
Jaden memasukkan obatnya pada bibir Nara kemudian dia mengecup lembut bibir Nara, gadis itu tidak bergerak dari tempatnya. Saat Jaden melepaskan ciumannya Nara malah memejamkan kedua matanya seolah dia menikmati ciuman Jaden.
Tangan pria itu mengusap lembut pipi Nara sampai gadis itu membuka kedua matanya.
"Kamu jangan pernah berpikiran akan pergi dariku, Nara. Jika kamu pergi, maka akan aku cari kamu sampai ke ujung dunia sekalipun, bahkan setiap planet di bumi ini akan aku datangi," ucap Jaden terdengar serius dan tegas.
Nara terdiam sejenak, dan matanya masih menatap pria di depannya. "Memangnya aku alien sampai nyasar di planet?" Nara mengerucutkan bibirnya.
Jaden yang mendengar dan juga melihat wajah Nara seperti itu tersenyum kecil, dan sekali lagi Jaden mengecup bibir Nara.
"Aku sepertinya sudah tidak punya tempat lagi bersembunyi di bumi ini dari kamu, jadi aku tidak akan bisa ke mana-mana selain pulang ke sini."
"Bagus kalau kamu memiliki pemikiran seperti itu." Jaden mengusap pipi Nara lembut. "Ini uang yang dapat kamu gunakan untuk belanja." Jaden memberikan dompet besar dan terasa berat.
Nara membuka dompet dengan resleting besar juga dan kedua mata Nara mendelik melihat begitu banyak uang yang ada di dalamnya.
"Kenapa banyak sekali? Memangnya Tuan mau menyuruhku membeli bahan masakan beserta pasarnya?"
"Kamu gunakan semaumu, beli semua yang kamu butuhkan dan sisanya kamu bawa saja."
Kedua alis Nara mengkerut. "Untuk apa uang sebanyak itu buatku? Lagian aku tinggal di sini dan Tuan sudah sediakan semua."
Nara mengambil beberapa lembar uang berwarna merah yang sudah dia perhitungkan. "Kenapa diambil sedikit sekali?"
"Ini sudah cukup, Tuan, dengan uang segini aku sudah bisa membuat kulkas kamu penuh bahan masakan dan lainnya. Lagi pula kalau aku bawa uang banyak nanti aku takut di rampok."
"Coba saja perampok itu berani melakukannya. Dia tidak akan memilik tangan untuk menggaruk punggungnya."
Nara lupa deh kayaknya siapa Jaden ini. Pintu ruangan Jaden di ketuk oleh seseorang dan ternyata itu mba Sandra. Mba Sandra sudah tampil cantik untuk berangkat berbelanja.
"Tuan, bagaimana dengan penampilanku?'" tanya Sandra.
__ADS_1
Jaden melihat dari atas sampai bawah. "Bagus," jawab Jaden singkat.
"Apa kamu menyukai penampilanku seperti ini?" Sandra sengaja ingin membandingkan penampilannya yang super rapi dan cantik dengan Nara yang biasa saja, apa lagi tanpa make.
"Tidak suka," sekali lagi jawab Jaden singkat, tanpa basa basi.
"Apa? Tidak suka?" tanya Sandra heran dengan jawab Jaden.
Nara yang di sana juga heran mendengar jawaban Jaden, dan Jaden kenapa tadi malah dengan santainya mengatakan tidak suka dengan penampilan mba Sandra yang terlihat cantik hanya saja sepertinya salah kostum. Ini mereka bukan mau ke pusat perbelanjaan yang berada di dalam mall besar, tapi di pasar tradisional.
Mba Sandra yang sudah mengetahui hal itu tidak seharusnya memakai dress sepan selutut apa lagi dengan menggunakan sepatu dengan hak yang tidak terlalu tinggi sebenarnya, tapi apa perlu memakai itu? Kalau tidak punya sandal atau sepatu kets bisa pinjam Nara. Ukuran kaki Mba Sandra pasti muat.
"Aku tidak terlalu suka dengan wanita yang berpenampilan terlalu glamor dan menonjol, aku lebih suka yang biasa. Lebih terlihat natural." Jaden melihat pada Nara.
