
Sandra mengetuk pintu kamar Jaden dan pria itu menyuruhnya masuk. Sandra tampak agak kaget melihat pria tampan yang sedang duduk di atas kursi rodanya tanpa menggunakan baju atasannya dan rambutnya tampak basah.
"Nara, tolong keringkan rambutku dengan handuk, dan ambilkan baju gantiku," titahnya tanpa melihat siapa yang dia perintahkan.
Sandra mengambil handuk dan mulai mengeringkan rambut Jaden dengan perlahan, dan tangannya mulai memijit kepala Jaden.
"Kamu pandai sekali memijit kepalaku, Nara.
"Aku bisa apa saja, Tuan Jaden, tapi sayangnya aku bukan Nara," ucap Sandra yang membuat Jaden terkejut.
"Sandra? Sedang apa kamu di sini? Mana Nara?"
"Nara sedang berdua bersama kekasihnya."
"Apa? Kekasihnya? Siapa maksud kamu?" Wajah Jaden seketika berubah serius.
"Kenapa wajah kamu terkejut begitu? Pelayan kamu itukan berhak memiliki kekasih."
"Aku tidak memperbolehkan dia memiliki kekasih karena dia harus fokus bekerja di tempatku."
"Tapi suatu saat nanti Nara juga akan memiliki seseorang yang akan menjadi masa depannya. Tidak mungkin Nara akan terus menjadi pelayan kamu." Sandra duduk dengan santai di depan Jaden.
"Dia akan mengikuti aturanku, dan dia akan menikah jika aku mengizinkan dia," terang Jaden tegas.
"Wow! Dia seperti tahanan kamu saja, Tuan Jaden."
"Sandra, apa tugas kamu di sini untuk melakukan terapi padaku, atau ingin mengurusi kehidupan Nara?"
Jaden mengambil tablet miliknya dan melihat di mana Nara berada. Nara ternyata sedang bersama dengan Leo di dapur, dan mereka berdua tampak sangat akrab.
"Dia sedang bersama dengan asisten pribadi kamu yang sangat baik itu, dan kelihatannya Leo menyukai Nara. Leo cocok sekali dengan Nara."
"Leo, panggil Nara ke kamarku. Sekarang!" Jaden melakukan panggilan pada Leo tanpa memperdulikan ucapan Sandra.
"Tuan Jaden, kenapa kamu memanggil Nara? Saya bisa membantu kamu. Saya juga sudah membawakan kamu makanan, tadi pagi saya sengaja memasak dan ini makanan sehat untuk kamu, Tuan Jaden." Sandra menunjukkan box makanan yang dia bawa.
"Terima kasih, tapi kamu tidak perlu repot-repot karena Nara pasti sudah menyiapkan makanan untukku."
__ADS_1
Tidak lama Nara masuk ke dalam kamar Jaden dan melihat Tuannya sedang duduk berhadapan dengan Sandra tanpa memakai atasan.
"Tuan, ada apa memanggil aku ke sini?"
"Dasar pelayan bodoh! Apa kamu lupa dengan tugas kamu seperti biasanya?" suara Jaden tampak meninggi. Nara yang tiba-tiba mendapat marah seperti itu rasanya ingin menangis, hatinya seperti tersayat pisau yang tajam. Padahal tadi pagi Jaden baru saja memeluk dan menciumnya, tapi kenapa tiba-tiba marah padanya.
"Maaf, tadi aku sedang membuat masakan di dapur, Tuan. Aku kira Tuan bisa melakukannya sendiri karena baju Tuan kemarin sudah aku siapkan di laci bawah dalam walk in closet," ucap Nara terbata.
"Aku tidak melihatnya, dan seharusnya kamu mengurusku lebih dulu, baru kamu bisa melakukan pekerjaan kamu lainnya."
"Tuan Jaden, saya bisa membantu kamu jika kamu ingin berganti baju."
"Itu tugas pelayanku, Sandra. Bukan tugas kamu, jadi kamu tidak perlu bersusah payah melakukannya. Tugas kamu di sini hanya untuk menerapiku."
"Mba Sandra, biar aku saja karena ini memang tugas seorang pelayan," ucap Nara.
"Kalau begitu saya akan keluar dulu." Sandra berjalan keluar.
Setelah melihat Sandra keluar. Nara segera mengambilkan baju Jaden di dalam lemarinya, dan membantu Jaden menggunakannya.
