambarkan suatu benda yang sangat kecil.
Jaden mengambil napas panjang kemudian mengembuskan. "Tidak pernah, Nara! Gadis yang membuatku berubah bukan seperti Jaden pada umumnya hanya kamu. Apa ada yang mau kamu tanyakan lagi," tutur Jaden dengan wajah seriusnya.
"Aku juga mencintaimu, Nara, walaupun beberapa hari ini kamu benar-benar menguras emosiku."
"Kenapa? Kesal padaku? Marah?"
Ini Jaden Nara mulai kumat lagi. Dia mencoba bersikap manis pada Nara. "Aku tidak marah, aku paham akan keadaan kamu." Jaden mengecup lembut kening Nara.
Tidak lama ada Perawat yang datang untuk memberikan suntikan pada infus Nara. Jaden yang melihatnya tampak tidak tega pada Nara dan memegangi tangan kekasihnya itu.
Setelah itu sarapan pagi Nara datang dan nanti Nara akan diperiksa oleh dokter Stella
"Mau aku suapin?" tanya Jaden, dan Nara mengangguk perlahan.
Nara makan dan ditemani oleh Jaden. Nara tampak lahap menghabiskan makanannya.
Jaden tampak senang melihat Nara mau makan dengan banyak. "Tuan JL, kalau kita nanti menikah, paman dan bibiku pasti harus datang. Apa lagi pamanku harus menjadi wali di acara pernikahanku."
Jaden melihat pada Nara dengan tatapan sedang memikirkan sesuatu. "Nanti kita bicarakan dengan nenek saja. Aku inginnya mereka tidak perlu datang di acara pernikahan itu."
__ADS_1
"Iya, aku juga tidak berharap dia datang, entah kenapa aku sakit hati kalau memikirkan tentang apa yang dilakukan oleh pamanku, walaupun pada akhirnya karena pamanku juga kita bertemu dan akan menikah."
"Terserah kamu saja mau mengundangnya apa tidak."
Nara mengangguk perlahan. Tidak lama Nara kembali merasakan mual pada perutnya dan dia ingin sekali muntah.
"Oh Tuhan! Kenapa mau muntah lagi?" Jaden tampak kecewa mukanya karena dia dari tadi yang menyuapi Nara.
Jaden menggendong Nara ke dekat wastafel yang ada di dekat pintu kamar mandi.
"Jaden, Nara, ada apa?" tanya Nenek yang baru datang dengan Leo.
"Nara mau muntah lagi, Nek."
"Nara nenek membawa sup ayam buatan Nenek. Leo bilang kamu suka sekali sup ayam."
Nara melihat pada Mas Leo dan seketika mual Nara ilang. "Mas Leo, mau suapi aku sup ayamnya?"
"Apa?" Jaden langsung mendelik saja. Leo yang melihat wajah sangar Jaden langsung meringis lucu.
"Ya sudah! Biar Leo menyuapi Nara. Sepertinya calon anak kamu itu suka pada Leo. Dia tau jika dia memiliki seorang paman yang sangat baik kelak." Tangan Nenek Miranti mengusap lengan tangan Leo.
"Kenapa dia malah suka pada Leo? Ayahnya itu aku." Wajah Jaden ditekuk.
"Dia mungkin takut sama ayahnya yang jarang sekali tersenyum, bahkan tidak lembut," ejek Nara.
"Lembut bagaimana? Aku sudah berkata dengan sangat kalem dan sabar sama kamu."
Nara mengerucutkan bibirnya kesal. Nenek yang melihatnya lagi-lagi hanya bisa menghela napas kecil melihat pada Leo.
"Nara, aku suapi sekarang saja karena supnya masih hangat." Leo mencoba mengalihkan perhatian Nara dan Jaden sebelum mereka bertengkar lagi.
"Nek, soal rencana pernikahanku, sebaiknya kita tunda bulan depan saja sampai keadaan Nara benar-benar baik."
"Iya, Nenek juga ingin mengatakan hal itu. Lalu, apa kamu sudah bicara di dengan Nara kalau pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan?"
"Belum, Nek. Tadi kami hanya bicara tentang nanti apa harus mengundang paman dan bibi Nara ke acara pernikahan itu?"
Nenek berpikir sebentar. "Tentu saja. Jaden, sebenarnya nenek sudah mencari di mana sekarang paman dan bibi Nara tinggal saat kamu bilang bahwa Nara hamil anak kamu. Paman Nara harus hadir untuk menjadi wali Nara nantinya. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga Nara."
__ADS_1