Nara tampak bingung karena Jaden seolah sedang membandingkan dirinya dengan mbk Sandra dan Nara tidak mau menyakiti hati mba Sandra.
"Apa aku harus berganti baju?"
Nara mengajak mba Sandra menuju pintu keluar. "Nara!" panggil Jaden sebelum melangkah keluar dari dalam ruang kerja Jaden.
"Ada apa, Tuan?" tanya Nara kembali menoleh ke arah pria itu.
"Kamu tidak perlu membeli buah pisang lagi karena aku tidak membutuhkannya lagi."
Nara yang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Jaden tampak merona merah pipinya menahan malu.
"I-iya, Tuan." Nara segera berjalan keluar karena dia merasa sangat malu.
Mba Sandra dan Nara masuk ke dalam mobil dan mereka diikuti satu lagi mobil yang berisi para pengawal Jaden.
Sesampai di tempat yang di maksud Nara dan Mba Sandra segera turun. "Ya ampun! Baunya kenapa langsung tercium?" Sandra menutup hidungnya.
__ADS_1
"Memang pasar tradisional seperti ini, Mba, tapi ini lumayan besar dari pada di tempatku." Nara tampak senang, dia malah menghirup udara dalam-dalam. Nara bagaikan burung yang baru di lepas dari sangkarnya.
"Ayo, Mba Sandra kita pergi sekarang." Nara menggandeng tangan Mba Sandra.
Sandra melepaskan gandengan tangan Nara. "Aku jalan sendiri saja." Sandra melihat ada tiga pengawal yang siap ikut mereka masuk. "Nara, apa kita harus membawa mereka masuk? Nanti yang ada kita dikira komplotan perampok di dalam. Sebaiknya kita berdua saja dan mereka menunggu di sini."
"Tapi mereka tidak akan mau, bukannya Tuan Jaden sudah menyuruh mereka untuk melindungi kita."
"Melindungi dari apa? Roy sudah tidak ada. Kalau kita masuk dengan mereka yang ada kita malah jadi bahan tontonan. Kamu coba bicara sama kepala penjaga itu, bukannya kamu kenal baik sama bapak itu," Mereka berdua bicara sambil berbisik.
Nara terdiam sejenak. Benar juga apa kata mba Sandra, kalau mereka masuk dengan para penjaga yang penampilannya seram begini bisa-bisa dikira mereka komplotan perampok atau orang penting yang ditakuti. Nara, kan, tidak mau membuat heboh pasar itu.
"Pak, apa sebaiknya Bapak dan para pengawal lainnya tidak perlu mengikutiku sampai ke dalam. Kalian menunggu di sini saja. Tidak enak lagian di dalam tempat para wanita belanja dan aku tidak apa-apa belanja sendiri."
"Iya, ada aku yang akan menemani Nara. Aneh sendiri kalau kita belanja di pasar tradisional begini harus diikuti oleh para pengawal begini."
"Maaf, Nara, tapi ini perintah Tuan Jaden. Nanti kalau Tuan Jaden marah sama kita bagaimana?"
"Bapak tenang saja, aku tidak akan apa-apa, dan aku pastikan Bapak tidak akan dapat masalah. Setelah semua aku beli aku akan segera kembali ke sini."
Kepala penjaga itu percaya pada Nara. Nara bukan gadis yang akan membuat orang lain dalam masalah.
"Baiklah kalau begitu, tapi bawa satu saja pengawal untuk mengikuti kamu dari jauh. Bagaimana?"
"Baiklah."
Mereka bertiga masuk ke dalam pasar, dan satu pengawal mengawasi Nara dari belakang dan menjaga jarak dengan Nara dan Mba Sandra.
Nara sudah mencatat apa saja yang akan dia beli di dalam sana. Nara mendatangi satu persatu stand yang akan Nara beli. Sedangkan Sandra hanya bisa menutup hidungnya dan tampak kesal.
"Nara, aku mau mencari toilet dulu. Kamu tidak apa-apa, Kan ditinggal sendiri?"
__ADS_1