"Apa lagi yang harus aku lakukan?"
Nara mengambil handuk dan mengeringkan rambut Jaden yang sebenarnya sudah kering. "Sudah selesai," ucap Nara singkat sambil membereskan baju-baju Jaden yang kotor. Nara masuk ke kamar mandi dan membereskan semuanya. "Aku tidak boleh menangis. Aku tidak boleh menangis." Nara mengucapkan itu beberapa kali.
Nara kemudian keluar dan melihat pria yang membuatnya sedih itu sedang menatapnya. "Kamu kenapa?"
"Aku tidak apa-apa? Apa ada yang Tuan butuhkan lagi?"
"Siapkan aku makan pagi di kamar."
"Mba Sandra hari ini sudah membuatkan Tuan Jaden masakan yang enak. Aku akan membawakan makanan yang dibawakan oleh Mba Sandra."
"Memangnya kamu tidak memasak hari ini? Bukannya aku lihat tadi kamu sibuk di dapur dengan Leo."
"Tadi aku memang sedang memasak dibantu oleh mas Leo, tapi masakan aku belum selesai."
"Dasar tidak becus. Kamu dan Leo tidak memasak, tapi kalian pacaran bukan? Kamu harus ingat jika kamu di sini bekerja sebagai pelayan, jadi jangan berpikir untuk bersenang-senang atau mencari kekasih!" serunya marah.
__ADS_1
"Tuan JL tenang saja. Aku ingat tugasku di sini sebagai pelayan, dan mas Leo juga tidak akan menyukaiku karena aku hanya seorang pelayan."
"Bagus kalau kamu sadar dengan posisi kamu. Sekarang kamu siapkan aku makan pagi sekarang."
Nara tidak menjawab dia hanya langsung keluar dari kamar Jaden dan tentu saja dengan menghapus air matanya.
"Aku akan berbicara dengan Leo. Dia harus tau di mana posisinya."
Nara berjalan di dapur dengan malas dan Leo tampak bingung melihat Nara. "Nara, kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa Mas Leo. Aku mau menyiapkan makanan untuk Tuan JL." Gadis itu dengan malas mengambil piring dan gelas.
"Nara, biar aku yang menyiapkan makanan untuk Tuan Jaden. Bukannya aku sudah membuatkan dia masakan."
"Katanya dia tidak mau meminta-minta makanan pada orang lain karena ada aku pelayan dia yang sudah menyiapkan makanan."
"Bagaimana Tuan Jaden itu. Biar aku yang coba berbicara dengannya." Sandra berjalan menuju kamar Jaden.
"Mba Sandra itu kenapa memaksa sekali. Kalau Tuan Jaden tambah marah denganku bagaimana?" Nara tampak tidak bersemangat.
"Kamu habis dimarahi oleh Tuan Jaden?"
"Tuan Jaden tidak memarahiku, dia hanya mengingatkan siapa aku di rumah ini. Nara si pelayan Tuan Jaden." Nara duduk dengan malas.
"Kamu tidak perlu memasukkan dalam hati perkataan Tuan Jaden. Tuan memang kadang keterlaluan, tapi sebenarnya ada sisi baik dari dirinya."
"Bagiku dia pria arogan dan seenaknya sendiri. Aku ingin sekali sebenarnya keluar dari sini dan kembali seperti Nara yang dulu, tapi aku takut paman aku akan menjualku lagi, nanti aku malah beneran dijual pada mucikari. Semalam aku mimpi buruk dijadikan wanita penghibur di salah satu club malam oleh pamanku."
"Itu hanya mimpi, Nara. Selama kamu berada dalam lindungan Tuan Jaden dan tidak membuatnya kesal, hidup kamu akan aman selalu."
Nara tampak terdiam dan mendengarkan kata-kata Mas Leo, tapi ucapan Jaden tadi benar-benar masih membekas di hati Nara dan rasanya masih sangat sakit.
Tidak lama ponsel Leo berbunyi dan itu datang dari Jaden. Leo menjawabnya, dan ternyata Jaden menyuruh Leo ke kamarnya.
"Ada apa, Mas Leo?"
"Tuan Jaden menyuruhku ke kamarnya sekarang. Kamu jadi membawakannya makanan?"
__ADS_1
"Oh Tuhan! Aku lupa." Nara segera menyiapkan makanan untuk Tuan Jadennya.